Win Direction

Win Direction
35



"Diamlah" Pinta Pangeran sembari mendorongku lembut. Dia menyuruhku kembali duduk. Aku menurutinya masih tidak mengerti. Pangeran berjongkok didepanku. Dia menyentuh bibirku lembut dengan jemarinya.


"Sesekali Aku ingin mendandani calon istriku ini"


Pangeran memoleskan lipstik di bibirku. Kami berada dalam jarak yang cukup dekat. Jantungku selalu berdetak kencang jika berdekatan dengannya seperti ini. Dia memoles lipstikku dengan begitu berhati- hatu. Dua orang pelayan masuk, Mereka langsung menundukkan kepala dan berdiri di pojokan. Raut wajah mereka terlihat sangat terkejut.


"Aku benar kan, Warna ini sangat cocok untukmu"


Aku berbalik di cermin dan melihat bayangan diriku. Pangeran begitu terampil memoleskan lipstik di bibirku.


"Sekarang, Ayo kita berangkat"


Aku menganggukan kepala. Menuruti keinginannya. Dia mengulurkan tangan, membantuku untuk berdiri. Kami berjalan keluar kamar.


Kami sampai di aula kecil diistana Raja. Saat Kami datang, Aula sudah penuh dengan orang. Para Putri duduk berkelompok saling bercanda satu sama lain. Ratu memperhatikan dari singasana dengan penuh perhatian. Sorot matanya lembut. Putri Margitha berdiri di samping Ratu dengan dagu terangkat. Dia tampak bosan berada di ruangan ini.


Aku menundukkan kepala mengikuti Pangeran di sampingku.


Semua Putri berdandan cantik hari ini, Tapi begitu mereka melihatku, wajah mereka menjadi mengerikan. Mata mereka molotot tajam ke arahku. Aku mendesah, menyadari kenyataan bahwa Aku telah dibenci tanpa sebab.


Pangeran meremas lenganku yang sedang memegang lengannya. Aku mendongak. Aku tidak menyadari Pangeran terus memperhatikanku. Apa Dia tau Aku merasa sangat tertekan disini ?.


Aku kembali menundukkan kepala.


"Salam hormat kepada Ratu" Ujar Pangeran Sera begitu Kami tiba dihadapan Ratu. Aku membungkuk memberi hormat.


"Kakak kenapa terlambat, Aku kira kalian tidak datang ?" Protes Putri Margitha langsung begitu Kami telah berdiri.


"Maafkan saya" Kataku kebingungan. Aku tadi sengaja mengulur-ulur waktu agar tidak terlalu cepat datang. Jika Kami terlambat, Ini seratus persen salahku.


"Margitha jangan begitu, Ini pertama Kalinya Putri Yuki menghadari acara seperti ini. Dia memerluhkan persiapan" Ujar Ratu menegur. Ratu sangat cantik, Aku sangat iri dengan postur tubuhnya-tinggi dan ramping. Walau Dia sudah berumur, Tapi terlihat sekali Dia sangat menjaga tubuhnya.


"Maafkan keterlambatan Kami Ibu, Ada beberapa hal yang harus Aku tangani terlebih dahulu sebelum kemari" Pangeran Sera membantuku mencari alasan. Aku bersyukur Dia ada disini bersamaku.


"Tidak perlu meminta maaf, Aku paham.Acara hari ini Aku adakan agar para Putri menjadi lebih mengenal dan akrab satu sama lain. Selain itu Aku juga ingin melihat perkembangan mereka. Karena Merekalah yang menentukan kualitas para penerus negeri ini"


Ratu Warda berbicara kepada pelayan tua di dekatnya. "Antar Pangeran Dan Putri Yuki ke tempat duduknya"


Kami duduk di meja dengan bantal-bantal yang diletakkan di atas karpet yang empuk. Para Pelayan datang. Makanan disuguhkan diatas meja.


Aku mengambil sari buah yang dituangkan pelayan di gelas. Aku sangat haus, Mungkin karena Aku terlalu tegang saat ini. Aku langsung menghabiskan segelas penuh Sari buah.


Apa mereka sengaja melakukan ini untuk menarik perhatian Pangeran Sera ?. Atau Aku hanya merasa cemburu ?.


Aku tidak tahu.


Aku melihat Putri Alena, duduk sedikit menepi dari teman-temannya. Dia tampak sibuk akan sesuatu didepannya. Wajahnya terlihat sedih. Putri pendiam yang begitu mencintai Pangeran Sera. Hatinya pasti hancur ketika melihat Pangeran Sera bersama wanita lain didepannya. Aku merasa sangat bersalah padanya.


Putri Alena tidak tertawa seperti teman-temannya. Dia hanya sibuk seorang diri. Tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Pangeran, Pangeran hanya menemani Putri Yuki saja. Bagaimana Kalau Pangeran Juga memperhatikan Kami" Ujar Putri Nadira mencoba membuka obrolan. "Aku bisa memainkan lagu untuk Pangeran jika Pangeran berkenan"


"Aku juga Pangeran, Aku bisa menunjukan tarianku"


"Jika Pangeran Mau mendengarkan permainan kecapiku"


Sontak seperti dikomando seluruh Putri berjalan mendekati Pangeran. Aku sampai tercengah melihat keributan ini. Mereka mengerumuni pangeran sehingga membuatku keluar dari lingkaran.


"Maafkan Aku para Putri, Aku tidak bisa." Tolak Pangeran cepat. "Kalian bisa kembali ke tempat kalian sekarang"


"Pangeran jangan begitu, Kasihan para Putri" Sergah Ratu yang sembari tadi diam memperhatikan.


"Tapi Ibu..." Protes Pangeran kebinggungan.


"Aku tahu Kau sangat ingin dekat dengan Putri Yuki, Tapi ada baiknya juga Kau bergaul dengan Para Putri lainnya sehingga Putri Yuki juga mempunyai kesempatan berteman dengan para Putri" Ratu menatap Pangeran dalam. Memohon pengertian Pangeran.


"Kakak Tau yang namanya basa basi tidak sih ?" Tanya Putri Margitha dengan nada sarkatis.


"Margitha jaga bicaramu. Aku tidak pernah mengajarimu bersikap tidak sopan seperti ini" Hardik Ratu tegas.


"Maafkan Aku Ibu, Tetapi Aku hanya menyampaikan kebenaran saja. Pangeran Sera jelas tidak menginginkan para Putri dan hanya ingin bersama Putri Yuki. Tapi para Putri seolah tidak tahu atau tidak punya malu sehingga terus mendesak Pangeran"


"Margitha" Panggil Ratu kali ini lebih tegas.


Aku merasakan ketegangan disini. Jantungku berdebar begitu kencang. Keringat dingin mengalir di keningku. Tiba-tiba Aku merasakan sesuatu seolah mengaduk perutku dengan cepat. Nafasku menjadi sesak.


Ada apa ini ?.


Aku merasakan ada cairan mengalir di hidungku. Saat Aku meraba untuk melihat, Aku menemukan darah di sana. menetes membasahi gaunku.