Win Direction

Win Direction
19



"Kau sudah bisa berganti pakaian sekarang" Kataku sembari mengambil baskom dan memindahkannya ke meja sebelumnya. Aku memeras handuk yang kugunakan untuk mengelap badan Pangeran. Melakukannya selama mungkin agar Dia tidak melihat wajahku memerah menahan malu. Bagaimanapun juga Aku ini wanita normal dan diperparah dalam usia Puber. Melihat bentuk badan yang begitu sempurna seperti itu, membuatku nyaris kehilangan akal sehat. Aku tidak pernah melihat bentuk badan laki-laki sedekat ini selain Pangeran Riana. Biasanya Aku hanya mengagumi para artis dan berkhayal bisa mendapatkan satu, tidak menyangka keinginanku ini terkabul.


Apa mungkin karena Aku adalah Ciel atau hanya kebetulan? Bukankah Pendeta Serfa pernah mengatakan bahwa Keinginan seorang Ciel dapat dengan mudah dikabulkan.


Aku menggelengkan kepalaku. Melepaskan pikiran liar yang memenuhi kepalaku.


"Apa yang sedang Kau pikirkan"


Deg


Pangeran Riana berdiri tepat dibelakangku. Aku beringsut tapi Dia sudah mengurungku dengan kedua tangannya. Aroma tubuhnya tercium, sungguh menggoda. Ada keinginan di alam bawah sadarku untuk meraba setiap lekuk otot di tubuhnya. Aku sangat menyukai lekukan perutnya. Begitu sempurna. Seperti tubuh seorang Pria yang selalu kuinginkan.


Apa yang terjadi pada diriku ? Kenapa Aku seperti ini ?.


Sekuat tenaga Aku berusaha menahan godaan yang muncul. Aku mengepalkan kedua tanganku di dada. Mengurung mereka agar tidak bertindak yang memalukan mengikuti pikiranku.


"Ti..tidak ada...kenapa Kau kemari" Kataku gugup.


"Kenapa Kau sangat gugup"


"Aku tidak gugup" Bantahku cepat.


"Lalu kenapa wajahmu memerah sampai ke telinga ?" Bisik Pangeran sembari menggigit daun telingaku. Aku langsung berpaling untuk memprotesnya.


"Hentikan" Pintaku cepat.


"Untuk apa ?"


Aku terdiam, Tidak mampu menjawab pertanyaannya. Dia tau Aku tergoda melihatnya karenanya Dia mempermainkanku. Sial. Kenapa Aku begitu memalukan.


Pangeran memalingkan badanku untuk menghadapnya. Kami berdiri dalam jarak yang cukup dekat. Ingin rasanya Aku berteriak meminta bantuan agar lepas dari situasi seperti ini.


"Apa yang Kau lakukan" Kataku panik saat Dia memegang pergelangan tanganku dan mengarahkan ke dadanya.


Terasa detak jantungnya di telapak tanganku. Pangeran menatapku dalam, menunggu responku. Aku memalingkan wajah, degub Jantungku sendiri sudah tidak menentu.


"Hentikan" bisikku memohon ketika Dia menuntun tanganku untuk mengusap dadanya, turun menyusuri lekuk perutnya. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku langsung melepaskan cekalannya dan menahan tubuhnya dengan kedua tanganku. "Cukup...hentikan" Pintaku lagi kali ini lebih tegas. Wajahku terasa panas, Aku tidak tahu seberapa merahnya sekarang. "Jangan menggodaku lagi"


Aku menutup hidungku dengan punggung tanganku, sedang satu tanganku yang lain masih menahan badannya. Tanpa diduga, Pangeran Riana langsung menarikku mendekat.


Aku gelagapan saat Dia menciumku. Aku berusaha mendorongnya, Namun Dia malah menarikku, dalam sekali hentakan Aku sudah duduk diatas meja dengan kedua kakiku berada diantara pinggulnya. Baskom yang kuletakan di meja jatuh, menimbulkan suara gemelentang.


