You Are Mine...!!Keysila

You Are Mine...!!Keysila
Chapter 46



Mata Keysila melebar mendengarkan ucapan dari Bu Darti saat ini,dia ingin tidak percaya namun Keysila cukup mengenal baik Bu Darti yang tidak pernah bicara macam-macam jika tidak ada bukti.


"Kenapa ibu berbicara seperti itu?"Tutur Keysila lirih serayap memandang ke arah Dean yang saat ini tengah menyimak semua obrolannya.


Melihatnya menangis seperti itu rasanya sungguh menyiksaku, sayangnya aku tidak dapat menyentuhnya sekarang karena dia berada di pelukan ibu itu. Sabar sayang,apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu. Batin Dean.


"Ini hanya masalah dendam pribadi Key, Ibu tahu semua ini juga dari almarhumah Karin, Ibu kamu."


🔥 Flashback Rani & Sarah 🔥


Rani/Budhe Keysila


Sarah/Ibu Keysila


Burhan/Ayah Keysila.


Pagi itu seperti biasa kedua saudara yang hanya terpaut umur satu tahun itu bersiap untuk pergi ke sekolah SMAnya yang bisa di jangkau hanya dengan berjalan kaki. Para tetangga kagum dengan dua saudara yang selalu terlihat rukun dan kompak. Meski keduanya adalah saudara kandung namun wajah keduanya sangatlah berbeda jauh. Rani cenderung mengikuti wajah ayahnya dengan kulit coklat, sedangkan Sarah sangat mirip dengan Ibunya yang sangat cantik dengan kulit putih bersih. Perbedaan tersebut terkadang membuat perasaan Rani kesal dan merasa dengki dengan Sarah. Kenapa lebih cantik Sarah daripada aku...!!!


"Ugh.. Hari ini pelajaran fisika, aku sangat membenci hal itu." Runtuk Rani serayap menyisir rambutnya yang panjang.


"Nanti kalau ada PR biar aku bantu mengerjakannya." Sahut Sarah sambil menyiapkan peralatan sekolahnya.


"Ya tergantung nanti, ayo buruan berangkat ini sudah sangat siang."


Keduanya pun berjalan beriringan menuju ke sekolahannya yang hanya berjarak 300 meter dari tempat tinggal mereka.Mereka lewat jalan persawahan untuk memotong jalan agar cepat sampai, namun karena kurang berhati-hati kaki Rani terperosok ke dalam lubang yang membuat dia terjebur di area persawahan yang penuh dengan lumpur.


"Mbak Rani...!!" Pekik Sarah membuat seseorang yang tengah membersihkan sawah menoleh ke arah keduanya.


Pemuda itu bernama Burhan, Burhan baru saja datang semalam untuk berkerja sebagai kuli di sebuah area persawahan milik pak Somat orang terkaya di kampung tersebut. Meskipun hanya berkerja sebagai kuli, namun paras Burhan sangatlah tampan. Hal tersebut membuat Rani langsung jatuh cinta pada pemuda yang saat ini tengah mengangkat tubuhnya.


Astaga ..Tampan sekali.. Batin Rani menatap lekat ke arah Burhan yang terlihat berkeringat.


"Kenapa bisa jatuh?" Kata Burhan menurunkan Rani di jalan pematang sawah.


"Aku kurang hati-hati tadi.." Jawab Rani menatap lekat ke arah Burhan.


"Mbak Rani nggak apa-apa." Tanya Sarah merasa khawatir.


Burhan menoleh ke arah Sarah yang memang terlihat jauh lebih cantik dari Rani, wajahnya yang polos di tambah dengan tutur katanya yang lembut membuat Burhan langsung jatuh cinta pada gadis yang saat ini berada di sampingnya.


Cantik sekali... Batin Burhan.


"Aku nggak apa-apa Dek, tapi bajuku kotor." Eluh Rani sambil memperhatikan bajunya yang kotor penuh lumpur.


"Kak Rani bisa pulang sendiri kan?"


"Hmm biar aku antar.." Sahut Burhan yang sebenarnya ingin mencari simpati pada Sarah.


