Win Direction

Win Direction
21



Pangeran Sera tidak menghentikan kudanya. Tercium bau darah di hidungku, Aku terkejut dan langsung melepaskan gigitanku. Di lengannya, tercetak jelas memar berwarna kebiruan berbentuk gigi. Ada darah mengalir disana. Aku menatap Pangeran Sera tak percaya, Dia masih fokus mengendarai kudanya, melaju kencang bagaikan panah yang dilepas dari busurnya.


Kami terus melaju, Aku tidak tahu berapa lama Kami berjalan, Bulan sudah terlihat di langit.


"Lihatlah itu Yuki, Laut Amura." Ujar Pangeran Sera sembari menunjuk pemandangan didepan kami. Aku memicingkan mata, mencoba melihat apa yang dimaksud.


Air laut bergemelap ditimpa cahaya rembulan. Berwarna gelap. Dari kejauhan Aku bisa mendengar debur ombak yang terhempas karang. Tercium aroma khas pantai dari angin yang bertiup.


"Akhirnya Aku bisa menunjukan negeriku padamu" Bisik Pangeran lagi. Dia terlihat puas. Aku menyentuh luka bekas gigitanku di lengannya.


"Kenapa.." Bisikku balik.


Pangeran merengkuh wajahku lembut, Lalu dia menciumku mesra.


"Luka ini tidak seberapa dibandingkan jika Aku harus kehilanganmu. Memikirkanmu setiap hari bersama Riana membuatku merasa buruk" Jawab Pangeran Sera setelah melepaskan ciumannya.


"Ikutlah denganku Yuki, Aku berjanji akan membahagiakanmu. Kau akan selalu jadi satu-satunya wanita dalam hidupku" Ujar Pangeran Sera penuh permohonan. Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi Aku banyak berhutang budi atas kebaikannya. Tapi disisi lain Aku juga mencemaskan keadaan di perbatasan.


"Pangeran" Seorang Prajurit Argueda muncul menyelamatkan situasi yang canggung. "Maaf menganggu, Kapal sudah siap berangkat kapanpun Pangeran inginkan"


"Kapal ?" Tanyaku tidak mengerti.


"Kita akan berangkat dengan kapal. Hanya ini jalan paling aman menuju Ibu kota dengan aman" Jawab Pangeran Sera pelan.


"Perintahkan pasukan untuk bersiap. Kita berangkat sekarang juga"


"Baik Pangeran"


Prajurit itu berlalu dengan cepat dari hadapan Kami. Pangeran memacu kudanya pelan, menuntunnya untuk berjalan menuju pantai.


Aku terperangah saat melihat Kapal kerajaan didepanku. Sangat besar. Dia bersandar di bekas dermaga yang tersapu tsunami. Masih ada papan-papan bekas dermaga yang telah dikumpulkan dan disusun rapi sesuai ukurannya untuk membangun dermaga sementara untuk keadaan darurat. "Ayo Yuki" Pangeran Sera memegang tanganku lembut. Menuntunku agar mengikutinya. Sepanjang persiapan, Dia tidak pernah membiarkanku jauh darinya. Mungkin Dia takut Aku akan menghilang lagi seperti tempo hari.


Aku melangkahkan kakiku menaiki perahu. Sorak-sorai terdengar membahana menyambutku. Aku merasa tidak percaya diri mengingat betapa berantakannya penampilanku saat ini.


Isi didalam kapal lebih membuatku terkejut bukan main. Kamar yang kutepati sangat mewah. lebih cenderung seperti suasana hotel bintang lima, bukan seperti kamar pada kapal yang pernah kukunjungi sebelumnya. Semua furnitur adalah barang kelas atas. Empat orang pelayan masuk ketika Aku masih terbengong ditempatku. Pangeran Sera langsung meninggalkanku untuk rapat setelah Dia mengantarkanku ke kamar. Terdengar suara mesin dibawah kakiku. Aku menengok ke cendela dan mendapati kapal ini mulai bertolak ke laut.


Sepertinya Pangeran Sera tidak berniat memperlama kehadirannya di Perbatasan.


"Mari putri, Kita akan membantu putri membersihkan badan dan berganti pakaian" Ujar pelayan dengan sikap penuh hormat. Aku melihat diriku dalam cermin. Rambutku berantakan, Ikatan rambutku sudah mencuat kesana kemari tidak tentu arah. Pakaianku kotor dan lusuh. Bahkan Pakaian para pelayan itu lebih bagus daripada pakaian yang kukenakan sekarang. Sebelah sepatuku terlepas ketika Pangeran Sera menaikkanku keatas kuda. Wajahku juga sangat kotor, Rasanya ada berlapis debu menempel di sana. Melihatku yang hanya terdiam melamun, Pelayan itu kembali berkata "Atau Putri ingin menunggu Pangeran Sera untuk mandi bersama ?"


"Apa.." Kataku terkejut.


"Ti..tidak..Aku mandi sendiri" Tolakku langsung ketika Aku sudah dapat mencerna kata-kata Para pelayan.


"Kenapa Putri, Putri akan menikah dengan Pangeran suatu saat nanti. Adalah hal yang wajar Jika Putri dan Pangeran mandi bersama. Pangeran tentu akan senang mendengarnya"


"Tidak terimakasih, Aku mandi saja sendiri" Mandi bersama, Yang benar saja.


"Apa Putri yakin ?" Tanya Pelayan itu tidak percaya. Aku menganggukan kepalaku cepat.


"Apa Putri masih malu dengan Pangeran "


"Bukan itu masalahnya" gerutuku cepat. Kami memang bertunangan tapi Aku dan Pangeran Sera tidak pernah berada dalam posisi yang tidak wajar. Sangat memalukan jika Aku mandi bersamanya.


Aku selesai membersihkan diri, dan menganti pakaianku dengan pakaian terbuat dari sutera yang halus. Bahannya lembut sehingga mudah melambai terkena angin. Rasanya cukup segar, semua kotoran ditubuhku seolah sudah lepas, Aku seperti terlahir kembali. Aku mengenakan make up setipis mungkin. Para pelayan membantuku menata rambutku. Agak kaget saat mereka tidak memaksaku untuk mengenakan banyak perhiasan.


"Pangeran melarang Kami mengenakan banyak perhiasan untuk Putri. Menurut Pangeran putri akan tidak menyukainya" Jelas pelayan sambil membantuku dibelakang.


"Terimakasih" kataku cukup senang.


"Putri sangat cantik, Pantas saja Pangeran Sera begitu tergila-gila pada putri"


"Jangan memujiku terlalu berlebih" kataku sungkan.


"Ini benar Putri, Pangeran tidak pernah memberikan respon pada wanita manapun seperti Dia pada Putri"


Aku diam.


"Sudah selesai Putri. Pangeran sebentar lagi mungkin akan segera kembali, Ada lagi yang bisa Kami bantu"


Aku mengelengkan kepalaku pelan.


"Tidak ada, terimakasih bantuannya"


"Jika Putri butuh sesuatu, Putri bisa menyampaikan pada penjaga pintu. Kami permisi dulu untuk menyiapkan makan malam"


"Aku mengerti, terimakasih"


Para pelaya bergegas berkemas, setelah memberi penghormatan mereka kemudian pergi meninggalkanku termagu sendiri.