You Are Mine...!!Keysila

You Are Mine...!!Keysila
Chapter 47



Air mata tidak henti-hentinya jatuh di sudut mata keysila setelah mendengar kenyataan yang di katakan oleh Bu Darti. Keysila terdiam, tidak mampu berkata apa-apa sebab dadanya terasa sangat sesak. Budhe Rani yang di kenalnya baik dan lembut ternyata dia adalah orang yang membuat hidupnya jadi berantakan seperti ini.


"Apa itu berarti, Budhe yang sudah membunuh Ibu sama Ayah Bu?" Tanya Keysila lirih.


"Iya Nak, maaf Ibu baru bercerita, seharusnya Sarah menyuruh Ibu untuk tidak cerita, tapi menurut Ibu kamu harus tahu kebenarannya nak." Jawab Bu Darti menjelaskan.


"Sekarang aku tahu Ibu, Kenapa Budhe selalu menyebutku perebut hiks hiks hiks, padahal Key nggak tahu apa-apa soal ini." Mengusap air matanya serayap menunduk.


"Astaga..! Apa seperti itu Nak?"


"Iya Bu..." Mengangguk." Key juga di usir saat Key masih duduk di bangku SMA hanya karena Key mengobrol dengan Pak De, untung ada Bik Iyem yang nolongin Key waktu itu, jadi Key nggak harus tidur di jalanan." Tutur Keysila lirih.


"Kenapa nggak ke sini saja Key, Ibu mau kok rawat kamu." Jawab Bu Darti mengusap lembut punggung Keysila.


"Budhe nggak ngasih tahu nama tempat ini Bu, sedangkan Key sendiri sudah lupa karena dulu masih sangat kecil."


"Astaga Rani, kenapa dia belum juga puas. Sabar Key, semua itu pasti ada balasannya, Ibu mohon kamu jangan punya rasa dendam setelah tahu semua ini. Contohlah sifat Ibumu Key yang hatinya sangat luas, meski dia meninggal dengan cara seperti itu, satu kalipun Ibu nggak pernah lihat arwah Ibu kamu. Itu berarti dia sudah tenang di sana Key, dia sudah dapat tempat yang layak di sisihnya."


"Tapi Bu bukannya itu perbuatan yang sangat keji." Kata Keysila yang wajahnya basah penuh dengan air mata.


"Ibu tahu Key, tapi jika kamu membalas perbuatan budhe kamu, apa bedanya kamu dengan dia? Ikhlaskan semua saja, yang terpenting sekarang hidupmu sudah sangat baik bukan? Lihatlah calon suamimu bahkan setampan itu, bukankah dia mirip seperti ayahmu." Goda Bu Darti agar Keysila bisa menerima semua dengan lapang dada.


Keysila melihat ke arah Dean yang sedari tadi memang sedang melihat ke arahnya, dia melupakan jika saat ini Dean sedang berada di sana karena Keysila sangat menghayati cerita dari Ibu Darti.


"Dia pria yang sangat baik Ibu." Tutur Keysila yang mulai tersenyum ke arah Dean serayap mengusap air mata dengan tangannya sendiri.


"Mungkin itu hasil dari kebaikan orang tuamu Key, jadi kamu bisa mendapatkan pria yang baik seperti dia. Ibu minta kamu cukup tahu saja tentang masalah ini sebab hal itu hanyalah masa lalu. Lihat ke depan saja Key, jika kita menuruti dendam, semua itu tidak akan ada habisnya."


"Baik Bu aku akan berusaha melupakan itu agar pengorbanan Ibuku nggak sia-sia."


"Ibu lega setelah cerita ini." Tutur Bu Darti tersenyum.


"Emm bisa antarkan ke makam Ibu, emm aku ingin cepat ke sana."


"AL antarkan Keysila ke sana, ibu nggak kuat kalau jalan sejauh itu, nggak apa-apa kan Key?"


"Tidak masalah Bu, emm sayang, apa kamu mau ikut? Sebab jalan di sana sedikit tidak baik." Tanya Keysila pada Dean.


"Tidak masalah sayang, aku akan ikut." Jawab Dean yang tidak ingin membiarkan keysila pergi berdua bersama Alan, sebab Dean sadar, meskipun Alan hanyalah pria desa, tapi parasnya sangat tampan.


"Mari Key biar kamu nanti baliknya nggak kemalaman." Tutur Alan yang sudah berdiri.


"Hmm baik aku tinggal dulu Ibu." Kata Keysila yang berdiri diikuti oleh Dean.


"Hati-hati ya.."


"Hmm baik Ibu."


Alan berjalan keluar rumah, Diikuti oleh Dean dan Keysila. Bu Darti terlihat menitikan air matanya serayap menatap ke arah Keysila yang terlihat mempunyai kehidupan yang sangat layak sekarang.


"Lihatlah Sarah, Tuhan menjawab doamu selama ini. Aku merasa pria itu sangat baik, dan Keysila bahkan membawa mobil untuk datang kesini. Sekarang kamu sudah bisa tersenyum di sana, aku juga selalu mendoakan agar Keysila selalu bahagia. Ini adalah buah dari kebaikanmu dan Burhan, kebaikan orang yang masih tetap tersenyum meski sudah di dzolimi oleh saudara sendiri." Gumah Bu Darti seolah sedang berbicara sendiri.


👣👣👣


Alan menyuruh Dean dan Keysila untuk Menganti sandal bagus mereka dengan sandal jepit, Tanpa berprotes mereka pun menuruti perkataan Alan sebab mereka sudah berfikir jalan yang akan di lalui akan seperti apa.


