Win Direction

Win Direction
7



"Silahkan kalau Kau tidak ingin makan, tapi...Aku akan terus menyuapimu satu persatu seperti ini" Ancam pangeran dengan suara pelan namun cukup membuat nyaliku ciut.


Pangeran menggigit kembali kue yang diambil di piring, Menarikku mendekatinya. Aku langsung menahan badannya dengan kedua tanganku. Menolaknya.


"Aku bisa makan sendiri" Kataku langsung.


Pangeran menghentikan gerakannya. Dia memandangku, menunggu. Aku mengambil kue di piring dan langsung memakannya untuk membuktikan perkataanku.


"Ingat ini Yuki, Semakin Kau mengodaku, semakin Aku punya banyak alasan untuk menyentuhmu" Pangeran mengeluskan ujung jarinya di bahuku yang terbuka. seketika bulu kudukku langsung berdiri. Aku mengkeret menjauhinya sambil masih memakan kue di tanganku. Pangeran mengubah posisinya, Duduk bersandar dengan tenang. Kami hanya diam, Hanya terdengar suara pelayan yang sibuk bekerja di ruang sebelah.


Keesokan harinya, Aku terbangun ketika hari sudah beranjak siang. Badanku terasa sakit semua, semalam Pangeran kembali memperkosaku. Dia tidak membiarkanku beristirahat dengan tenang. Dia tidak peduli bahkan ketika Aku bersikap dingin terhadapnya, Dia tetap meneruskan niatnya sampai tuntas.


Aku berbalik ke samping dan mendapati Dia sudah pergi.


Sejak kapan dia pergi ?. Aku benar-benar tidak menyadarinya. Yang Aku ingat Aku baru bisa tidur ketika hari hampir pagi. Dia terus memperkosaku tanpa memberiku jeda untuk beristirahat. Aku tidak mengerti bagaimana Dia mendapatkan tenaga yang begitu banyak.


Aku ingin kembali meneruskan tidur namun Aku merasakan banyak mata menatapku. Aku langsung duduk dan terkejut saat menyadari para pelayan sudah berbaris rapi di tengah ruangan menungguku.


"Kami sudah mempersiapkan perlengkapan mandi, silahkan putri jika sudah siap" Sapa seorang pelayan yang terlihat lebih matang daripada yang lain.


Pakaianku yang semalam dibuang Pangeran ke lantai sudah berada di dalam keranjang kotoran yang dibawa pelayan dalam barisan. Wajahku memerah, menyadari mereka mengetahui apa yang terjadi antara Aku dan Pangeran. Aku menutupi badanku yang tanpa busana dengan selimut. Binggung harus bersikap bagaimana.


"Mari putri Kita harus bersiap, Ibu suri sudah menunggu kita ?" Kata pelayan itu lagi dengan sikap sopan, Seolah apa yang dilihatnya sekarang ini adalah hal yang wajar.


Aku menatap pelayan terkejut. Ibu suri ?.


"Beliau adalah Ratu sebelumnya, Ibu dari yang mulia Raja Bardansah" Jelas pelayan yang melihatku kebingungan.


Aku turun dari tempat tidur. Lantainya terasa dingin ditelapak kakiku. Aku tidak pernah bertemu dengan Ibu suri sebelumnya. Biasanya Rena akan menceritakan kepadaku terlebih dahulu sebelum Aku bertemu dengannya walau Aku tidak bertanya.


Rena...


Aku terlonjak menyadari sesuatu yang salah. Rena tidak ada di sini ?. Seharusnya Dia sudah mengetahui bahwa Pangeran berniat membawaku kembali. Kemana Dia ? Kenapa Dia tidak datang menemuiku ?.


"Apa kalian bisa memanggilkan Rena untukku ?" Tanyaku cepat.


Para pelayan diam kebingungan. "Rena...Pelayanku...kalian mengenalnya kan ?" Kataku lagi memberi penegasan pada mereka. Ada beberapa wajah yang kukenal dulu melayaniku dibawah pengawasan Rena. Mustahil jika Mereka tidak mengenalnya.


"Tentu saja Kami mengenalnya putri, Tapi mohon maaf, Untuk saat ini Dia tidak bisa melayani putri lagi" jawab pelayan dengan wajah enggan.


"Dia...dia sedang menjalani masa hukuman di penjara istana"


"Apa ?!" Aku spontan berteriak kaget.


Rena di hukum ?. Dia dipenjara ?.


"Kenapa tidak ada yang memberitahukanku masalah ini" Kataku marah.


"Maafkan Kami tuan putri, Kami tidak berani memberitahukan karena sepertinya Putri masih bersedih. Ampunin Kami tuan putri"


Apakah Aku terlihat semenyedihkan itu ?.


Aku menatap mereka yang ketakutan. Rena dihukum. Dia dipenjara. Kepalaku terasa berat. Aku menghempaskan diri ke kursi, duduk terpekur.


Para pelayan menundukan kepala penuh ketakutan. "Kenapa Dia di penjara ?" Tanyaku lagi kali ini lebih tenang.


"Kerajaan menganggapnya telah lalai menjalankan tugas sehingga Putri dapat kabur dan kembali ke dunia Putri yang lama"


Apa...Jadi benar, Dia di hukum karena Aku. Aku semakin merasa bersalah karenanya. Tidak seharusnya Dia mengalami hal ini.


"Siapa yang memenjarakan Dia ?"


Para pelayan saling pandang satu sama lain. Ketakutan tampak jelas di wajah mereka


"Pa...Pangeran Putri"


Seharusnya Aku sudah menduga akan hal ini. Dia pasti akan melampiaskan pada orang terdekatku.


"Sudah berapa lama Dia dipenjara ?"


"Enam bulan putri"


Astaga, enam bulan ?. Itu bukan waktu yang singkat. Aku pernah masuk ke dalam penjara saat menengok Bangsawan Dalto, Aku tahu benar bagaimana keadaan di sana. Selama ini Aku sibuk meratapi nasib tanpa peduli orang-orang yang terkena imbas akibat ulahku. Aku sangat menyesal karenanya.


Aku selesai berganti pakaian. Mereka mendandaniku sedemikian rupa. Pangeran tidak berada di istana, Dia sedang berada di Istana Raja untuk membahas penobatan calon ratunya. Aku tidak mengerti Dia, Jika Dia akan melakukan penobatan Calon ratunya untuk apa Dia membawaku kemari ?. Aku yakin seluruh isi istana mengetahui bahwa Aku dan Pangeran sudah tidur bersama. Bukankah tugas Pangeran membuat calon ratu jatuh cinta dan bersedia menikah dengannya ?. Jika begini wanita bodoh mana yang mau Menikah dengan Pria yang meniduri gadis lain dan menyimpannya di kamarnya.


Pelayan tua yang sembari tadi pagi tidak muncul, tiba-tiba datang dan menyampaikan pesan dari ibu suri agar Aku ke istanannya. Dari pelayan yang melayaniku, Aku tahu bahwa semenjak Ratu meninggal dunia, Segala tugas kerajaan diambil oleh Ibu suri. Dia jugalah yang mengatur ***** bengek di istana wanita Raja Bardansah dan Pangeran Riana. Aku menduga pelayan tua ini adalah utusan Ibu Suri yang ditugaskan untuk memata-mataiku. Dari sikap para pelayan, Tampaknya Dia memiliki posisi yang cukup ditakuti dikalangan pegawai istana.