
Aku menggoreskan catatan kecil di buku, didepanku. Mencoret beberapa nama yang kucurigai. Mengingatnya dalam pikiranku tidak membantuku, Aku harus menuangkan isi kepalaku dalam sebuah catatan. Beberapa kuberi tanda tanya untuk Putri yang kuragukan dan beberapa kuberi tanda bintang untuk Putri yang menjadi prioritas penyelidikanku.
Sampai akhirnya Aku berada di urutan di mana nama Putri Alena berada. Entah kenapa terbesit dalam ingatanku wajahnya yang begitu sedih. Ada kehancuran yang begitu besar didalam dirinya. Aku pernah merasakan kehancuran itu saat Bangsawan Dalto meninggal, Namun ini adalah kehancuran versi lain. Orang yang dicintainya, seseorang yang sampai membuat Dia rela menolak perjodohan yang diadakan untuknya, tidak memandangnya, bahkan Orang itu melakukan sumpah untuk tidak menikahi gadis lain seumur hidupnya. Putri Alena memiliki cinta yang cukup besar dan dalam pada Pangeran Sera. Di matanya, hanya ada Pangeran.
Aku tertegun dengan pikiranku, Namun Aku tidak bisa mengabaikan sekelebat pikiran yang secara tiba-tiba mempengaruhiku.
Putri Alena tidak pernah membullyku seperti Putri yang lain, Namun Dia justru menghindariku. Tapi bukan Artinya Putri Alena tidak membenciku bukan ?.
Seseorang boleh tidak menunjukan perasaan bencinya secara terang-terangan, Perasaan lain seperti Kesedihan dapat menutupi perasaan benci itu. Tapi bisa jadi perasaan yang ditutupinya sebenarnya jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang diperlihatkan orang lain secara terang-terangan.
Firasatku mengatakan Dia adalah pelakunya. Perdana menteri Borindo melihat jelas rasa cinta Putri Alena pada Pangeran Sera, Dia kemudian memanfaatkan Putri Alena untuk menghancurkan Pangeran Sera.
Tapi...Aku tidak punya bukti akan kecurigaanku. Jika Aku salah melangkah, Aku bisa dituduh memfitnah Putri Alena. Aku harus memikirkan cara untuk membuktikan kecurigaanku ini benar.
Tapi apa ?.
Aku tidak mungkin menceritakan hal ini pada Pangeran Sera. Jika Dia mengetahui Aku ternyata menyelidiki masalah penyerangan ini, Dia pasti tidak akan mengizinkanku lagi ke istana Raja. Aku juga tidak mungkin menyusup ke.kediaman Putri Alena. Aku tidak punya alasan yang tepat untuk berkunjung ke sana.
Sebuah tepukan lembut di pundakku membuatku terlonjak. Ketika Aku berbalik Pangeran Arana sudah berdiri di dekatku.
"Maaf Aku mengagetkan Putri" Ujar Pangeran Arana menyesal ketika Dia melihat ekpresiku. Aku menutup Buku didepanku dengan gerakan yang wajar agar Pangeran Arana tidak curiga. Aku tidak ingin Dia juga mengetahui apa yang sebenarnya sedang kulakukan bersama Putri Margitha.
"Tidak apa-apa" Bisikku lirih.
"Aku sudah memanggil Putri sembari tadi. Tapi sepertinya Putri sedang serius memikirkan sesuatu sehingga tidak mendengarkan panggilanku" Jelas Pangeran Arana lagi. "Apa Aku bisa duduk bersama Putri ?" Tanya Pangeran Arana sopan.
Aku menganggukan kepala menyetujui. Pangeran Arana menarik kursi di dekatku dan duduk disana dengan sikap santai.
"Pemandangan pantai dari sini cukup indah. Aku lebih suka melihatnya di sini daripada harus berada di pantainya langsung" Pangeran Arana berusaha membuka obrolan.
Aku menatap langit yang mulai berubah warna menjadi orange kemerahan. Laut tampa batas, Kapal-kapal nelayan tampak mulai belayar menuju lautan. "Ya, Pangeran benar" Kataku Akhirnya mengakui betapa indahnya pantai dilihat dari tempatku berada. Aku seolah bisa memandang dibawahku dengan bebas.
"Ya, Silahkan"
'Apa Putri sedang bertengkar dengan kakak ?"
Aku mengerjap menatap Pangeran Arana sejenak. "Apa ?" Kataku kebingungan.
Pangeran Arana tersenyum melihat ekpresiku. Dia tampak lega. "Maafkan Aku, Tadi Aku kira Putri sedang bertengkar dengan Pangeran"
"Kenapa Pangeran Arana sampai berpikir seperti itu ?"
"Karena Putri tidak menggenakan hiasan rambut yang diberikan kakak"
Refleks, Aku memegang rambutku. Aku memang tidak mengenakan konde yang diberikan Pangeran Sera untukku. Aku pikir itu adalah hal yang biasa saja. Aku tidak mungkin mengenakannya sepanjang waktu.
"Apakah ini aneh ?" Tanyaku tak mengerti.
"Hiasan rambut itu milik ibu yang diberikan kepada kakak untuk nanti diberikan kepada wanita yang dicintainya. Itu juga sebagai tanda pengikat antara kakak dan wanita tersebut" Jelas Pangeran Arana. Rena juga pernah mengatakan padaku. "Hanya Keluarga inti dan juga pelayan Pribadi Putri yang mengetahuinya. Tapi suatu saat hal itu pasti akan di sebarkan oleh kerajaan apalagi Pangeran sudah memberikannya pada Putri"
Aku diam mendengarkan penjelasan Pangeran Arana. Disaat seperti ini Aku merindukan Rena, Dia pasti akan memberitahukanku terlebih dahulu jika ada yang salah.
"Karena pentingnya perhiasan itu, Sebenarnya ada baiknya Putri setiap keluar kamar memakainya. Karena itu juga adalah simbol pengakuan kerajaan akan status Putri, Apa Kakak tidak memprotes Putri tidak mengenakannya ?"
"Maafkan Aku Pangeran Arana, Aku tidak tahu" Kataku menyesal. "Pangeran Sera sudah pergi sebelum Aku berangkat. Terimakasih telah memberitahukun Pangeran Arana. Lain kali, Aku akan terus memakainya"
"Tidak apa-apa Putri, Putri belum begitu mengerti aturan kerajaan Argueda. Tapi Aku yakin suatu saat Putri pasti akan memahaminya"
Aku menganggukan kepala. Menyetujui pendapat Pangeran Arana. Aku tidak tahu sampai kapan Aku berada di Argueda. Tapi Aku memang harus mempelajari aturan-aturannya. Aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa kini Aku sendiri. Aku tidak boleh bermanja dan bersikap tidak mau tau.
"Kakak sengaja merahasiakan soal konde itu, Jika Para Putri mendengarnya pasti mereka akan sangat heboh apalagi Jika ada Putri yang memakainya. Kakak menghindari hal-hal seperti itu terjadi. Tapi Kita juga tidak bisa menyembunyikannya selamanya. Mungkin dengan Para Putri mengetahui arti dari konde itu, Mereka juga lebih menghargai Putri Yuki dan bersikap lebih sopan terhadap Putri"