
"Aku ingin berbicara padamu" Kataku ketika Pangeran selesai berpakaian. Sudah beberapa hari Aku kembali ke sini. Baik Ibu Ratu maupun Pangeran sama-sama serius akan perkataannya. Ibu Ratu mendatangkan guru pribadi untukku, Dia serius mengatur jadwalku untuk menjadikanku Putri yang sesuai standartnya. Bahkan seringnya, sekarang ini Aku harus mengikuti kegiatan Ibu Ratu menghadari upacara atau kegiatan sosial kerajaan. Dia akan berhenti untuk menekanku hanya jika Pangeran datang dan membawaku pergi. Tapi, Jika disuruh memilih diantara keduanya, Aku lebih senang bersama Ibu Ratu ketimbang dengan Pangeran Riana. Bersama Pangeran lebih membuatku sulit. Dia serius untuk membuatku hamil. Jika ada kesempatan Aku sering kali dipaksa untuk melayaninya. Aku masih beruntung saat dulu Aku dipaksa tinggal disini Aku pernah menyimpan obat sejenis pil KB untuk berjaga-jaga dan masih ada di bagian laci terdalam dikamar Pangeran sampai sekarang.
Pangeran duduk tenang di samping tempat tidur dan menunggu. Aku selesai mandi, telah membersihkan diri dari dirinya,Namun rasanya kotorannya masih selalu melekat di badanku.
"Aku ingin Kau membebaskan Rena" Kataku langsung.
"Dia telah lalai dalam menjalankan tugas sehingga Kau bisa kabur. Sudah sepantasnya Dia dihukum" Jawab Pangeran acuh.
"Dia tidak bersalah, pelarian itu Aku yang merencanakan sendiri. Aku mohon padamu...bebaskan Dia" Aku berlutut di depan Pangeran, memandangnya penuh permohonan. Pangeran diam menatapku. Sejurus kemudian Dia membungkuk, menarikku mendekatinya. Sebuah ciuman yang panjang dan penuh tuntutan.
"Jika Kau berjanji padaku bahwa Kau akan melupakan duniamu dan tinggal di sisiku selamanya, Aku akan melepaskannya" bisiknya sesaat setelah melepas ciumannya.
Aku terkejut dengan syarat yang diberikan. Pangeran menatapku dalam, menilai responku. Menunggu.
"Aku tidak bisa" Kataku akhirnya menolak. Cekalannya dilepaskan nyaris membuatku tersentak ke belakang. Pangeran berdiri dengan marah.
"Jika itu maumu, Maka Kau hanya akan melihatnya membusuk di penjara"
Pangeran berjalan pergi, pintu ditutup dengan suara keras, membuatku berdiri tergugu.
Apa yang harus kulakukan, Di satu sisi Aku tidak ingin membuat Rena menanggung kesalahan yang tidak dilakukannya, Di satu sisi lainnya, Aku tidak bisa berjanji pada Pangeran untuk tinggal disini bersamanya. Aku merasa kebingungan.
Hari ini Aku berlatih tata cara berjalan yang benar. Di dalam novel yang kubaca atau Film yang ku tonton, Menjadi putri itu sangat enak, Pakaian yang bagus, Fasilitas serba kelas satu dan perhiasan yang berlimpah ruah, Namun pada kenyataannya menjadi seorang Putri itu tidaklah gampang. Cara berjalan saja mesti ada tekniknya. Apa ke kamar mandi pun Aku harus ada caranya juga ?.
Sebuah buku tebal di letakkan di kepalaku. Aku harus berjalan tanpa menjatuhkannya. Beberapa kali Aku gagal. Rasanya Aku sudah frustasi dengan kehidupanku yang sekarang. Aku ingin berteriak dan memberontak melepaskan diri. Namun, Pangeran telah memblokir aksesku untuk melarikan diri. Aku tidak dapat keluar dari keadaan ini dengan mudah.
Lalu apa gunanya Aku disini ?
Aku sama sekali tidak mengerti pikiran Pangeran dan seluruh kerajaan. Lebih-lebih sang calon Ratu. Dia membiarkan calon suaminya bersama wanita lain. Aku tahu hal ini memang sudah umum terjadi didunia ini, Tapi tetap saja logikaku tak mampu menerimanya.
Aku tidak ingin menjadi istri kedua atau simpanan seseorang. Hanya seorang suami untukku seorang. Mungkin semua wanita diduniaku berpikir sama seperti apa yang Kuinginkan.
"Putri Yuki" Aku berbalik tidak percaya ketika mendengar suara yang amat kukenal. Rena berjalan menghampiriku dengan tersipu. Aku melemparkan buku di kepalaku, berlari langsung ke arahnya dan memeluknya.
"Rena..." Kataku senang. "Syukurlah...Aku senang melihatmu"
"Saya juga senang melihat Putri kembali" Rena jauh lebih kurus daripada sebelumnya, Aku jadi makin merasa bersalah padanya.
"Maafkan Aku...gara-gara Aku.."
Rena menggeleng dengan tatapan mengerti. "Tidak putri, Saya yang lalai menjalankan tugas, Tapi sekarang Saya senang karena Pangeran masih mengizinkan Saya untuk melayani tuan putri kembali"
"Apa.."
Bukankah Dia bilang, Dia akan membebaskan Rena jika Aku mau menuruti syaratnya. Sampai sekarang Aku belum memberikan jawaban, Tapi kenapa Dia sudah berubah pikiran.
"Putri Yuki, kelas masih belum selesai, Silahkan Putri untuk kembali ke tempatnya" Tegur pelayan tua yang mendampingiku. Dia bagaikan seekor anjing penjaga untukku, selalu mengawasi setiap pergerakanku dan bersikap seolah Dia adalah penguasaku hanya karena mandat dari Ibu Suri.
"Maafkan Saya pelayan Wanzel, Pangeran memerintahkan kepada Saya bahwa Anda sudah tidak perlu ikut menjaga Putri Yuki karena semua tugas itu dikembalikan lagi ke Saya. Ini surat perintah resminya" Rena maju dengan penuh hormat, memberikan amplop surat bersetempel resmi milik Pangeran. Pelayan Wanzel menerimanya dengan wajah tidak percaya. Aku kurang menyukainya, Dia lebih sering mencari muka kepada Ibu Suri dengan menjelek-jelekanku. Jika Aku tidak menurutinya Dia mencoba mengancamku secara halus menggunakan nama Ibu Suri. Pantas saja banyak pelayan yang tidak menyukainya, Dia pandai menjilat. Aku tahu Ibu Suri orang yang sangat cerdas, Tapi Aku tidak mengerti kenapa Dia menempatkan Pelayan Wanzel yang seperti ini untuk mengawasiku.