Dia pasti menyukaiku.. Batin Rani.


"Ya sudah aku berangkat ya mbak, nanti biar aku ngomong sama Bu guru kalau Mbak Rani habis jatuh." Tutur Sarah lembut.


Suaranya membuat perasaanku terasa sangat tenang.. Batin Burhan.


"Hmm iya, buruan berangkat nanti kamu telat."


"Baik mbak, permisi Mas." Tutur Sarah menunduk sebentar dan berjalan pergi.


"Iya adek hati-hati." Jawab Burhan yang masih menatap lekat ke arah Sarah yang sudah berada cukup jauh.


"Emm Mas nggak apa-apa anterin aku dulu." Kata Rani yang membuat Burhan langsung melihat ke arahnya.


"Nggak apa-apa adek, yuk Mas anterin sampai rumah." Burhan meraih jemari Rani dan hal itu membuat Rani semakin jatuh cinta pada Burhan.


Sejak saat itu Burhan jadi mengenal baik keluarga Sarah dan Rani, dia kerapkali berkunjung ke rumah mereka dengan tujuan ingin lebih dekat dengan Sarah. Bahkan Burhan sudah membicarakan itikat baiknya untuk langsung melamar Sarah pada kedua orangtuanya jika sudah lulus sekolah nanti, hal tersebut tentu tanpa sepengetahuan Rani dan Sarah. Setiap kali Burhan berkunjung, Rani selalu menemani Burhan sedangkan Sarah sendiri cenderung tidak perduli dan lebih memilih untuk menonton televisi tabung miliknya. Apalagi setiap malam Rani selalu berkata pada Sarah jika dia sangat menyukai Burhan dan hal itu membuat Sarah mendukung penuh atas perasaan Kakaknya terhadap pemuda yang berparas tampan itu.


Hingga suatu ketika, persaudaraan mereka menjadi hancur. Hari ini tepat di hari kelulusan Sarah, Burhan datang ke rumah dengan membawa sebuah cincin yang di letakkannya pada saku celananya. Malam ini Burhan berniat melamar Sarah untuk menjadi istrinya, dia datang sendirian sebab Burhan memang seorang anak yatim piatu yang di besarkan di sebuah panti asuhan.


"Silahkan masuk nak Burhan." Tutur ibu Sarah yang tahu tentang maksud kedatangan Burhan malam ini.


"Iya Ibu terima kasih." Jawab Burhan serayap melirik ke arah Sarah yang tengah fokus melihat televisi.


"Mas Han rapi sekali yah." Sapa Rani yang langsung duduk di hadapan Burhan dengan dandanan ala gadis desa yang terlihat sangat berlebihan.


"Biasa saja adek."Tutur Burhan ramah.


"Sayang sini dulu," Ayah Sarah menyuruh Sarah agar duduk di sampingnya saat ini.


Mata Burhan menatap wajah cantik milik Sarah yang memang sudah menyita perhatiannya sejak enam bulan terakhir.


"Sarah..."


"Hm iya Ayah."Menatap ke arah sang Ayah.


"Kedatangan nak Burhan ke sini, karena ingin melamarmu untuk menjadi istrinya, apa kamu mau?"


Ucapan dari sang Ayah membuat perasaan Rani jadi hancur berkeping-keping, Sarah langsung melihat ke arah Rani yang terlihat beranjak pergi dari tempat duduknya saat ini.


Mbak Rani, ya Tuhan kenapa seperti ini..


"Emm ayah bukannya seharusnya Mbak Rani yang duluan, emm kenapa aku?"Tanya Sarah yang tahu jika Kakaknya Rani sangat menyukai Burhan.


"Zaman sekarang itu siapa yang cepat saja sayang, jadi kalau kamu yang dapat jodoh duluan ya nggak apa-apa." Jawab sang ayah menjelaskan.


"Tapi yah..."


"Aku menyukaimu Dek Sarah.." Kata Buruan yang merasa sangat tidak sabar untuk meminang Sarah.


