
🚗Mobil Dean🚗
Setelah mendapatkan perhiasan yang pas untuk acara sakral mereka,Dean dan Keysila langsung menuju ke desa tempat di mana Keysila di lahirkan.Di dalam mobil Keysila lebih memilih untuk banyak diam sebab dia merasa sangat gugup atas perlakuan manis dari Dean sejak tadi.Beberapa kali nafas berat berhembus tapi hal itu masih belum bisa menenangkan perasaan gugupnya saat ini.
"Apa kamu masih ingat letak rumahmu dulu sayang."Tanya Dean membuka pembicaraan.
"Entahlah...Sebab rumah itu hanya mengontrak saja,tapi aku masih ingat jalan desaku meski aku juga tidak tahu mungkin sudah banyak berubah."Tutur Keysila yang memang sudah sangat lama tidak datang ke desanya.
"Sebutkan satu nama tetanggamu yang kamu ingat,jadi kita bisa bertanya letak kampung kamu di mana?"
"Hmm aku hanya mengingat jika aku punya tetangga bernama Ibu Darti,dan suaminya bernama Pak Kardi,itu saja yang aku ingat."Jawab Keysila mencoba mengingat lagi sesuatu yang mungkin bisa di jadikan patokan.
"Hmm itu saja cukup sayang,semoga kita segera menemukan tempat itu."Tutur Dean melihat sekilas ke arah Keysila.
Aku pulang Ibu..Aku sangat merindukanmu.
.
.
.
.
Dua jam kemudian mobil Dean memasuki sebuah gapura yang tertulis nama desa yang di sebutkan oleh Pak Yanto kemarin.Jalannya cukup bagus meski hanya bisa di lewati oleh dua buah mobil saja jika kebetulan berpapasan.Kanan kiri terlihat masih sangat banyak persawahan yang membentang luas.Meski tidak ada tanaman apapun,hanya terlihat sisa tumbuhan padi yang sudah selesai di panen,namun bagi Dean pemandangan itu terlihat sangat indah.
"Desamu sungguh indah sayang."Tutur Dean yang menikmati perjalanannya.
"Hmm tapi di sini sudah banyak berubah,seingatku dulu jalan di sini masih belum di perbaiki."Jawab Keysila serayap melihat sekitar.
"Itu hal yang sangat wajar sayang sebab sudah lama kamu tidak ke sini,aku akan bertanya di warung depan,"Dean mengurangi laju mobilnya untuk mencari tempat parkir.
"Aku ikut.."Kata Keysila lembut.
"Hmm tunggu di situ,aku bukankan pintu mobil untukmu."Dean melepas sabuk pengaman dan keluar lalu berjalan untuk membukakan pintu mobil untuk Keysila.
Dean dan keysila berjalan ke arah warung yang terlihat beberapa orang sedang bercengkramah di sana.Mereka menatap ke arah keysila dan Dean dengan perasaan kagum sebab keduanya terlihat serasi di tambah lagi dengan penampilan keduanya yang sangat terlihat berbeda dari orang di sekitar.
"Permisi Ibu.."Sapa Keysila ramah.
"Aduhh non cantik banget mirip artis saja."Tutur salah satu ibu-ibu di sana."
"Terima kasih."Tersenyum serayap melihat ke arah Dean sebentar.
"Non mau bertanya apa?"
"Ibu ada yang kenal Bu Darti?"
"Bu Darti strinya Pak Kardi itu??"Sahut salah satu ibu-ibu.
"Iyah Bu yang itu."Jawab Keysila bersemangat.
"Non tinggal lurus terus belok kiri,nah sampai deh,rumah Bu Darti yang cat warna hijau.Emm memangnya Non pernah tinggal di sini dulu?"
"Hmm iya Bu tapi dulu sekali,sekarang saya binggung karena sudah lama tidak ke sini."Jawab Keysila menjelaskan."Emm baik terima kasih Bu atas waktunya,saya mau melanjutkan perjalanan."
"Iya Non sama-sama."
Keduanya pun kembali ke dalam mobil lalu melanjutkan perjalanan. Keysila ingat suasana tempat lahirnya saat Dean melajukan mobilnya ke sebuah gang yang hanya bisa di lewati oleh satu mobil.
"Yang cat warna hijau kan sayang?" Tutur Dean masih memperhatikan sekitar.
"Hmm iya sayang, rasanya aku sedikit mengingat tempat ini, Biar aku turun untuk memastikan, kamu tunggu di sini saja." Kata Keysila bersemangat.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Daripada kamu bolak-balik matiin mesin."Tersenyum.
"Ya sudah.." Dean memarkirkan mobilnya di bahu jalan sementara Keysila turun untuk memastikan rumah tersebut.
Bola mata Dean memperhatikan Keysila dari dalam mobilnya, sedangkan Keysila sudah terlihat mengetuk pintu rumah yang bercat hijau.
