Win Direction

Win Direction
44



Sekilas sebuah ide melintas dalam kepalaku. Aku sangat yakin ini akan berhasil untuk memancing pelakunya keluar dari persembunyiannya.


Aku memegang tangan Pangeran Arana penuh rasa berterimakasih. "Terimakasih Pangeran, Berkat Kau masalahku terpecahkan" Kataku senang.


Pangeran Arana tampak kaget dengan perubahan sikapku. Aku membereskan semua buku diatas meja. "Sudah sore, lebih baik Aku segera pulang" Kataku lagi


"Berhati-hatilah Putri"


"Pangeran Arana, Apa Aku bisa minta tolong untuk sampaikan pesanku pada Putri Margitha" Kataku berharap.


"Silahkan Putri"


"Jika Dia tidak sibuk, Aku sangat ingin bertemu dengannya besok"


"Akan saya sampaikan Putri" Janji Pangeran tenang. Aku menganggukan kepala percaya padanya.


"Baiklah Pangeran, Aku pergi dulu" Pamitku. Para pelayan dan pengawal melihatku. Mereka kemudian menghampiriku. Aku memang sengaja menyuruh mereka untuk membiarkanku sendiri sehingga mereka berada tidak terlalu dekat denganku namun masih dapat menjangkauku.


Langkahku lebih ringan daripada sebelumnya. Aku sudah menemukan sedikit harapan dari usahaku seminggu ini. Dan lucunya jawabannya ada pada benda yang nyaris selalu kupakai setiap waktu.


Besoknya Putri Margitha datang ketika Pangeran baru saja berpamitan pergi. Kami duduk berdua di dalam kamar, menunggu sampai keadaan cukup aman.


Aku menceritakan semua kecurigaanku kepada Putri Margitha. Keningnya berkerut saat Aku menyebut nama Putri Alena. Seperti Aku sendiri, Aku tidak percaya Putri Alena mampu melakukannya. Namun hati nuraniku mengatakan dengan sangat yakin Dialah pelakunya.


"Putri Alena orangnya sangat tertutup dan hampir tidak pernah terlibat pertingkaian dengan Putri lainnya. Catatannya bersih baik di kediaman maupun di luar. Walaupun Dia agak pendiam namun Dia memiliki interaksi sosial yang bagus. Aku masih belum percaya Jika Dia pelakunya" Ujar Putri Margitha dengan wajah merenung. "Apa Putri Yuki cukup yakin akan hal ini"


"Kita hanya harus membuktikannya sebelum benar-benar menuduhnya"


"Bagaimana caranya, Apakah Putri punya rencana"


"Itulah yang ingin kubicarakan pada Putri. Aku sangat butuh bantuan Putri"


Aku menceritakan mengenai rencanaku dan bagaimana ide itu bisa melintas dikepalaku. Putri Margitha mendengarkan dengan sungguh-sungguh.


"Jadi bagaimana, Apakah Putri bisa melakukannya" Tanyaku setelah menceritakan rencanaku.


Putri Margitha mendesah. "Hal yang Putri Minta adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Tapi Aku khawatir apa yang kita lakukan akan membahayakan Putri Yuki. Kita tidak tahu seberapa kuatnya seseorang apalagi jika Dia sudah gelap mata"


"Aku akan berhati-hati" Janjiku pasti. " Kita tidak akan tau kapan lagi Orang itu berniat menyerang. Jika Aku pikir, selama ini Dia menyerang dengan penuh perencanaan matang. Tapi wanita tetaplah wanita. Dia bisa lepas kontrol jika ada yang memicunya"


Putri Margitha mendesah. "Kakak tidak akan suka ini"


Aku melangkahkan Kaki dengan mantap. Pagi ini Pangeran Sera akan berangkat lebih pagi daripada biasanya. Aku bersyukur Dia tidak banyak bertanya soal apa yang akan kulakukan setelah Dia pergi. Sangat tidak mudah membohonginya. Aku berusaha sangat keras agar Dia tidak curiga.


"Kau tampak antusias hari ini Yuki" Tanya Pangeran Sera. Kami berjalan menyusuri lorong menuju halaman istana. Aku berencana mengantar Pangeran Sera dan memastikannya pergi dengan mata kepalaku sendiri. Aku khawatir Dia bisa menggagalkan niatku jika Pangeran tetap ada di istana. Aku dan Putri Margitha sudah merencanakan hal ini dengan matang. Aku tidak ingin usaha yang telah kami persiapkan sia-sia. Dibelakangku Pendeta Naru berjalan mengikuti dengan setia. Dia tidak mengatakan apapun, Tapi Aku cukup yakin Dia sedang mengamati situasi.


"Hari ini Aku dan Putri Margitha akan mengadakan jamuan di istana Pangeran"


Pangeran mengernyitkan dahi mendengarnya. "Apa Perlu Aku temanin ?" Tanya Pangeran lembut.


"Apa.." Aku mengerjap kaget. Responku ini sangat terlihat, Aku takut Dia tau kebohonganku. "Pangeran jangan khawatir. Kami akan baik-baik saja"


"Benarkah ?" Tanya Pangeran Sera sarkatis.


"Para penjaga dan pelayan telah mempersiapkan keamanan yang lebih ketat daripada sebelumnya. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Lagipula ini hanya jamuan biasa. Putri Margitha berpikir Aku harus banyak berinteraksi dengan Para Putri agar tidak lagi terjadi kesalahpahaman yang tidak perlu"


"Margitha berkata seperti itu ?"


"Iya" Jawabku terlalu cepat.


Pangeran diam, Dia melanjutkan langkahnya dengan wajah yang serius. Membuat jantungku berdebar dengan kencang. Apa sandiwaraku tidak berhasil ? Apa Dia curiga Aku akan melakukan sesuatu yang berbahaya ?


Walaupun Aku meyakinkan Putri Margitha bahwa apa yang Kami lakukan tidak akan berbahaya, Aku sendiri sebenarnya tidak yakin.


Tapi Aku tidak bisa mundur dan melarikan diri. Sudah cukup berdiam diri. Sekarang waktuku untuk bergerak. Setiap Aku hanya duduk menunggu, Seseorang yang kusayang pasti menjadi korban. Aku harus berjuang untuk melindungi mereka.


"Siapa saja yang akan datang"


"Tidak terlalu banyak, Tapi Aku tidak hafal daftar namanya" Kilahku lagi.


Kami sampai di halaman. Rombongan yang akan mengawal Pangeran Sera sudah bersiap menunggunya dalam dua barisan. Kuda Pangeran berada pada barisan paling depan dari pasukan. Pangeran akan pergi ke pinggiran ibukota. Perjalanan yang mendadak. Aku beruntung, Awalnya Aku sampai binggung bagaimana membuat Pangeran meninggalkan istana selama Aku dan Putri Margitha menjalankan rencana Kami.


"Jaga diri kalian baik-baik" Ujar Pangeran Sera ketika Kami telah tiba di dekat kudanya.


"Ya, jangan khawatir. Kami akan baik-baik saja." Janjiku sungguh-sungguh.


Pangeran menarikku mendekatinya. Dia lalu mencium keningku mesra.


"Baiklah, Aku berangkat Yuki" Pamit Pangeran lembut.