Sarah melihat ke arah Burhan yang memang terlihat sangat tampan dan dewasa. Gadis manapun pasti langsung jatuh cinta karena parasnya, namun Sarah masih memikirkan perasaan Rani sehingga membuatnya terdiam saat semua orang menunggu jawaban darinya. Dan gawatnya, kediaman Sarah di salah artikan di sini. Kedua orang tua Sarah langsung menyuruh Burhan memakaikan cincin pada Sarah sehingga mereka langsung membahas hari baik untuk menikah.


Sejak itu terjadi, hubungan kedua saudara tersebut menjadi retak tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Sebab Rani terlihat ikhlas menerima semua itu di depan kedua orang tuanya namun dia akan mencibir pada Sarah saat kedua orang tuanya sedang tidak ada di dekat mereka.


"Dasar perebut.." Runtuk Rani saat keduanya sedang berada di dalam kamar."Enak yah..!! Aku yang suka sama dia terus kamu yang nikah sama dia, aku doakan pernikahan kamu nggak akan langgeng Sarah sebab kamu sudah nyakitin hati aku..!!" Imbuhnya dengan menatap penuh kebencian pada Sarah.


"Kenapa Mbak Rani nggak protes sama ibu dan ayah? Mumpung masih dua bulan lagi mbak, jadi masih ada waktu." Jawab Sarah yang lebih mementingkan persaudaraan di atas segalanya.


"Mau protes seperti apa!! Mas Burhan sudah milih kamu, yang ada aku malu kalau sampai ketahuan diam-diam suka sama Burhan."


"Jika seperti itu, jangan salahkan Sarah Mbak. Sarah juga nggak pengen seperti ini.." Jawab Sarah sambil memandangi wajah Rani.


"Munafik kamu ya jadi saudara, aku tahu selama ini kamu pura-pura nggak perduli sama Mas Burhan tapi nyatanya kamu main mata di belakangku sama dia..!!!"


"Halah... Sok lugu kamu, munafik saja berakting seperti ini..!! Aku doakan pernikahan kamu hancur... Dasar...!!" Rani keluar kamar meninggalkan Sarah begitu saja.


Rani selalu menyalahkan semuanya pada Sarah, padahal Sarah juga sudah berusaha menolak itu semua, namun orang tua Sarah kembali berkata pada Sarah jika Burhan menginginkannya bukan Rani dan Rani selalu berakting ikhlas menerima saat Sarah berbicara seperti itu pada orang tuanya, hal itu membuat Sarah semakin binggung dalam memposisikan diri.


Waktu pun berjalan, pernikahan pun di gelar dengan sangat sederhana mengingat jika Burhan memang sudah tidak mempunyai orang tua. Kini Sarah sudah syah menjadi istri Burhan dan mau tidak mau dia harus mengikuti Burhan untuk tinggal di sebuah kontrakan sederhana.


Semua berjalan tidak sesuai keinginan Rani sebab kehidupan pernikahan adiknya begitu hangat meski serba kekurangan. Sifat Burhan yang penuh tanggung jawab dan penyayang membuat Sarah perlahan-lahan mulai menyukai suaminya itu.


Rani yang penuh dengki selalu merangkai rencana busuk untuk bisa menghancurkan rumah tangga adiknya namun nihil...!! Sebab Sarah dan Burhan terlihat selalu bisa menyelesaikan setiap masalah yang ada.


Hingga Rani berumur 27 tahun dia belum juga menikah dan malah sibuk memikirkan bagaimana cara menghancurkan kehidupan pernikahan adiknya. Orang tua Rani sempat menjodoh-jodohkan Rani pada banyak pemuda namun Rani menolak itu semua karena dia merasa tidak ada lelaki yang setampan Burhan. Hingga seseorang dari kota meminangnya untuk menjadi istrinya. Lelaki tersebut bernama "Yanto" dia seorang perjaka tua yang ingin mencari pendamping hidup. Karena sibuknya mengurus perusahaan kecilnya, Yanto jadi tidak memikirkan mencari pendamping hingga umurnya mencapai kepala tiga. Awalnya Rani menolak itu semua, namun setelah dia tahu jika Yanto pemuda yang kaya raya dia akhirnya mau menerima pinangan tersebut.


