Win Direction

Win Direction
22



Aku memperhatikan debur ombak yang menghantam lambung kapal dari kamar tempatku berada. Cuaca hari ini cukup cerah, Angin bertiup lembut. dari kejauhan Aku masih melihat daratan tempat kami bertolak. Samar Aku seperti mendengar suara Pangeran Riana memanggilku.


Apa jika Aku terjun dari kapal, Aku bisa berenang kembali ke daratan ?


Aku langsung membuang pikiran bodohku. Aku tidak tahu jaraknya seberapa jauh, jika Aku nekat, Kemungkinan besar Aku malah akan mati tenggelam dilautan.


Hal yang pasti harus kulakukan adalah mempercayai Pangeran Riana pasti akan datang dan membawaku kembali. Aku hanya harus menunggu dengan sabar. Dia pasti akan membawaku kembali pulang.


Pulang ?


Aku terkejut dengan istilah ini. Seharusnya Aku senang Pangeran Sera membawaku ke Argueda. Dia bersikap lebih baik kepadaku daripada Pangeran Riana. Tapi...perasaanku mengatakan seharusnya Aku bersama Pangeran Riana. Aku tidak tahu kenapa Aku merasa begini. Mungkin, Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, karena Aku merasa Dia adalah rumahku. Tempat tujuanku. Entah seberapa buruknya Dia padaku selama ini. Tempat ternyamanku adalah berada disampingnya. Dia seperti rumah bagiku. Aku sudah biasa terbangun ditengah malam dan mendapatinya berada di sisiku. Aku sudah terbiasa melihatnya disepanjang waktuku. Rasanya aneh jika Aku harus berpisah dengannya seperti ini.


Atau ini hanya imajinasiku ?.


Aku hanya memikirkan para pengungsi itu ?.


Aku rasa Aku terlalu banyak berkhayal. Aku tidak mungkin merasakan perasaan seperti itu pada Pangeran Riana.


Terdengar suara pintu di buka, membuyarkan lamunanku. Pangeran Sera masuk. Dia telah berganti baju, lengannya sudah diperban. "Maaf Kau sudah lama menungguku" Ujar Pangeran Sera menyesal.


"Tidak apa-apa" Aku berdiri canggung. Binggung harus bersikap bagaimana. Pangeran duduk di kursi didepanku.


"Kemarilah" ujar Pangeran Sera lembut sembari menepuk bangku di sebelahnya.


Para pelayan masuk dan membawakan makanan. Aku sangat lapar dan mengantuk. Semalam adalah saat yang sangat menegangkan bagiku. Aku merasa semua ini seperti mimpi. Di luar matahari mulai merayap naik.


Kami makan bersama. Pangeran Sera begitu perhatian padaku. Dia. Membantuku mengupas kerang dan juga mengambilkan lauk untukku. Para pelayan sampai memandangiku dengan iri.


"Jadi bagaimana Yuki" Aku mengerjap ketika Pangeran Sera menyentuh tanganku.


"Ya..Apa.." Kataku kebingungan. Aku tidak menyimak apa yang dikatakannya barusan. Pikiranku sedang tidak berada ditempat.


"Yuki.." Panggil Pangeran dengan nada mengeluh. Ada kesedihan di matanya, Aku semakin merasa bersalah kepadanya.


"Maafkan Aku Pangeran Sera" Bisikku kebingungan. Pangeran Sera berdiri dari duduknya, Tanpa diduga Dia langsung mengangkatku dalam gendongannya.


"Pa..Pangeran" Kataku terkejut. Pangeran Sera menahanku yang mencoba melepaskan diri. Dia membawaku keatas tempat tidur.


Para pelayan bergegas pergi tanpa membereskan barang-barangnya. Pintu ditutup. tinggal Kami berdua di ruangan ini.


Dia berada diatasku sedemikian rupa. Kami bertatapan dalam jarak yang cukup dekat. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di pipiku. Matanya menyiratkan keinginan yang begitu besar. Aku beberapa kali melihat sorot mata yang seperti itu pada Pangeran Riana, yang pada akhirnya berakhir diatas ranjang.


Pangeran Riana sudah berkali-kali meniduri Aku. Tapi Aku bisa menjaga diri dengan tidak hamil menggunakan obat semacam Pil KB yang kusembunyikan di laci paling dalam, Di kamar. Namun, walau begitu, Bukan artinya Aku bisa tidur dengan banyak laki-laki. Termasuk Pangeran Sera. Aku tidak biasa seperti itu. Tidak.


Aku tidak membawa pil KB itu sekarang, Bagaimana jika Pangeran Sera memaksaku ?. Apa yang harus kulakukan. Tidak akan ada yang menolongku saat ini.


"Pangeran" bisikku ketika Dia mendekat. Aku sangat gugup, juga takut.


Di satu sisi Aku banyak berhutang budi padanya, Kebaikannya padaku begitu besar. Namun di sisi lain Aku tidak bisa bersama dengannya dalam sesuatu yang intim seperti yang diinginkan sekarang. Terjadi pergolakan hati yang begitu hebat dalam diriku. Aku binggung bagaimana harus menyampaikannya agar Dia tidak terluka.


Pangeran Sera merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. Aku bisa merasakan beban tubuhnya ditubuhku. Sebuah ciuman yang cukup mesra mengaburkan akal sehatku. Aku harus mati-matian berusaha agar pikiranku tetap jernih dan tidak jatuh begitu saja dalam situasi ini.


Ketika akhirnya Pangeran melepaskan ciumannya. Dia berbaring disampingku. Aku ditarik mendekat hingga tidur di atas lengannya. Pangeran memejamkan mata.


"Apa yang Pangeran lakukan ?" Kataku tak mengerti setelah beberapa saat kemudian. Aku tidak mungkin salah mengartikan tatapan mata Pangeran Sera sebelumnya. Tapi kenapa Dia sekarang tidak menyentuhku, hanya memelukku seperti ini ?.


"Memelukmu" jawab Pangeran tanpa membuka matanya.


"Memelukku ?" Aku malah semakin binggung dengan jawabannya.


Pangeran membuka mata. Dia menatapku lembut dan hangat. Tangannya mengusap pipiku. "Jangan takut Yuki, Aku tidak akan menyentuhmu sampai Kau merasa siap untuk melakukannya bersamaku"


Pangeran Sera ternyata tau hatiku. Dia mengerti ketakutanku.


"Keinginanku memang sangat besar untuk bisa bersatu denganmu. Tapi Aku bisa sabar menunggu sampai Kau siap"


"Pangeran.." Panggilku lirih. Aku merasa terharu. Dia selalu mengerti diriku tanpa Aku harus mengatakannya. Apa yang tidak bisa kusampaikan, Dia sudah lebih dulu memahaminya. Dia tidak memaksaku, Walau Aku yakin Dia bisa melakukannya. "Terimakasih" Aku mengucapkannya dengan ketulusan hatiku yang paling dalam.


Pangeran Sera kembali mendekatiku. Dia mencium dahiku lembut.


"Kita sudah melewati banyak hal untuk sampai disini. Kau pasti sangat lelah. Tidurlah"


Aku menganggukan kepala. Pangeran menarikku lebih dekat padanya. Dia memelukku sedemikian rupa.


Tak lama Aku melihat nafasnya sudah teratur. Dia sudah tertidur.