"Tunggu Kak AL.." Tutur Keysila membuat Alan menghentikan langkahnya, aku akan membenarkan ini dulu agar tidak kotor." Keysila berjongkok dan melipat celana panjang milik Dean.


"Astaga sayang biar aku sendiri." Kata Dean yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa sayang, hmm sudah." Keysila kembali berdiri serayap tersenyum ke arah Dean.


Sudah pasti sifat Keysila akan mirip dengan Bu Sarah, wanita idaman, sayang dia sudah akan menikah. Dan melihatnya sekarang, dia terlihat sangat cantik, astaga.. Apa yang ku fikirkan, bukannya ini hal yang tidak baik sebab Keysila sudah akan menjadi istri orang.


"Hmm sudah kak." tersenyum.


Dean langsung merasa kesal saat Keysila melemparkan sedikit senyuman untuk Alan, tangan Dean langsung merangkul kedua bahu Keysila karena dia tidak ingin Keysila tergoda dengan pria desa itu.


Astaga kenapa jalannya sejelek ini. Batin Dean.


"Kakimu jadi kotor seperti itu sayang." Kata Keysila serayap tersenyum melihat ke bawah.


"Tidak masalah." Mencoba baik-baik saja padahal Dean cukup jijik sebab kakinya jadi penuh dengan lumpur.


"Emm Kak AL sekarang kerja apa?" Tanya Keysila yang merasa kasihan sebab mendiamkan Alan sejak tadi.


"Hanya mengurus sawah milik sendiri Key." Tersenyum serayap tetap berjalan.


"Kenapa tidak mencari perkerjaan yang lain kak, aku lihat tadi sudah ada pabrik di sebelah barat." Keysila masih merapatkan pegangannya pada lengan Dean agar Dean tidak merasa cemburu.


"Pengennya begitu Key, tapi siapa yang mengurus sawah? Ibu sudah sangat tua untuk itu. Sejak Ayah meninggal, aku yang mengurus sawah itu." Tutur Alan menjelaskan.


"Jadi pak Karto sudah meninggal?"


"Hmm iya, sudah dua tahun silam. Jadi mau tidak mau aku harus menjaga ibuku di sini."


"Hmm begitu Kak, yang sabar yah.."


"Iya pasti Key, kita sudah sampai." Kata Alan serayap menghentikan langkahnya.


"Maaf Kak AL, aku lupa mana makam nya." Keysila merasa binggung sebab makam di sana sebagian tulisannya sudah pudar.


"Itu Key yang ada di bawah pohon besar." Menujuk dengan merentangkan jemari tangannya.


Keysila melihat dua makam yang berjajar di sana, dulu dia ingat jika makam kedua orang tuanya memang berjajar. Namun dia tidak ingat jika ada pohon besar yang berada di sana, Key menyadari itu semua karena dia sudah bertahun-tahun tidak ke sini.


Ibu Ayah, maaf Keysila baru datang. Batin Keysila berjalan ke arah kedua makam yang terlihat terawat rapi, bahkan ada bunga segar di atasnya.


Tidak ada yang di lakukan oleh Keysila di sana, dia hanya duduk berjongkok serayap mengusap Nisan kedua orang tuanya yang sangat di rindukannya. Dean juga tidak berbicara sepatah katapun, dia ingin memberikan ruang pada Keysila agar Keysila bisa menumpahkan seluru isi hatinya.


Terima kasih untuk pengorbanannya Ibu, meski Sila belum sepenuhnya ikhlas menerima kenyataan ini. sebab mungkin seharusnya saat ini Ibu masih di sini, nemanin Sila. Tapi Ibu, Sila sudah anggap ini semua sebagai takdir, Sila akan berusaha untuk menerimanya, memaafkan semua kesalahan Budhe Rani, Meski sampai saat ini Budhe Rani juga masih sangat membenci Sila. Emm lihatlah siapa yang ku bawa Ibu, aku membawa calon menantu untukmu. Pria kaya yang bodoh karena sudah mengharapkan cinta dari wanita sepertiku, dia sangat mirip Ayah, emm aku baru menyadarinya saat Bu Darti berkata seperti itu tadi. Setelah ini Sila berjanji akan sering menjenguk Ibu di sini. Sila juga minta doa restu dari kalian berdua, Minggu ini Sila akan menikah dengan pria bodoh ini.. Aku merindukan kalian. Keysila mengusap air matanya sebentar kemudian berdiri dan menghadap ke arah Dean yang sejak tadi melihat ke arahnya.


"Apa sudah selesai sayang?" Tutur Dean mengusap lembut pipi Keysila.


"Sudah sayang.." Tersenyum lega sebab keinginannya sudah tersampaikan.


"Apa kamu sudah mengenalkanku pada mereka?


"Tentu sudah."


"Apa mereka merestui hubungan kita?" Tutur Dean mencoba menghibur perasaan Keysila saat ini.


"Mereka merestuinya, apa aku boleh sering datang ke sini?"


"Hm iya, kapanpun kamu ingin ke sini, aku bersedia untuk mengantarkanmu." Dean memeluk erat tubuh Keysila di depan makam kedua orang tua Keysila.


Aku berjanji Ibu Ayah, aku akan jadi suami yang baik untuknya. Selalu menjaganya sebaik kalian menjaga dia..


Aku tahu kenapa Keysila menyukai pria ini, hmm dia sangat baik dan manis. Padahal aku rasa mereka berbeda kasta, tapi pria ini seolah bisa menerima semuanya dengan baik. Aku saja belum tentu bisa sebaik pria ini... Batin Alan serayap melihat ke arah keduanya..-


Holla🙋


Terima kasih yang masih dan masih setia yeeeahhhhhh....


Silahkan like 👍, komentar 💬,klik ♥️,Vote juga boleh😁, terima kasih 😘