Setelah menikah Rani bukannya berhenti malah semakin menjadi apalagi setelah kepergian kedua orang tuanya. Dia menyusun rencana busuk untuk mengakhiri kedengkian hatinya pada adiknya Sarah. Dia membayar orang untuk menghabisi Sarah dengan mengunakan uang dari Yanto suaminya. Saat Sarah dan Burhan berjalan beriringan sambil mengandeng Keysila yang terlihat masih duduk di bangku SD, sebuah motor melaju dengan kecepatan penuh hendak menabrak Sarah dari belakang, Burhan yang mengetahui itu semua langsung mendorong tubuh Sarah agar menjauh dan Brrrakkkk Burhan tertabrak motor itu dan meninggal di tempat.


Tidak berhenti sampai di situ, setelah kepergian Burhan. Rani datang ke rumah sederhana milik Sarah dan dia menjelaskan pada Sarah jika dialah dalang dibalik kecelakaan tersebut. Sarah merasa kaget dan tidak percaya ketika mendengar kakaknya tega melakukan itu.


"Harusnya kau yang mati .!!" Tutur Rani kasar.


"Ya Tuhan Mbak..Kenapa Mbak setega itu, mbak nggak kasihan sama keysila yang harus kehilangan ayahnya dengan umur yang sekecil itu."


"Aku nggak perduli dengan itu Sarah..!! Kalau kau belum mati..!! Aku nggak akan berhenti gangu hidupmu termasuk anakmu keysila ..!!" Jawab Rani dengan tertawa renyah.


"Jangan keysila Mbak, dia nggak tahu apa-apa." Pinta Sarah serayap menangis terisak.


"Kalau kau belum mati.! Aku akan terus menganggu hidupmu..!! Ingat itu..!!" Rani pergi begitu saja dengan meninggalkan luka batin pada hati Sarah hingga Sarah mengalami sakit struk sebab terlalu memikirkan hal tersebut.


Sudah hampir tiga bulan Sarah tidak dapat berjalan dan beraktifitas, keadaanya semakin buruk karena tekanan batin saat dia melihat ke arah Keysila yang masih sangat kecil. Hal itu membuat Sarah semakin kurus dan semakin terlihat menyedihkan. Beberapa kali Ibu Darti menyuruh Sarah untuk merilekskan hatinya agar cepat sembuh namun itu terasa sulit sebab dia merasa tertekan.


Aku harus mengakhiri ini semua demi Keysila...


Sarah menyuruh Keysila menghubungi budhenya yang tak lain adalah Rani agar segera datang ke rumah. Selang beberapa hari Rani datang sendirian dengan senyuman penuh kemenangan menatap ke arah Sarah yang sudah tidak berdaya.


"Sila..Kamu keluarlah dulu, ibu mau ngomong sama budhe kamu sebentar." Tutur Sarah sambil menahan rasa sakitnya.


"Iya Bu." Jawab Keysila yang langsung menuruti permintaan Ibunya. Setelah Keysila keluar dari kamar, Rani berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di perut menatap ke arah Sarah yang telah terkulai lemas di atas tempat tidur yang hanya beralaskan tikar dan kain tipis.


"Untuk apa kau memanggilku ke sini?" Tanya Rani kasar.


"Aku sudah tidak tahan dengan semua ini Mbak..." Jawab Sarah lirih.


"Jika sudah tidak kuat susulah suamimu..!! Agar aku tidak melihatmu di dunia ini..!! Dasar pelakor .!!"


"Berjanjilah Mbak jika aku pergi tolong rawat Keysila, dia tidak tahu apa-apa tentang ini semua."


"Hmm oke..!! Karena wajah Keysila mirip Mas Burhan, aku akan rawat dia tapi cepatlah mati agar hidupku bisa tenang..!!"


"Umur cuma milik Tuhan Mbak,aku sendiri nggak tahu kapan Tuhan ambil nyawaku ini."Jawab Sarah yang terlihat menahan rasa sakitnya.


