
"Aku baik-baik saja" Kataku menolak saran dari Putri Margitha.
Putri Margitha mendesah. "Putri terlalu baik, Kalau Aku jadi Putri, Aku sudah mencambuk para Putri itu karena telah menghinaku"
"Aku tidak tahu kenapa mereka membenciku, Mungkin Aku telah melakukan kesalahan yang menyakiti mereka" Aku mencoba kembali menghindari topik ini.
"Tentu saja karena Mereka menyukai kakak, Mereka merasa cemburu pada Putri. Kakak memang baik orangnya, Tapi, Dia tidak pernah selembut itu pada Putri"
"Apakah ini hanya tidak perasaan kalian saja"
"Tidak. Aku yakin tidak" Tolak Putri Margitha tegas. "Kakak banyak melewati batas karena Putri. Misalnya Kakak mendapat luka dalam di Garduete karena telah memulangkan Putri ke dunia Putri"
"Apa" Aku menatap Putri Margitha terkejut.
"Apa Putri tidak tahu"
Aku menggeleng kebingungan.
"Kakak menyuruh Naru menggunakan tenaganya untuk memulangkan Putri. Akibatnya Kakak harus dirawat selama sebulan lebih karena luka dalam yang diderita. Beruntung sekarang kondisinya baik-baik saja. Membawa Putri kemari pun sebenarnya juga salah satu sikap kakak yang melewati batas. Biasanya Dia bisa berpikir jernih, Tapi jika mengenai Putri Kakak sepertinya berbeda"
Aku baru mendengar hal ini. Pangeran Sera tidak mengatakan hal ini sebelumnya. Dia memulangkanku ketika Aku meminta pulang. Aku tidak memikirkan akibatnya akan separah ini. Betapa egoisnya Aku.
"Putri apakah Aku boleh bertanya sesuatu pada Putri ?" Ujar Putri Margintha ketika melihatku hanya terdiam.
"Ya, silahkan"
"Aku dengar Putri adalah Calon Ratu Pangeran Riana"
Aku menatap Putri Margintha menunggu. Agak terkejut akan perubahan topik yang mendadak seperti ini.
"Ya.." Bisikku lirih ketika melihatnya juga diam menunggu jawabanku.
"Aku juga mendengar Pangeran Riana adalah Pangeran yang cukup tampan dan berkharisma. Dia seperti gunung es yang misterius, Tapi itulah daya tariknya." Putri Margitha tampak sangat berhati-hati memilih kata-kata. Aku baru menyadari alasan Dia mengajakku kemari bukan untuk menikmati pemandangan atau melepaskan diri dari suasana menjemukan di aula. Dia kemari untuk berbicara empat mata denganku. Sebagai seorang adik yang menyayangi kakaknya. "Aku juga tau hubungan Putri dengan Pangeran Riana sudah sangat jauh"
"Apa yang ingin Putri tanyakan ?" Kataku langsung. Aku tidak suka jika ada yang membahas hubunganku dengan orang lain.
"Baiklah, Aku akan bertanya secara langsung. Diantara Kakak dan Pangeran Riana siapakah yang Putri pilih untuk bersama ?"
Aku mengerjap setelah terdiam beberapa saat.
"Apa" bisikku binggung.
"Putri tidak bisa bersama kedua orang sekaligus. Suatu hari nanti Putri harus memilih."
Putri Margintha benar. Aku tidak bisa bersama kedua Pangeran ini sekaligus. Apalagi jelas Mereka menginginkan hubungan yang lebih denganku. Keduanya tidak ingin persahabatan yang kutawarkan. Aku harus memilih suatu saat nanti.
"Aku..."
"Pangeran Riana sangat tampan tapi Kakak juga tidak kalah tampan. Jika Aku jadi Putri Aku pasti juga binggung" Ujar Putri Margitha meredakan suasana.
"Aku selalu memikirkan hal ini. Namun Aku belum mempunyai jawabannya" Kataku jujur.
"Apalagi Kakak dan Pangeran sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah walau Putri sudah memberi jawaban"
Aku menganggukan kepala menyetujui. Di luar dugaan Putri Margintha cukup cerdas untuk membaca situasi.
"Pikirkan baik-baik Putri, Dengan siapa hati Putri diletakkan. Sebagai Adik, Aku sangat ingin melihat Kakak bahagia. Dia begitu mencintai Putri. Namun semua jawaban ada di tangan Putri"
"Terimakasih" Kataku lega.
Putri Margintha tersenyum. Kami sama-sama diam untuk beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Angin bertiup cukup kencang, Terdengar suara gemerincing ringan di belakang kami. Seperti suara perhiasan yang beradu.
Saat Aku berbalik, Mataku bertatapan dengan seorang Putri cantik berambut coklat. Perawakannya halus dan lembut. Dia terkesan malu-malu. Namun entah kenapa Aku merasakan kesedihan di wajahnya.
"Putri Alena" Panggil Putri Margitha senang. "Sedang Apa putri disana. Kemarilah, Kita bisa mengobrol bersama" Ajak Putri Marginta lagi.
Putri Alena tampak serba salah. Raut wajahnya menunjukan kebinggungan. "Saya...Maaf" Katanya lagi dengan suara lirih namun cukup jelas untuk ku dengar. Sedetik kemudian Dia berbalik pergi dengan cepat.
Putri Margintha melihat terperangah. "Ada apa dengan Putri Alena ?" Tanyanya tak mengerti.
"Dia tampak sedih" Kataku melihat punggungnya yang perlahan menghilang di kejauhan.
"Putri Alena sangat mencintai kakak, beberapa kali Dia dilamar namun selalu menolak. Putri Alena sangat berharap bisa menikah dengan Kakak."
Jadi karena itukah Dia bersedih.
"Jangan Khawatir Putri, Kakak sangat mencintai Putri Yuki." Ujar Putri Margintha menyalah artikan tatapanku. "Sudah lama kita disini. Kita harus kembali ke dalam. Disini sangat dingin"
Aku menganggukan kepala menyetujui. Badanku sudah terasa membeku. Angin cukup kencang disini sedang pakaianku sangat tipis.
"Aku akan mengunjungi Putri lain kali. Kita bisa bersama selama kakak bekerja. Sekarang Ayo kita kembali ke dalam, Kakak bisa marah jika Aku membawa Putri terlalu lama"
Aku berdiri. Mengikuti Putri Margintha berjalan didepanku. Kami mengobrol mengenai Istana. Sambil berjalan Putri Margintha menunjukan tempat-tempat indah diistana yang kami lewati.
Dari kejauhan Aku bisa melihat sosok Putri Alena, Dia berdiri diatas tebing seorang diri. Menatap ke laut didepannya.
Aku bisa merasakan kesedihannya. Angin meniup rambutnya, Aku terus bertanya apa yang Dia pikirkan sekarang. Seorang lelaki yang Dia cintai datang ke depannya membawa seorang wanita untuk dinikahi.