Win Direction

Win Direction
12



Aku memegang hidungku. Sakit. Saat Aku mendongak, Pangeran Riana sudah berdiri di belakangku.


Dia sudah tidak sesuram semalam. Raut wajahnya sudah kelihatan lebih rileks daripada sebelumnya. "Ada apa ?' Tanyaku ketika melihatnya hanya terdiam memandangiku. Aku menunduk dan sadar pakaianku saat ini sangat terbuka. Segera Aku menyambar handuk didekatku dan menutupinya.


"Kenapa Kau melihatku seperti itu ?" Tanyaku lagi dengan pandangan was-was.


"Mungkin tidak ada salahnya jika Aku harus banyak meluangkan waktu untuk bersamamu. Rasanya tidak merugikan sama sekali." Ujar Pangeran akhirnya. "bukankah begitu Yuki ?"


"Aku tidak mengerti maksudmu"


"Cukup menghibur melihatmu menari atau mandi lain kali"


"Jangan bicara sembarangan" Hardikku kesal. Dia ingin melihatku saat mandi. Yang benar saja. Aku tidak akan mandi jika ada Dia.


"Kenapa ?, Bukankah kita sudah melihat masing-masing yang tanpa busana"


Pangeran menatapku menggoda. Aku memberengut marah. "Aku tidak berniat bertengkar denganmu, untuk apa Pangeran kemari ?" Kataku mencoba mengalihkan pembicaraan yang berbahaya.


"Besok akan ada pengesahan calon ratu, Dia akan diperkenalkan secara resmi oleh kerajaan" Katanya tenang. Aku merasa Dia seperti ingin menilai responku.


Aku tertegun.


Bukankah seharusnya masih seminggu lagi ?. Kenapa mendadak menjadi secepat ini ?


"Jadi kapan Aku akan Kau pindahkan?"


Pangeran bersandar, menatapku tidak suka. Sepertinya Aku telah memberinya respon yang tidak Dia harapkan.


"Kau tidak akan kemana-mana..tapi...besok Kau bersiaplah, Kau akan ikut Aku ke acara penobatan"


"Bagaimana bisa Aku tidak pindah ?" Protesku kesal. "Dan kenapa juga Aku harus mengikuti mu dalam penobatan Calon Ratumu"


"Kau tau kenapa kerajaan mempercepat acara ini ?" Tanya Pangeran sinis. Aku mengerjap tidak mengerti akan perubahan topik yang terjadi.


"Apa maksudmu ?"


Butuh waktu beberapa saat untukku mencerna omongan Pangeran Riana. Jantungku langsung berdebar kencang. Pangeran Sera memasuki ibu kota. Apakah Dia datang karena mendengar pemohonanku ?. Tapi rasanya tidak mungkin. Tapi jika benar...jika benar begitu...Aku tidak mampu berkata apa-apa. Perasaanku bercampur aduk tidak karuan.


Pangeran bangun dari posisinya. Dia menarikku mendekatinya. Aku menatapnya terkejut. "Kau harus tau bahwa Kau ini milikku. Kau harus pahami hal ini dengan baik" katanya dengan nada memerintah yang mengintimidasiku secara langsung. Aku hanya diam tidak menjawab. Pangeran mencium bibirku dengan ciuman yang penuh tuntutan. Aku sampai tersenggal-senggal kehabisan nafas saat Dia melepaskan ciumannya. Dengan sekali sentakan, Aku berhasil mendorongnya menjauh.


Pangeran diam. Berbalik pergi meninggalkanku yang masih terpaku ditempatnya.


Saat Dia keluar ruangan, Aku menyadari Dia telah memakai gererou di ikat pinggangnya.


Dia menerima hadiahku. Aku tersenyum senang saat melihatnya. Setidaknya usahaku tidak sia-sia.


Berita Pangeran memakai gererou tersebar luas dengan kecepatan tak terduga. seluruh istana membicarakannya Mereka sangat terkejut Pangeran mau menerima hadiahku. Ibu Suri dengan gayanya yang tidak mau kalah, Mengucapkan terimakasih padaku terhadap apa yang Kulakukan pada Pangeran. Sepertinya Ibu Suri tidak sejahat yang Kukira. Dia bersikap seperti itu hanya karena beban tugas yang berada dipundaknya saat usianya sudah senja. Seharusnya Dia bisa bersantai di masanya, Namun Dia masih harus dihadapkan dengan urusan negara yang tidak ada habisnya.


Malam ini, Aula istana penuh dengan para petinggi istana dan tamu undangan. Tari-tarian dari para gadis dipertunjukan untuk mengisi acara sampai seluruh tamu penting hadir. Denting piring dan gelas yang beradu, dengung orang yang bercakap di satu waktu dan juga suara musik menimbulkan ritme tersendiri di Aula istana. Aku duduk di samping Pangeran dengan perasaan tegang. Didepanku, meja penuh terisi segala Kue, buah dan botol minuman. Pangeran sendiri duduk disampingku menikmati jamuan. Kami duduk di mimbar kedua, dibawah Raja. Tepat disamping kanannya. Aku merasa seluruh mata memandangku dengan wajah penasaran. Beberapa kali Aku melihat para tamu undangan berbisik satu-sama lain sambil memandangku. Aku merasa risih.


"Pangeran" bisikku padanya sambil mendekat. Suara cukup bising disini, membuatku susah berbicara padanya. Pangeran Riana menoleh padaku.


"Apa Kau yakin Aku tidak pergi saja dari sini. Aku bisa duduk di pojok ruangan atau di manapun kalau Kau mau"


"Ada apa ?" Tanya Pangeran acuh. Matanya sambil memandangi sekitar. menjelajahi satu sudut ke sudut lainnya. Seperti seekor elang yang sedang mengintai.


"Sebentar lagi Calon Ratumu akan datang, Apa kata Dia jika melihatku berada di sini" Bisikku tak percaya dengan sikapnya. Dia terlihat sama sekali tidak peduli jika Calon Ratunya akan datang dan melihatnya bersama wanita lain.


"Kau duduk saja dengan tenang. Ingat untuk tidak bersikap yang kurang baik atau Kau siap malam ini bergadang denganku mengerjakan apa yang ku suka" Katanya ketika akhirnya Dia memandangku. Ada sirat keseriusan di matanya.


Aku terpekur mendengar ancaman Pangeran Riana. Aku diam dan mengeser dudukku menjauhinya. Berdebat dengannya dalam situasi sekarang tidaklah baik. Aku takut Dia akan nekat dan malah berbuat yang lebih kepadaku.


Seorang penjaga datang ke hadapan Raja. Tanpa berkata apa-apa Raja menganggukan kepala pelan. Penjaga itu menundukkan kepala memberi hormat sebelum berlari pergi menyeruak kerumunan tamu. Wajah Pangeran tampak tegang. Dia menarikku mendekatinya. Aku berusaha menjauh tapi tangannya menahanku. Matanya menatapku seolah mengatakan Aku lebih baik tidak melawan.


terdengar suara gong dipukul nyaring. lalu terdengar teriakan lantang dari luar pintu Aula yang tertutup.


"Pangeran Sera Madza dan rombongan dari negeri Argueda memasuki Aula"


Jantungku langsung berdebar begitu kencang, membuatku takut Aku tidak bisa mengedalikannya.