Aku agak kewalahan dengan ciumannya yang selalu menuntut untuk dilayani. Satu tangannya bahkan mulai menurunkan bajuku ke bahu.


"Sstt.."


Terdengar barang-barang lain yang berjatuhan di lantai. Aku didorong untuk tertidur diatas meja dengan kaki masih mengantung ke bawah.


Pangeran mengangkat kakiku menaiki meja dengan posisi ditekuk. Dia merunduk, mencium lututku, Tangannya yang lain mulai meraba tubuhku, mencari bagian sensitifku. Aku menutup mulutku menahan erangan akibat rangsangan Pangeran. Ciuman Pangeran semakin berbahaya di kedua Kakiku. Perlahan ciumannya semakin naik menyusuri pahaku dan kemudian ke area pribadiku.


Aku tidak mengerti diriku. Seharusnya Aku menolaknya. Namun tubuhku tidak sejalan dengan pikiranku. Mereka semua memberikan respon terhadap setiap sentuhan Pangeran. Bahkan ketika Dia mulai memasuki tubuhku Mulutku mengeluarkan suara yang Aku sendiri tidak mengerti.


Anak-anak bergandengan tangan membentuk lingkaran besar sambil bernyanyi. Aku dan beberapa pelayan mengawasi mereka, sambil Sesekali mengarahkan permainan atau memisahkan jika ada perseteruan. Sudah tiga minggu Kami disini. Keadaan jauh lebih baik dari sebelumnya. Selain membangun kembali kota, Kerajaan memfokuskan dengan perkembangan anak-anak pasca terjadi bencana. Anak-anak yang sudah tidak memiliki keluarga akan dimasukkan ke lembaga khusus dan akan diberi pendidikan serta pembekalan untuk masa depan mereka ketika mereka dewasa nanti.


"Putri Yuki lihat, Mereka anak-anak Argueda" telunjuk seorang anak ketika Aku sedang membantunya mewarnai gambar diatas kertas. Aku mendongak. Sekelompok kecil anak berdiri di balik pepohonan, memandang dengan rasa penasaran sekaligus takut khas anak-anak.


Seorang Penjaga maju dengan wajah garang bersiap mengusir mereka. "Mau apa kalian kemari. Pergi kalian" Serunya lantang membuat beberapa anak-anak berlari pergi. Aku langsung berdiri dan menegur penjaga itu.


"Jangan seperti itu, Apa salah mereka ? mereka hanya anak-anak" Kataku tak suka.


"Tapi mereka Anak-anak Argueda"


"Apa salahnya jika mereka anak dari Argueda ?. Paman tolong jangan bawa permusuhan antar negara ini kepada anak-anak."


Penjaga itu menunduk hormat. Aku berjalan pelan kearah anak-anak yang tersisa. Mereka memandangiku ketakutan. Aku berusaha berhati-hati agar mereka tidak kabur.


"Ka..kami hanya ingin melihat saja Putri...Kami tidak berniat menganggu sama sekali. Dari tempat kami berada, Kami mendengar suara nyanyian, Kami hanya penasaran saja. sungguh" Ujar seorang anak yang lebih tua umurnya ketimbang anak yang lain. Seorang anak kecil berusia lima tahun memeluk kakinya dengan tubuh gemetaran.


"Kalian boleh bergabung jika kalian mau" Kataku pelan. "Kami tentu akan senang jika kalian mau ikut bersama kami"


"Ta...tapi..." Anak itu melirik kearah penjaga tak yakin.


"Siapa namamu ?"


"Hamba Hazel dan ini adik hamba Qirana" Ujar anak itu. Kini Dia lebih rileks menjawab pertanyaanku.


"Hazel..Maukah Kalian semua bergabung bersama kami" Tanyaku dengan nada penuh keyakinan.


"Apa tidak apa-apa" Tanya adiknya masih ragu.


Aku menggelengkan kepala. "Tidak, Tidak akan ada yang menyakiti kalian Aku janji"


Aku mengulurkan tanganku, menatap mereka dengan penuh persahabatan. Hazel mengulurkan tangannya, Aku tersenyum lega.