
Aku berusaha memohon mati-matian pada para penjaga untuk mengizinkan ku keluar kamar. Aku ingin ke dapur istana, membuat Kue untuk Pangeran. Namun karena perintah Pangeran yang melarangku keluar kamar tanpa izin, mereka bersikeras tidak mau menuruti keinginanku. Beruntung saat Aku hampir menyerah, Bangsawan Xasfir datang dan menjadi jaminan untukku sehingga Aku bisa ke dapur untuk membuat kue ulang tahun Pangeran.
"Riana tidak akan suka semua ini" Ujar Bangsawan Xasfir mengingatkan ketika menemaniku di dapur. Aku mengaduk adonan kue. Setelah tercampur sempurna Aku menuangkan adonan ke dalam loyang.
"Aku hanya berusaha" Jawabku kalem. "setidaknya Aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan, Jika Dia tidak menerimanya itu urusannya"
"Riana beruntung karena orang itu adalah Kau"
Aku menatap Bangsawan Xasfir tidak mengerti. Dia hanya tersenyum penuh arti.
Aku melanjutkan membuat hiasan Kue sementara Bolunya sudah berada dalam panggangan. Wangi kue menyebar di dapur. Bangsawan Xasfir menjadi sesi incip-incip sebelum Aku mengaplikasikan hiasan di Kue. Hampir dua jam Aku berada di dapur. Kue yang kubuat sudah jadi. Aku memberikan beberapa potong Kue bolu yang kubuat untuk Bangsawan Xasfir sebagai ucapan terimakasih. Dia sangat senang menerimanya. Sedang untuk Pangeran Riana, Aku sudah menghiasnya secantik mungkin. Taburan cokelat dan kenari diatasnya.
"Jika di duniaku sana, Orang yang berulangtahun mendapatkan kue ulang tahun yang diatasnya dinyalakan lilin" Jelasku pada Rena yang terheran-heran melihat kue yang kubawa. "Lalu, Dia akan meniup lilin sambil mengucapkan permohonan agar keinginannya dapat terkabul"
"Kalau disini Kami membuat nasi dengan lauk khusus" Ujar Rena setelah Dia mengerti maksud kue yang kubawa.
"Semoga Pangeran mau menerimanya" Kataku berharap. Semua orang mengatakan agar Aku tidak melakukannya, Tapi Aku tetap melakukannya. Aku tidak tahu apa tanggapannya, Tapi Aku tidak akan menyerah sebelum mengetahui hasilnya.
Aku selesai mempersiapkan kue dan kado. meletakkannya di atas meja di dalam kamar. Setelah itu Aku bersiap mandi, berdandan rapi untuk menyambut kedatangan Pangeran.
Malam sudah larut, Aku terkantuk-kantuk di bangku dekat cendela besar di pojok ruangan, Ketika pada akhirnya Pangeran datang. Wajahnya tampak dingin dan tidak bersahabat. Aku melihat ada sirat kesedihan di matanya. "Kau sudah datang ?" Tanyaku berdiri sembari meregangkan tanganku keatas. Otot punggungku terasa kaku karena terlalu lama duduk menekuk di sofa.
"Sudah malam, kenapa Kau belum tidur"
"Aku menunggumu pulang" jawabku tenang.
"Tidurlah" Perintahnya singkat. Aku mencekal tangannya saat Dia beranjak pergi. Menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanyanya tak suka. "Aku sedang tidak ingin bermain-main Yuki"
"Beri Aku waktu lima menit saja" Pintaku memohon. Pangeran diam tidak menjawab. Aku berlari menuju meja, menyalakan lilin di atas kue. Berjalan dengan hati-hati ke arahnya.
"Selamat ulang tahun" Kataku bersemangat.
Aku terkejut saat Pangeran menepis kue ditanganku hingga terjatuh ke lantai. Kuenya hancur berantakan.
"Apa yang Kau lakukan" Tanyaku marah.
"Aku tidak butuh ini semua. Untuk apa Kau melakukannya"
"Aku sudah mempersiapkan ini dari jauh hari....Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu. Apa itu salah"
"Aku sudah bilang, Aku tidak membutuhkannya" Kata Pangeran Acuh. Dia berjalan melangkahi kue ulang tahunnya di lantai seolah itu adalah seongok sampah yang tak berguna.
"Aku tahu Kau masih menyalahkan diri atas kematian ibumu, Tapi dengan Kau bersikap begini tidak akan mengembalikan ibumu hidup kembali"
"Tau apa Kau soal ibuku." Geram Pangeran marah.
"Aku tidak tahu apapun soal Ratu tapi yang kutahu tidak ada seorang ibu yang menyesali telah melahirkan anaknya. Tidak ada" Kataku lantang. "Aku pun sama sepertimu. Ayahku terbunuh karena Aku. Aku sangat menyesalinya. Tapi hidup haruslah tetap berjalan. Ayah tidak mungkin senang jika Aku hanya bermuram durja dan menyalahkan diri. Seharusnya Kau juga bisa seperti itu"
Aku berjalan, menyambar hadiah di meja. Mendekatinya dengan langkah cepat. "Ini hadiahmu. Kau bisa membuangnya kalau Kau mau"
Aku berjalan pergi, menutup pintu kamar dengan kasar. Aku menyusupkan wajahku di atas tempat tidur menangis.
Seharusnya Aku sudah tau akan begini hasilnya. Mereka semua sudah mengingatkanku, Aku yang terlalu berharap Dia akan menerimanya.
Keesokan harinya Aku bangun. Wajahku sembab sehabis menangis semalam. Dia tidak ke kamar. Aku mendengarnya keluar kamar entah kemana. Aku tidak tahu apakah semalam Dia kembali atau tidak. Saat Aku menuju ruang kerjanya, Kue dilantai sudah dibersihkan. Tidak ada apapun di kamar ini yang menandakan telah ada sedikit keceriaan semalam. Seolah moment sebelumnya tidak pernah terjadi. Aku menghela nafas, berusaha tidak menghiraukan hal ini
Aku menari di ruang tari istana Pangeran. Kurentangkan tanganku, mengikuti iringan musik yang mengatur setiap hentak langkahku. Saat pikiranku terasa sumpek, Aku menyalurkan energi negatifku dengan menari dan ajaibnya kegiatan ini mampu memberiku pikiran yang lebih jernih pada setiap masalahku. Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan ini ada, Dulu Aku sangat membenci kegiatan ini. Gemerincing lonceng dikakiku seiring setiap hentakan langkahku. Aku berputar, meloncat, menari bebas bagaikan seekor burung yang terbang bebas di udara. Keringat membasahi keningku, Namun Aku tidak berniat menghentikan tarianku.
Ritme musik semakin cepat dan menghentak. Aku berputar ringan di tengah ruangan. Mataku terpejam, Aku mencoba menghilangkan rasa kecewa dan sedih yang bercongkol di hatiku. Berputar dan terus berputar.
Buukk
Aku menghentikan gerakanku saat tiba-tiba Aku menanbrak seseorang di belakangku.