
Pangeran Sera berada di dalam ruangan. Didepannya ada Putri Alena. Keduanya berdiri mematung. Putri Alena berdiri dengan wajah pucat ketika melihat Pangeran. Ditangannya ada sebuah konde milikku, Dua lainnya berada di lantai diatas kain. Sedangkan Pangeran Sera menatapnya tak percaya atas apa yang dilihatnya. Sepertinya Pangeran Sera muncul ketika Putri Alena sedang mengemasi konde untuk diambilnya secara diam-diam.
Aku menatap Pangeran Sera dan menyadari. Pangeran menangkap sesuatu yang salah dari diriku. Dia curiga. Sehingga merencanakan kepergiannya untuk mengelabuiku. Diam-diam, tampa sepengetahuanku Dia merencanakan untuk kembali dan bersembunyi di kamar.
Entah kenapa hati kecilku sekarang justru mengatakan sangat aneh jika Pangeran tidak mengetahui rencanaku. Dia selalu bisa membacaku semudah membalikkan buku.
"Kau menjembakku" Tuding Putri Alena dengan suara penuh kemarahan terhadapku. Membuyarkan kesunyian yang terjadi diantara Kami. Aku menatap Pangeran Sera dan Putri Alena bergantian. Aku tidak tahu harus berkata apa. Mulutku seolah terkunci. Aku tidak menyangka akan menemukan Pangeran Sera dalam rencana ini.
"Dasar Kau wanita licik.Kau iblis. Kau menjebakku dihadapan Pangeran Sera" Teriak Putri Alena marah.
"Alena" Tegur Pangeran Sera tak suka.
"Aku tidak tahu Pangeran berada disini" Tolakku membela diri. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak menyangka Putri Alena yang kelihatan Kalem dan anggun seperti ini mampu berteriak begitu kencangnya. Aku mendengar suara gelak tawa di luar dari para Putri menghilang.
"Aku tidak menyangka Kau pelakunya Alena. Kenapa Kau melakukan ini ?" Tanya Pangeran Sera dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Aku mencintamu Pangeran. Setiap malam Aku bermimpi suatu hari nanti Kau akan datang untuk menikahiku. Tapi, Mimpiku hancur ketika Dia datang dan Pangeran melakukan sumpah ksatria. Memang apa bagusnya Dia. Aku lebih baik darinya. Aku lebih baik darinya"
"Tenangkan Dirimu Putri Alena" Ujar Pangeran berusaha menenangkannya. Dia mencekal tangan Putri Alena.
"Kakak, Putri Yuki" Aku berpaling ketika Putri Margitha menyeruak masuk ke dalam secara tiba-tiba. Putri Alena menepis tangan Pangeran Sera marah ketika Pangeran Sera lengah akan kemunculan Putri Margitha. Dengan cepat Dia berlari kearahku dan langsung menodongkan pisau ke leherku. Dia melingkari badanku sedemikian rupa. Aku tidak menduga dibalik tubuhnya yang ramping, tenaganya sangat besar. Dia mencengkramku membuatku tidak dapat bergerak.
"Yuki.."
"Putri Yuki.." Panggil Pangeran Sera dan Putri Margitha berbarengan.
"Jangan mendekat.." Teriak Putri Alena dengan nada mengancam. "Atau..Aku akan menusuknya hingga mati"
Pangeran Sera menghentikan langkahnya. Para penjaga mundur ketika mendapat aba-aba dari Pangeran melalui gerakan tangannya.
"Alena lepaskan Dia, Kita bisa membicarakan ini baik-baik" Ujar Pangeran Sera dengan nada lembut.
"Pikirkanlah keluargamu. Mereka sangat menyayangimu"
Putri Alena bergerak mundur, Aku melangkah mengikutinya. Leherku rasanya tertusuk. Pisau ini sangat tajam, Aku dapat merasakannya. Sekali Tebas, Aku yakin leherku bisa terbelah olehnya.
"Beri Dia jalan" Perintah Pangeran Sera pada Para pengawal. Kami sampai di lorong. Para Putri yang telah berkumpul didepan tampak terkejut. Mereka sama sepertiku, Tidak menyangka Putri Alena akan senekat ini.
"Alena, Apa yang Kau lakukan" Panggil Putri Nadira tak percaya. "Lepaskan Dia, Kau tak perlu melakukan hal ini"
"Tidak Nadira, Sudah terlambat. Aku sudah melangkah terlalu jauh" Bisik Putri Alena kelu.
"Tidak ada kata terlambat. Kau bisa menghentikannya sekarang. Aku yakin kerajaan akan memahaminya" Bujuk Putri Nadira lagi. Putri Nadira dan Putri Alena memang berteman baik dari kecil. Dimana ada Putri Nadira disitu ada Putri Alena.
"Jangan membodohiku Nadira, Aku tau apa yang kulakukan dan resikonya" Ujar Putri Alena dengan suara bergetar. "Dia telah menghancurkan mimpiku. Dia merebut angan-anganku. Aku sangat membencinya sampai membunuhnya pun tidak memuaskan kebencianku" Kami terus melangkah perlahan dilorong. Pangeran mengikuti Kami dengan sangat berhati-hati. Dia memandangku cemas. Sementara itu Putri Nadira juga terus mengikuti Kami disamping Pangeran Sera.
"Ya..Aku yang menaruh Racun Pada makanannya dan memberi penawar di minuman Pangeran. Setelah mengawasinya Aku tau Dia tidak pernah meminum Anggur. Karenanya Aku mengelabui para pelayan sehingga dapat menyusup untuk menaburkan racun di aula" Jelas Putri Alena seolah apa yang dilakukannya adalah benar. Dia mengatakan dengan lancar dan penuh kebanggan yang ganjil. "Aku juga yang membidikkan panah kearahnya. Tapi sialnya pelayannya melihatnya. Sangat disayangkan, Betapa Bodohnya pelayan itu, Dia mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan iblis ini. Padahal Dia akan menikah"
Putri Alena terus menarikku hingga Kami keluar dari istana dan menuju benteng yang tinggi.
"Apa yang Kau lakukan ini akan membuat Pangeran bersedih" Kataku berusaha mengingatkannya. Pangeran Sera terus mengikuti Kami. Berkali-kali Dia mengingatkan Para Penjaga untuk berhati-hati.
"Diam, Tau Apa Kau soal kesedihan" Bentak Putri Alena kencang.
Dia melihat ke arah Pangeran Sera dengan marah. "Singkirkan para Penjaga itu Atau Aku akan menusuknya sekarang" Ancam Putri Alena. Darah mengalir di leherku ketika Dia menusukkan ujungnya. Aku meringis kesakitan.
"Baiklah..Baiklah..Semua mundur...mundur..ini perintah" Ujar Pangeran mengalah.
Kami terus melangkah dan akhirnya sampai diatas benteng yang berdiri tiga meter dari tanah. Diatas benteng ini ada jalan yang hanya bisa dilalui dua orang. "Singkirkan penjaga dibawah juga" Perintah Putri Alena lagi. Pangeran memberi kode pada Para penjaga yang berjaga dibawah untuk membubarkan diri. Putri Nadira terus mengikuti Pangeran dari belakang. Dia tampak khawatir. Ada permohonan dalam matanya kepada sahabatnya agar berhenti.