Win Direction

Win Direction
32



"Kalian sudah kembali, Aku hampir saja menyusul kalian" Ujar Pangeran Sera begitu Kami tiba di aula. Raja dan Ratu sedang mengobrol dengan tamu kerajaan. Pangeran menghampiri kami begitu Kami memasuki aula.


"Maaf Kami terlalu lama, Aku dan Putri Margintha terlalu asyik mengobrol di taman sehingga lupa waktu" Kataku menyesal. Pangeran menyentuh telapak tanganku, terasa dingin seperti es. Dia menggosoknya agar hangat.


"Putri Yuki sudah berjanji padaku untuk menemaniku lain kali" Seloroh Putri Margintha disampingku. Dia tampak tenang.


"Apa yang kalian bicarakan di luar sampai selama ini ?" Selidik Pangeran pada Putri Margintha.


"Ini adalah rahasia wanita. Kakak harus jadi wanita dulu untuk memahaminya"


Pangeran Sera menjewer telinga Putri Margintha, membuatnya mengaduh kesakitan.


"Kejam sekali"


Kami makan malam bersama di aula dengan tamu kerajaan lainnya. Setelah berbincang sejenak, Pangeran Sera mengajakku berpamitan dan pulang.


"Senang bersama keluargamu. Mereka sangat baik" Kataku saat diperjalanan pulang.


"Aku cukup senang mendengarnya. Tampaknya setelah ini Kau akan kerepotan menghadapi antusiasme dari Margintha"


"Putri Margintha sangat bersemangat"


Pangeran Sera mengangguk membenarkan.


Benar seperti yang dikatakan Pangeran Sera, Setelahnya Putri Margintha sering berkunjung menemuiku. Dia mengajakku hanya untuk makan bersama atau melakukan kegiatan bersama di istana. Aku cukup terhibur akan kehadiran Putri Margintha.


"Cari terus Dia sampai ketemu. Perketat ibukota. Tangkap semua yang mencurigakan" Terdengar suara Pangeran Sera dari tempatku berada. Saat ini Dia sedang mengadakan rapat kerajaan. Suaranya terdengar sampai tempatku.


Tampaknya Pangeran Riana masih belum diketemukan sampai sekarang. Aku duduk di pinggir kolam seorang diri. Putri Margintha sedang menemani Ratu berobat di


istana. Menurut kabar kondisi fisik Ratu memang lemah semenjak Dia melahirkan anak kembar.


"Loh..loh kenapa Dia ada di sini" Aku berbalik dan mendapati beberapa orang Putri berkumpul di belakangku. Salah satunya Putri Nadira, Putri Nadira adalah anak dari selir Raja Jafar. Dia dikenal sebagai Putri tercantik di negeri Argueda. Namun sayangnya sifatnya tidak secantik parasnya. Konon Dia sering sekali menindas yang lemah. Sangat arogan dan keras kepala. Putri Nadira menatapku dengan pandangan merendahkan. Setiap hari Dia membullyku dengan kata-kata bersama teman-temannya.


Entah kenapa Putri raja dari para selir itu terlihat angkuh seperti ini. Mengingatkanku kepada Putri Norah.


"Lihat Dia, Mana ada Putri yang mengangkat gaunnya dan mencelupkan kakinya ke kolam ikan. Benar-benar seperti Putri yang tidak terdidik" Sindir Putri Nadira disusul tawa dari teman-temannyam Aku mengepalkan tanganku marah. Putri Nadira selalu saja mengkoreksi apa yang kulakukan. Membuatku muak. Aku berusaha menahan diri untuk tidak meladeninnya.


Aku memalingkan wajahku, mengacuhkan keberadaan mereka. Dengan begitu Aku berharap mereka pergi.


"Sudah jangan dipedulikan Dia, Nanti Dia mengadukan kita lagi yang bukan-bukan pada kakak. Dia seperti ular, Pintar mencari muka dihadapan Kakak"


Putri Nadira berjalan dengan gaya dibuat-buat. Melewatiku.


"Permisi Putri Yuki"


Aku terkejut, Putri Nadira secara tiba-tiba mendorongkan badannya hingga menabrak punggungku. Kejadiannya begitu cepat, Aku tidak sempat berpegangan dan langsung jatuh masuk kedalam kolam.


"Byuurr"


Gelak tawa terdengar kencang dari para Putri.


Aku berenang ke pinggir, berpegangan pada dinding kolam. Rambut dan bajuku basah kuyup. Aku Menatap Putri Nadira tak percaya.


"Putri Nadira" Bisikku tak percaya.


"Lihat Dia...Lihat penampilannya"


"Benar-benar rendah, Tidak pantas sama sekali menjadi Istri Pangeran"


Wajahku memerah menahan marah dan malu yang berkecamuk didada. Aku menahan mati-matian perasaan ingin menangis. Mataku sudah berkaca-kaca.


Orang-orang mulai berdatangan untuk melihat keributan yang terjadi.


"Ada apa ini ?"


Suasana yang ramai seketika hening. Tidak ada suara apapun selain bisikkan lirih dari beberapa orang.


Pangeran Sera muncul secara tiba-tiba. Para Putri terdiam dengan wajah pucat pasi.


"Kakak ada di istana ?" Kata Putri Nadira tak percaya. Jelas Dia tidak mengetahui bahwa Pangeran berada di istana, sedang rapat di ruangan tak jauh dari kolam.


Pangeran Sera menatap sekeliling. Dia terkejut ketika akhirnya melihatku. "Yuki" Panggilnya kaget.


"Nadira apa yang terjadi ?" Tanya Pangeran Sera dengan suara tegas. Aku terkejut ketika melihatnya. Dia menatap Putri Nadira dengan tajam. Belum pernah Aku melihat Pangeran seperti ini sebelumnya.


Benar kata Putri Margintha, Pangeran Sera sangat menyeramkan ketika marah.


Putri Nadira mengkeret ketakutan. "Mohon maaf Pangeran, Kami tidak melakukan apapun. Sangat tidak sopan menganggu Putri Yuki yang sedang ingin berenang bersama ikan-ikan" Ujar Putri Nadira dengan suara bergetar. Hilang sudah rasa sombong di wajahnya. Semua teman-temannya menunduk ketakutan.


"Benarkah ?" Tanya Pangeran dingin dengan wajah datar.


Semua terdiam.


"Aku..Aku terjatuh ketika sedang melihat ikan" Kataku memecah kesunyian. Pangeran berpaling menatapku. Dia kemudian mendesah.


"Apa yang harus kulakukan padamu Yuki ?" Tanya Pangeran sendu.


Pangeran berjalan menghampiri kolam, dan langsung menceburkan diri ke kolam.


"Setiap hari memikirkanmu bisa pergi sewaktu-waktu dariku membuatku takut"


Aku langsung melingkarkan tanganku di lehernya ketika Dia meraihku ke pelukannya. "Di dalam kepalaku hanya ada dirimu. Aku jatuh cinta...cinta kepadamu Yuki" Pangeran Sera menatapku penuh cinta.


Waktu seolah terhenti. Hanya Aku dan Pangeran Sera. Aku menatap mata Pangeran Sera, Begitu mempesona. Seolah Aku bisa tersedot didalamnya.


Seolah Aku lupa bagaimana cara bernafas yang benar. Menatap Matanya membuatku sesak.