Win Direction

Win Direction
36



Aku terbatuk keras. Hingga Pangeran Sera berpaling ke arahku. Darah kental berwarna kehitaman keluar dari mulutku.


"Yuki.."


Pangeran terkejut. Dia langsung melompat ke arahku meninggalkan para Putri.


"Putri Yuki.." terdengar suara Ratu dan Putri Margitha yang memanggilku berbarengan.


Aku terus terbatuk. Seolah seluruh udara disedot dari tubuhku. Tenagaku lemah tanpa tenaga. Sementara tiap Aku terbatuk darah menyembur dari mulut dan hidungku.


"Yuki...Yuki.." Pangeran Sera memelukku panik. Dia lalu mengangkatku ke gendongannya.


"Panggil Naru cepat" Teriak Pangeran Sera sembari membawaku keluar aula.


Aku merasa terombang ambing dalam kegelapan abadi. Bukan kali ini saja Aku merasakan perasaan seperti ini. Seluruh tubuhku seolah remuk. Rasanya ditusuk dari berbagai arah dengan kecepatan yang konstan.


Tenggorokanku panas. Aku merasakan terbakar. Tapi sekuat apapun Aku berusaha melarikan diri, Aku tetap berada di tempatku tanpa daya.


Aku tidak tahu sampai kapan keadaan ini terjadi. Rasanya untuk menggerakan seujung jaripun terasa berat.


"Pangeran, Saya akan menjaga Putri. Ada baiknya Pangeran beristirahat" Terdengar suara Rena dari kejauhan.


"Pergilah" Pinta Pangeran Sera terdengar sedih.


"Sudah seminggu Pangeran terus menjaga Putri. Jika dibiarkan begini terus kesehatan Pangeran sendiri akan terganggu. Saya mohon Pangeran beristirahat, Biarkan saya yang menjaga Putri"


"Pergilah"


"Kakak, Dia benar. Kakak lebih baik beristirahat dulu. Soal Putri Yuki percayakan pada Kami" Timpal Pangeran Arana dengan nada mendesak.


Seminggu. Sudah seminggu. Waktu terasa begitu cepat bagiku. Aku ingin bangun dan mengatakan padanya bahwa Aku baik-baik saja. Dia tidak perlu cemas. Tapi Aku tidak bisa.


Kegelapan masih terus menguasaiku. Aku tidak bisa melakukan apapun.


Aku sangat marah pada Pangeran Sera. Kenapa Dia tidak mau mendengarkan Rena dan Pangeran Arana. Aku ingin segera bangun


Banyak hal yang ingin kusampaikan padanya.


Aku ingin mengatakan padanya bahwa Aku baik-baik saja. Jangan cemas. Istirahatlah sebentar. Aku akan segera bangun.


Namun lidahku seolah terkunci rapat. Kegelapan kembali menyelimutiku. Aku terombang-ambing dalam batas kesadaran.


Aku membuka mata perlahan. Kepalaku terasa berat. Perlahan cahaya masuk menembus mataku. Aku mengerjap perlahan.


Sunyi. Disini sepi. Setelah kesadaranku cukup pulih, Aku tidak lagi kebingungan dimana Aku berada. Aku berada disebuah ruangan dengan atap yang begitu tinggi. Diatas sana ada cendela kecil dengan cahaya bulan terpantul didalamnya. Dinding-dindingnya terbuat dari batu. Sebuah meja penuh ramuan diletakkan di sebelah timur. Aku berada di tengah ruangan yang berbentuk melingkar. Ada perapian dan juga tungku yang baru saja digunakan.


Aku merasakan ada tangan seseorang yang menggengamku. Ketika menunduk Aku menemukan Pangeran Sera tertidur dengan menyusupkan wajahnya ke tempat tidur. Wajahnya terlihat lelah. Dia terlihat lebih kurus daripada biasanya, Kantung matanya terlihat cukup jelas. Aku mengelus rambutnya perlahan. Gerakan ini membuatnya terbangun.


"Pangeran" Bisikku lemah ketika mata Kami bertatapan. Pangeran langsung memegang wajahku dengan kedua tangannya. sorot haru terlihat di wajahnya.


"Syukurlah.." Bisik Pangeran setelah beberapa saat dengan suara bergetar. Dia mendekatkan wajahnya. Menempelkan dahinya ke dahiku.


"Aku..." Aku terbatuk. Tenggorokanku terasa kering kerontang. Pangeran langsung duduk di sampingku. Mengambil gelas di meja samping tempat tidur dan menyanggaku sedemikian rupa dengan lengannya. Aku langsung meminum habis air dalam gelas. Rasanya sedikit getir dengan aroma dedaunan yang khas. Setelahnya Pangeran kembali merebahkanku ke atas tempat tidur.


"Akan kuminta penjaga memanggilkan Naru untuk memeriksamu" Ujar Pangeran pelan. Tanpa menunggu persetujuanku Dia berjalan menuju pintu keluar.


"Panggilkan Pendeta Naru" Perintah Pangeran kepada Penjaga yang menjaga diluar ruangan. Penjaga itu langsung pergi untuk melaksanakan perintah.


Pangeran menutup pintunya dan kembali menghampiriku


"Dimana Aku ?" Tanyaku kebingungan.


"Ini adalah balai pengobatan istana. Kau tenanglah Naru akan memeriksamu setelah ini"


"Sudah berapa lama Aku pingsan seperti ini. Apa yang terjadi padaku ?"


"Kita akan membicarakan ini nanti jika Naru sudah memeriksa kondisimu" Janji Pangeran sambil membenahi selimut yang menutupi kakiku. "Sekarang jangan terlalu banyak berpikir. Fokuslah untuk kesembuhanmu"


Aku menganggukan kepala mengerti.


Tak lama kemudian pintu terbuka. Pendeta Naru masuk kedalam ruangan diikuti oleh Rena di belakangnya.


Aku membiarkan ketika Naru memeriksaku. Pangeran Sera terus berada di sampingku. Dia sama sekali tidak mau meninggalkanku walau hanya sedetik saja.


"Bagaimana ?" Tanya Pangeran Sera Pada pendeta Naru yang baru saja selesai memeriksaku.


"Putri baru saja melewati masa kritisnya. Sekarang kita hanya perlu memantau kondisi Putri agar kembali stabil. Tapi mohon maaf Pangeran, Saya harus memantau kondisi Putri di sini lebih lama dua atau tiga hari lagi untuk benar benar memastikan keadaan Putri"


"Ya, Lakukan apa yang menurutmu baik" Ujar Pangeran Sera tampak lega setelah mendengar penjelasan Pendeta Naru.


"Hamba akan menyiapkan obat-obatan untuk memperkuat daya tahan tubuh Putri"


Pendeta Naru menuju ke meja tempat dimana berbagai macam bahan mentah dan ramuan tersusun, berjajar dengan rapi sesuai fungsi dan kegunaannya. Rena membantu dengan menyalakan tungku, Dia memanaskan air menggunakan Panci terbuat dari tanah liat. Serfa memasukkan beberapa daun kedalam panci ketika air telah mendidih. tercium aroma menyengat yang membuatku mual.


Pangeran Sera memperhatikan Pendeta Naru dan Rena ketika mereka sibuk meracik obat. Rena mengipasi tungku agar apinya terus menyala.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku ?" Tanyaku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaranku.