
Pangeran mengelus rambutku pelan. Dia tampak berpikir sesaat, memutuskan dalam pikirannya apakah Dia akan mengatakannya atau tidak.
"Kau baru saja terkena Racun Gautri" Ujar Pangeran Sera akhirnya. Aku mengerjap, menatap Pangeran binggung.
"Racun Gautri.." Bisikku lemah.
"Racun Gautri sangatlah berbahaya. efeknya cepat dan dapat melumpuhkan semua syaraf tubuh jika terlambat di tolong. Hampir semua yang terkena Racun Gautri tidak dapat selamat akibat terlambatnya penanganan" Jelas Naru menimpali sembari menumbuk dedaunan di sebuah mangkok batu.
"Cukup. Jangan membuat Yuki takut Naru" Hardik Pangeran Sera tak suka. Pendeta Naru menundukkan kepala meminta maaf.
Ingatanku kembali lagi, Ketika Aku merasakan sesak secara tiba-tiba, tubuhku terasa lemas tanpa tenaga. Selain itu Panas seolah seseorang membakar tubuhku dari dalam. Darah keluar dari hidung dan mulutku setiap kali Aku terbatuk.
Aku terkena racun. Bagaimana bisa ?. Aku makan bersama Pangeran Sera. Mengambil makanan yang nyaris sama dengannya.
"Sekarang Aku sedang menyelidiki bagaimana Racun itu telah sampai padamu dan tidak mengenaiku" Ujar Pangeran seolah mengerti kebingunganku. "Kau tenang saja, Aku akan menangkap pelakunya"
Pangeran menatapku penuh kesungguhan. Aku menganggukan kepala mengerti.
Dari Rena Aku mendapat penjelasan yang lebih rinci mengenai kejadian yang telah menghebohkan seluruh istana. Racun itu diletakkan pada sari buah yang disuguhkan kepadaku dan anehnya Penawar racun malah di berikan pada Anggur Pangeran Sera. Itulah sebabnya Dia tidak ikut terkena racun Gautri. Siapapun yang meletakkan racun Gautri ke dalam minumanku dan menaruh penawar di minuman Pangeran Sera adalah orang yang berani.
Pangeran berkesimpulan orang itu telah merencanakan dengan matang, Dia berdarah dingin dan tidak tergesa-gesa dalam menjalankan rencananya.
Tidak ada yang tau apa motifnya sehingga ingin membunuhku. Apa karena ingin melengserkan kedudukan Pangeran Sera sebagai Putra Mahkota atau Karena memang ingin menyingkirkan Aku.
"Pangeran telah melakukan sumpah ksatria. Otomatis jika Dia dan Putri tidak menikah dan memiliki keturunan laki-laki, Pangeran akan lengser dari kedudukannya sebagai Penerus kerajaan selanjutnya" Jelas Rena sembari membantuku berpakaian. "Hal yang paling mengkhawatirkan jika itu terjadi perebutan tahtah akan kembali terjadi. Banyak pihak yang menginginkan kedudukan ini Putri"
Aku sudah dipindahkan kembali kekamarku. Sekarang Istana sepi. Pangeran Sera melarang orang yang tidak memiliki kepentingan untuk masuk ke dalam.
Namun, walaupun Aku sudah kembali ke kamarku, Aku masih belum bisa bergerak secara normal. Seluruh sendiku masih terasa sakit. Dari Rena Aku tau selama seminggu Aku pingsan, Jantungku sempat berhenti dua kali.
Aku bersyukur Aku masih bisa hidup sampai saat ini.
"Pangeran masih menyelidiki semua kemungkinan. Para pelayan sudah diselidiki dan dimintai keterangan, Tapi hasilnya nihil. Seluruh makanan sudah di test terlebih dahulu sebelum memasuki ruang sajian dihadapan semua pelayan. Jadi tidak mungkin dari dapur istana, Kemungkinan besar racun ditaburkan di ruang sajian atau di aula itu sendiri"
"Maksudmu pelakunya berada di dalam aula" Tanyaku tak percaya.
"Ini masih kemungkinan saja Putri"
Rena mengangkat kakiku ke atas dudukan kaki dan mulai melakukan pijatan lembut agar syarafku cepat pulih. Aku bersyukur Dia berada di sini menemaniku. Aku berutang cukup banyak padanya.
Rena melirik sekilas pada pintu. Dia tampak tegang.
"Ada apa ?" Kataku curiga melihat Rena.
"Putri..Hamba ingin menyampaikan barang ini pada Putri" Rena mengeluarkan Gererou di sakunya. Aku terkejut saat melihat Gererou. Jantungku berdetak kencang, Aku mengenali Gererou itu. Itu adalah hadiah ulang tahun dariku untuk Pangeran Riana. Dia selalu memakainya kemanapun Dia pergi.
"Ini.." Tanyaku terkejut.
"Pangeran sudah berada di ibukota. Kemarin Dia berhasil menemui hamba dan menyuruh memberikan ini pada Putri" Bisik Rena pelan.
Apa.
Pangeran Riana sudah berada di ibukota. Dia sudah sedekat ini denganku. Aku merasa hatiku terasa hangat mendengarnya.
"Pangeran sedang menyusun rencana untuk membawa Putri kembali, Tapi penjagaan Istana sangat ketat. Putri harap bersabar"
"Bagaimana keadaanya, Apakah Dia baik-baik saja"
"Pangeran dikawal oleh Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Voldermon. Mereka menyamar dan sekarang bersembunyi di suatu tempat di ibukota. Saat Pangeran mendengar Putri keracunan, Pangeran nyaris menerobos kemari. Tapi beruntung Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Voldermon dapat menenangkannya"
Aku menghela nafas mendengarnya. Dia hampir membahayakan nyawanya.
"Sekarang Pangeran sudah mulai tenang mengetahui Putri selamat"
"Katakan padanya untuk menjaga diri" bisikku lirih. Aku tidak mempunyai gulf. Pangeran Sera juga tidak memberikanku Gulf. Sepertinya Dia takut jika Dia memberiku Gulf Aku akan berkomunikasi dengan orang Garduete. Segala informasi Aku dapatkan dari para pelayan.
Gulf milik Rena juga disita oleh kerajaan Argueda. Dia tidak boleh berkomunikasi dengan orang Garduete, Jika sampai ketauan berkomunikasi apalagi membocorkan informasi mengenai Aku, Dia akan dihukum mati.
Sekarangpun, Dia juga beresiko membahayakan nyawanya dengan berkomunikasi dengan Pangeran Riana. Jika Pangeran Sera mengetahuinya, Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dihadapi Rena. Gerak-geriknya pun di batasi dan diawasi dengan ketat.
"Sekarang Kita hanya bisa menanti Pangeran Riana bertindak. Selama itu Putri, kita harus berhati-hati. Aku merasa siapapun yang menaruh racun Gauri, Pasti akan kembali melakukan aksinya dalam waktu dekat ini. Entah apapun tujuannya, Putri adalah sasaran tembaknya"
Aku terdiam. Rena benar. Aku selalu menjadi sasaran tembak pembunuhan. Seolah Aku ini sangat menganggu jika hidup.
Diluar hujan mulai turun dengan derasnya. Petir menyambar silih berganti. Aku mempunyai firasat buruk soal ini.