Win Direction

Win Direction
42



Putri Nagin berlalu dengan wajah ditekuk. Aku memperhatikan teman-temannya berbisik sembari memandangku. Aku sudah membulatkan tekad, Aku tidak akan terganggu olehnya.


"Darimana Putri belajar sikap seperti itu ?" Bisikku ketika Putri Nagin cukup jauh untuk mendengar Kami.


"Putri akan lebih terkejut lagi jika tau Kakak yang mengajariku" Ujar Putri Margitha bangga. Aku menatapnya tak percaya.


Putri Margitha membalurkan kaki dan tangannya dengan minyak. Aku memperhatikannya sembari menggelung rambutku keatas. Dia mengenakan pakaian yang cukup terbuka, memperlihatkan kemudaan yang menarik siapapun mendekat.


Aku selesai menggelung rambutku, mengambil minyak dari botol ketika Putri Margitha merebahkan diri di sampingku. "Aku sudah lama tidak bersantai seperti ini" Keluhnya dengan sikap nyaman.


Aku membalur kakiku dengan minyak agar tidak terbakar sinar matahari.


Aku cukup beruntung Pangeran Sera menerima alasanku untuk menenangkan pikiran sehingga Dia mengizinkanku bersama Putri Margitha ke pantai. Penjaga dan pelayan awas disekitar Kami. Mereka mendapat perintah langsung dari Pangeran Sera untuk menjaga Kami. Aku hanya bisa menurut, Aku tidak ingin Pangeran berubah pikiran dan melarangku ke istana Raja.


Bagaimana Aku bisa menemukan pelakunya jika Aku hanya berdiam diri di dalam istana milik Pangeran Sera. Sementara istananya sekarang sudah tertutup untuk umum. Aku harus keluar dan menyelidiki walaupun resikonya adalah nyawaku.


Para Putri tampak bercengkerama dengan gembira, Sesekali terdengar gelak tawa mereka yang menarik perhatian. Aku mendapati beberapa dari mereka mencuri pandang ke arahku. Putri Margitha menelungkupkan badannya di atas tikar. Dia mengeliat manja menampakan betisnya yang berwarna putih. Matanya terpejam, Kepuasan tampak jelas di wajahnya. Aku duduk berjongkok menatap laut. Telingaku awas mendengarkan para Putri berbicara, berharap menemukan petunjuk.


Semua membenciku karena Pangeran Sera. cinta para putri itu...


Aku merenung, mencoba mendaftar satu persatu Putri dalam kepalaku. Menelaah setiap kemungkinan. Sampai sekarang Aku harus berhati-hati, Selama Aku belum menemukan pelakunya maka setiap Putri adalah tersangka.


Putri Nadira datang bersama Putri Alena. Wajah Putri Alena tampak sedih saat melihatku. Dia memalingkan muka ketika Kami tanpa sengaja bertatapan dan entah apa yang dikatakan pada Putri Nadira, Dia kemudian berbalik pergi.


Aku menatap Putri Alena tertegun. Dia jauh lebih kurus daripada sebelumnya. Aku seharusnya bisa menjalin pertemanan dengannya, Tapi Putri Alena menutup jalanku untuk mendekatinya. Setiap Aku ingin menemuinya Dia lebih dulu pergi entah kemana. Hanya Putri Alena yang tidak pernah bersikap kasar padaku. Dia tidak membullyku seperti teman-temannya yang lain. Dia selalu menyingkir, berusaha menghindari interaksi apapun denganku. Putri yang sangat pendiam dan tertutup. Namun Dia sangat mencintai Pangeran Sera. Beberapa kali Aku mendapatinya menatap Pangeran Sera dengan wajah sedih dari kejauhan. Dia seperti seseorang yang telah kehilangan harapan.


"Apa yang Kau lakukan akhir-akhir ini bersama Margitha ?" Tanya Pangeran Sera ketika Kami duduk bersama diatas tempat tidur. Aku bersandar sambil membaca buku. Sedangkan Pangeran berada di sampingku menyelesaikan pekerjaannya.


"Putri Margitha mengajakku menikmati suasana di istana Raja. Katanya Dia jenuh jika harus berada disini terus. Dan lagi, Di istana Raja Dia lebih dekat dengan Ratu. Jadi jika sewaktu-waktu Ratu membutuhkannya, Dia berada di tempat" Kataku berhati-hati.


"Kalian sudah sangat akrab"


"Putri Margitha sangat menyenangkan. Dia tidak pernah mengeluh jika harus mengimbangi gerakanku yang lamban" Kataku jujur. "Pangeran sangat beruntung memiliki seorang adik seperti Putri Margitha"


"Ya, Dia adalah salah satu wanita yang penting dalam hidupku selain Ibu dan Kau Yuki" Aku Pangeran Jujur. Wajahku memerah mendengarnya. "Kalian boleh bermain di istana raja, tapi Ingat, jangan pernah merencanakan sesuatu yang membahayakan keselamatan kalian. Apa Kau mengerti ?" tegas Pangeran Sera sambil menatap mataku dalam.


Jantungku berdebar. Apa Pangeran Sera mencurigai niat Kami berdua. Aku harus lebih berhati-hati terhadapnya.


" Apa yang bisa Kami lakukan di istana Raja ?" Kataku berpura-pura tidak mengerti "lagipula penjagaan yang Pangeran berikan sudah sangat cukup untuk melindungi kami"


"Baiklah, Aku mengerti. Aku jarang bisa menemanimu di istana karena kesibukanku. Kau pasti merasa bosan. Tapi berjanjilah padaku satu hal Yuki.."


Aku menatap Pangeran Sera binggung.


"Jangan melakukan hal yang membahayakan nyawamu"


"Pangeran tidak perlu khawatir. Aku mengerti" Kataku meyakinkan. Aku tidak akan melakukan hal yang membahayakannya. Aku tidak ingin lagi membuat masalah untuknya. Pangeran tersenyum. Dia menarikku mendekat dan mengecup keningku.


"Aku percaya padamu" Bisik Pangeran akhirnya.


Hari ini sangat cerah. Aku duduk di taman istana Raja seorang diri. Aku sengaja duduk di tempat pertama kali Aku kemari bersama Putri Margitha. Hari ini Dia mendadak tidak bisa menemani karena harus menjaga Ratu yang kondisi kesehatannya kurang baik. Sudah seminggu lebih penyelidikan Aku lakukan. Namun ternyata semua tidak seindah yang kubayangkan. Alih-alih mendapatkan petunjuk, Aku hanya mendapatkan hinaan yang terus ditujukan padaku dari para Putri. Beberapa kali Aku ingin menyerah, Namun bayangan wajah Rena saat terakhir kali membuatku kembali bersemangat.


Aku yakin cepat atau lambat Aku bisa menemukan pelakunya dan mendapatkan keadilan untuk Rena.