
"Ada apa para Putri kemari ?" Tanya Putri Margitha menghentikan permainannya.
"Putri Margitha, Aku kemari untuk mengajak Putri bergabung bersama kami daripada Putri menyepi begini"
"Aku sedang bermain catur dengan Putri Yuki" Tolak Putri Margitha sembari menunjuk catur didepannya.
"Aku bisa menjadi lawan tanding Putri" Seorang Putri menimpali dengan penuh antusias.
"Benarkah ?, Kalau begitu ayo kita bermain bersama"
"Kami tidak bermain dengan Putri Yuki" ujar Putri Nadira dengan nada angkuh.
"Aku akan kembali ke kamar, Silahkan Putri bermain" Aku bangkit untuk berdiri. Tapi Putri Margitha menggenggam tanganku. Mencegahku. Akhirnya Aku kembali duduk. Aku tidak suka situasi seperti ini.
"Kenapa ?" Tanya Putri Margitha dengan tenang.
"Putri Yuki telah merayu Pangeran sehingga mengucapkan sumpah ksatria, Dia juga menjelek-jelekkan kami didepan Pangeran sehingga Pangeran menjauhi kami. Kami merasa tidak pantas bermain dengan Putri Yuki"
"Aku bersumpah Aku tidak pernah melakukannya" Tolakku langsung.
"Bagaimana bisa kami percaya, Pangeran Sera dulu sangat baik kepada kami tapi semenjak kedatanganmu Pangeran mengacuhkan kami. Kau wanita jahat. Pasti Kau telah mengguna-gunai Pangeran" Tuding Putri Nadira langsung.
"Mohon maaf Para putri, Tapi Putri Yuki tidak pernah mengadukan apapun pada Pangeran" Bela Rena disampingku.
"Diam Kau, Kau ini hanya seorang pelayan. Apa pantas Kau berbicara denganku ?"
"Dia adalah pelayan Putri Yuki, pasti Dia membela tuannya"
"Pelayan itu benar, Putri Yuki tidak pernah mengadukan apapun pada Kakak" Putri Margitha ikut menimpali. "Kalian bersikap kurang sopan pada Putri Yuki. Lalu saat Kakak menegur Kalian, Kalian malah menyalahkan Putri Yuki dan menuduhnya yang bukan-bukan. Seharusnya Kalian intropeksi diri bukan malah menyalahkan orang lain"
"Lalu siapa yang mengadukan Kami kalau bukan Dia" Ujar Putri Nadira masih tidak mau kalah.
"Aku yang mengatakannya pada kakak" Pangeran Arana muncul dari belakang para Putri. Dia berjalan tenang, kemudian berdiri di depan para putri.
"Ini bukan urusanmu Pangeran, Aku tidak menyangka Pangeran Mau mengurusi hal remeh seperti ini"
"Lalu urusan siapa ? Kakak ?." Tanya Pangeran Arana sinis. Putri Nadira diam dengan wajah marah. "Kedudukan Putri Yuki sudah diakui kerajaan. Kakak sudah mengucapkan sumpah ksatrianya. Otomatis Putri Yuki menjadi satu-satunya wanita yang akan menjadi Ratu mendampingi kakak nanti. Sangat tidak sopan jika Kalian berbicara seperti itu pada Putri Yuki yang memiliki kedudukan lebih tinggi daripada kalian."
Putri Nadira mengertakan giginya kesal. Kemudian Dia menghentakan kaki dan langsung berjalan pergi disusul teman-temannya.
"Putri Yuki jangan didengarkan omongan mereka" Ujar Putri Margitha menenangkan. Aku hanya diam. Tidak tahu harus berkata apa. Hatiku terasa sakit. Aku tidak tahu sampai kapan Aku bisa bertahan.
"Pangeran sudah datang" sambutku sembari tersenyum.
"Kenapa Kau belum tidur selarut ini"
"Aku tidak bisa tidur"
"Apakah Karena Nadira dan teman-temannya ?"
Aku diam. Pangeran menghela nafas.
"Aku sudah mendengar kejadian hari ini. Apa Kau baik-baik saja ?" Tanyanya lagi.
Aku menganggukan kepala meyakinkan. Pangeran Sera mengelus pipiku lembut. Mendongakkan wajahku untuk menatapnya. "Maafkan Aku Yuki"
Aku tersenyum padanya. Pangeran menyentuh dahiku dengan dahinya. Kami terdiam dengan pikiran masing-masing.
Para pelayan diam-diam keluar dari ruangan. Kini hanya tinggal kami berdua. Pangeran mengambil buku di tanganku dan meletakkan di meja. Dia menarikku lembut untuk berdiri dari dudukku.
"Aku akan menutup istana, Kau tidak perlu khawatir lagi mereka akan menggangumu"
"Tidak perlu Pangeran, Jika begini saja Aku tidak kuat bagaimana Jika Aku mengalami masalah yang lebih besar. Jangan khawatir Aku bisa menghadapinya"
"Tapi Jika nanti Kau merasa berat, Kau bisa katakan itu padaku"
"Aku mengerti. Tapi Tidak perlu khawatir. Semua baik-baik saja"
Pangeran menarikku ke pelukannya. Mendekapku hangat. Aku melingkar dengan nyaman di dadanya. Mencari ketenangan yang begitu ku inginkan.
Aku kembali berdandan rapi. Menyelipkan konde di rambut yang telah ditata sedemikian rupa. Rena mengatakan Pangeran Sera telah berpesan kepada Para Pelayan agar Aku terus memakainya sebagai hiasan rambutku. Saat Aku baru akan memakai lipstik. Pangeran Sera datang menghampiri. Dia sudah berganti baju dan berdandan. Aku menyukai aroma farfumnya. Lembut dan manis tapi tidak menyengat. Diam-diam Aku meminta Rena untuk mencarikan farfum itu untukku.
"Sebentar lagi Aku akan siap" Kataku sembari memilih warna lipstik yang cocok.
Ratu mengundang Kami untuk hadir di perjamuan para Putri. Aku dengar acara ini diadakan atas permohonan Selir Raja yaitu Ibu putri Nadira. Ratu telah menghukum Putti Nadira dan teman-temannya karena telah menghinaku dan berkata tidak sopan pada Pangeran Arana dan Putri Margitha. Ibu Putri Nadira memohon acara ini, dengan harapan Putri Nadira dapat berteman denganku dan Putri Margitha. Aku merasa tidak enak seolah Aku memanfaatkan situasi untuk menindas orang lain.
Aku sebenarnya tidak ingin pergi mengingat bagaimana para Putri itu membenciku. Tapi Jika Aku tidak pergi, Aku khawatir akan menimbulkan masalah yang lebih pelik lagi
"Ini cocok untukmu" Pangeran Sera mengambil sebuah lipstik dan menunjukannya padaku. Warna merah ke orenan. "Cobalah, Kau pasti terlihat menawan mengenakannya" Aku mengulurkan tangan untuk mengambil lipstik tersebut tapi Pangeran menarik tangannya menolak.
Aku menatap Pangeran tidak mengerti.