Saat pintu terbuka, Bu Darti merasa binggung dengan kedatangan Keysila sebab dia sudah tidak mengenali Keysila lagi. Sementara Keysila sangat mengingat jika itu memang Bu Darti.
"Siapa yah..." Ucap Bu Darti tersenyum ke arah Keysila.
"Ini Key Bu, Keysila.."Jawab Keysila tersenyum.
"Keysila..."Bu Darti mencoba mengingat siapa.
Lalu keluarlah seorang lelaki muda yang umurnya mungkin sama seperti Keysila. Dia adalah Alan, Anak tertua Bu Darti yang mempunyai umur satu tahun lebih tua dari Keysila.
"Siapa Buk.." Sahutnya memperhatikan Keysila dari atas sampai bawah.
"Kak AL.." Sapa Keysila yang masih ingat pada Alan yang memang sering bermain bersama.
"Kamu siapa??" Tanya Alan yang panggling dengan penampilan Keysila saat ini.
"Aku Keysila yang tinggal di kontrakan yang dulu ada di sini." Menunjuk sebuah rumah besar yang dulunya adalah kontrakan tempat tinggal Keysila.
"Astaga Key...!!! Dia Key Bu anak Bu Sarah." Tutur Alan pada Ibunya.
"Ya Tuhan Keysila...." Pekik Bu Darti langsung memeluk Keysila erat." Kamu kemana saja, kenapa nggak pernah berkunjung di sini." Tanya Bu Darti serayap mengangkat kepalanya menatap ke arah Keysila yang terlihat begitu cantik.
"Sebelum Key cerita, emmm mobilnya bisa di taruh di perkarangan rumah ini kan Bu?"
"Hmm iya taruh sini saja nggak apa-apa." Sahut Alan yang langsung kagum dengan teman masa kecilnya yang sekarang sudah sangat berubah.
Keysila melihat ke arah Dean dan memberikan isyarat pada Dean untuk memarkir mobilnya di pekarangan milik Bu Darti yang cukup luas. Saat Dean turun dari mobil, Bi Darti memperhatikan Dean yang memang terlihat sangat tampan dan dewasa.
"Siapa itu Key?"
"Calon nya Key Bu, emmmm Minggu depan kita menikah." Wajah Keysila merona merah saat mengucapkan hal tersebut.
Ternyata dia sudah akan menikah... Batin Alan.
Dean langsung mencium tangan Bu Darti tanpa rasa jijik dan bersalaman dengan Alan yang mempunyai wajah cukup tampan sebagai ukuran lelaki desa.
"Mari masuk dulu.." Bu Darti merangkul bahu Keysila dan mengiringnya masuk.
🗨️Di dalam rumah🗨️
"Rumah kontrakan itu sudah nggak ada Bu." Kata Keysila membuka pembicaraan.
"Iya Key, sudah di jual mangkannya di pakai rumah sekarang. Kamu bagaimana kabarnya."
"Baik Bu.. Emm maksud kedatangan aku ke sini,ingin ke makam ibu sama ayah." Saat ucapan itu terlontar seketika dada Keysila merasa sesak dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke arah wajah Bu Darti yang mulai keriput.
"Iya nanti Ibu anterin, istirahat dulu pasti perjalanannya jauh kan tadi?" Tutur Bu Darti mengusap lembut puncak kepala Keysila.
"Emm Key maunya sekarang Bu, maaf Key sudah lama pengen ke sini tapi Budhe Rani nggak ngebolehin Key." Jawab Keysila menjelaskan.
"Hmm Ibu sudah tahu itu semua Key, mangkannya selama ini Ibu yang rawat makam Ibu dan Ayah kamu. Ibu sudah tahu jika ini semua akan terjadi dan melihat kamu masih hidup saja Ibu sudah sangat senang." Kata Bu Darti yang langsung menangis terisak di hadapan Keysila.
"Kok Bu Darti mikir seperti itu?" Tutur Keysila binggung.
"Dulu kamu masih kecil Keysila, kamu nggak tahu apa-apa soal kebusukan Budhe kamu itu. Ibu sampai merasa nggak tenang sejak kamu di bawa oleh Bu Rani pagi itu, Ibu takut kamu di apa-apain. Dan ibu bersyukur melihatmu sehat seperti sekarang." Menelungkup wajah Keysila.
"Keysila nggak paham sama omongan Bu Darti." Tutur Keysila lirih.
"Bu Rani itu punya dendam pribadi sama Bu Sarah Key, dia juga yang sudah membunuh Ayah kamu dengan alasan kecelakaan itu..!!"
Deg...!! Mata Keysila melebar mendengarkan ucapan tersebut.
TBC😁
Silahkan like 👍, komentar 💬, klik ♥️, Vote juga 😉. Terimakasih 😘😍
Salam Arabella Maheswari 😉*