"Kau mau mati cepat...!! Minumlah ini..!!" Kata Rani memperlihatkan botol obat yang entah obat untuk apa.


"Apa itu Mbak?"


"Minum saja agar kau segera mati..!!"


Air mata mengalir lembut di sudut mata Sarah, entah dia harus berfikir seperti apa lagi. Terkadang dia menyesal sudah menikah


dengan Burhan yang mengakibatkan hubungannya dengan Rani menjadi buruk, namun tidak dapat di pungkiri jika dia merasa sangat bahagia hidup bersama Burhan meski serba kekurangan.


"Baik Mbak jika memang mbak maunya seperti itu, tapi aku titip Keysila yah. Rawat dia Mbak sebab dia tidak tahu apa-apa." Kata Sarah yang sudah menyerah dan lelah dengan semuanya.


"Iya beres aku berjanji akan mengurusnya...! Nih minum." Menyodorkan botol obat tersebut.


"Biar aku bawa saja Mbak, malam ini aku mau tidur sama Keysila dulu nanti kalau Keysila sudah tidur saya janji akan minum obat ini." Jawab Sarah dengan air mata yang terus mengalir sebab dia tidak menyangka jika kakaknya berhati sangat busuk.


.


.


Beberapa saat kemudian Keysila masuk sambil tersenyum penuh kepolosan ke arah sang ibu.


"Sayang tolong ambilkan bungkusan kertas kecil di laci lemari ibu."


"Baik Bu.." Keysila langsung menuju lemari dan mengambil bungkusan kertas putih kecil."Ini Bu.." Memberikan bungkusan itu pada sang Ibu.


Harusnya ini ku berikan saat kamu lulus SD Keysila, Mas Burhan sampai rela kerja lembur untuk bisa membeli ini agar Keysila merasa senang dan semakin giat belajar. Ya Tuhan aku ikhlas dengan ini tapi aku mohon jagalah anakku setelah kepergianku..


"Ini Sila pakailah...Maaf Ibu sudah tidak bisa memakaikannya." Tutur Sarah lembut.


"Apa ini emas Ibu?"


"Iya...Almarhum Ayahmu yang membelikannya untukmu." Tersenyum.


"Jual saja Bu, Sila ingin Ibu cepat sembuh."Jawab Keysila yang nada bicaranya memang mirip dengan Sarah meski wajahnya Keysila sangat mirip dengan sang Ayah.


"Ibu sudah merasa lebih baik nak, pakailah.. Ibu ingin melihatnya."


Dengan berderai air mata Keysila memakai kalung tersebut seolah dia merasakan apa yang di rasakan Ibunya saat ini.


"Astaga nak...Kamu sangat cantik memakai itu."Tutur Sarah serayap menahan rasa sakit.


"Terima kasih Ibu."Jawab Sarah lirih.


"Berjanjilah pada Ibu untuk tidak menjualnya, sebab itu kenang-kenangan dari Almarhum Ayahmu.."


"Baik Bu Sila janji." Jawab Keysila terisak sebab dadanya terasa sangat sesak sekarang.


"Jangan menangis, malam ini Ibu ingin tidur bersamamu, kamu mau kan sayang?"


"Tentu Ibu."


Hari itu hari terakhir dimana Keysila melihat Ibunya, setelah kepergian ibunya,dia ikut bersama budhe Rani untuk tinggal di kota.Budhe Rani sengaja tidak memperbolehkan pulang kampung sebab dia juga ingin menyiksa batin Keysila seperti yang di lakukannya pada Ibunya. Dendam Rani belum berhenti sampai di situ, sebab saat Keysila tumbuh dewasa, Keysila semakin mirip dengan Sarah sehingga membuat Rani merasa dengki pada Keysila. Dia tidak ingin Keysila terlihat lebih cantik atau lebih unggul darinya, dan hal itu berlangsung hingga saat ini...


🔥Flashback off 🔥


TBC😘


Author sambil nyesek nulisnya 😩


Terima kasih yang masih setia🙏🙏