
Kakiku gemetar saat melangkah memasuki gerbang. Aku tidak pernah berpikir sebelumnya Aku akan kemari. Aku menahan mati-matian perasaan ingin berbalik pergi. Pangeran Sera terus di belakangku, menuntunku agar terus melangkah.
Selangkah...
selangkah lagi....
Aku berdiri di depan batu nisan yang terletak di samping pohon pinus. Makam ini jelas tidak pernah di kunjungi orang. Rumput liar tumbuh di sekitarnya. Namun Aku masih bisa membaca tulisan yang terukir di batunya dengan jelas.
Dalto Radit
Aku mencengkram dadaku kuat dengan kedua tanganku. Jantungku seolah dihantam oleh tangan tak terlihat. Cukup menyakitkan. Aku mundur beberapa langkah. Pangeran menompangku agar tidak jatuh. "Aku baik-baik saja" Bisikku pelan. Pangeran melepaskanku ketika Aku sudah berdiri tegak.
Di Nisan tersebut ada tulisan yang langsung membobol pertahananku.
Berbahagialah
Hanya satu kata. Tapi mampu membuat seluruh lukaku menetes kembali. Kesedihan yang selama ini kupendam mengalir keluar. Aku tersuruk di depan nisan. Menangis dengan kencang. Pangeran Sera memelukku kuat. Mencegahku dari kehancuran. "Semudah itu Kamu mengatakannya...Semudah itu..." rancauku di sela tangisanku.
Aku terus menangis, mengeluarkan kepedihan yang selama ini menyesakan dada.
Pangeran tidak mengatakan apapun, Dia hanya diam memelukku. Membiarkanku menumpahkan emosi negatif yang selama ini menjadi temanku. Ketika Akhirnya Aku bisa tenang, Aku mulai menceritakan semuanya mengenai Bangsawan Dalto. Kepedihanku. Frustasi. Rasa bersalah. Pangeran terus mengenggam erat tanganku ketika Aku bercerita.
"Terimakasih, Pangeran sudah membawaku kemari" Bisikku Akhirnya.
"Semoga dengan ini Kau sudah bisa menerima kepergiannya" Ujar Pangeran Sera lembut. Aku memandang langit sore. Aku harus pergi. Kembali ke istana.
Pangeran Sera mengantarku kembali menyelinap memasuki istana. Memasuki Istana lebih tidak mudah ketimbang menyelinap keluar karena para penjaga sekarang lebih waspada. Dari raut wajah mereka Aku tahu bahwa Pangeran Riana telah marah besar. Aku melangkahkan kakiku kembali menuju ruangan tempat Aku menyembunyikan pakaian putriku. Sepertinya Mereka tidak menemukannya, Aku menganti pakaianku kembali.
Aku seperti menjadi pribadi yang baru setelah pergi ke pemakaman Bangsawan Dalto. Kesedihanku masih ada tapi Aku seolah bisa mengatasinya sekarang ini. Seperti seseorang yang telah di beri imun, Aku sudah kebal dengan sakit yang kuhadapi. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghapus air mataku sampai Aku bisa melupakannya.
Tidak ada lagi kesedihan.
Berbahagialah...
Itu pesan terakhirnya untukku. Aku menatap ke arah langit. Mengingat sosoknya dalam pikiranku.
Aku baik-baik saja. Kau jangan cemas.
"Putri Yuki" Para pelayan tampak lega saat melihatku muncul di koridor kamar. Mereka langsung menghampiriku seolah takut Aku menghilang lagi.
"Kami sudah mencari anda dimana-mana"
"Aku hanya butuh waktu sendiri beberapa saat, Ada apa ?"
"Terjadi bencana alam di perbatasan wilayah Arguede dan Garduete. Pangeran Riana akan bersiap ke sana"
"Bencana alam ?" Tanyaku kaget.
"Ya putri, Tsunami yang sangat hebat. Diperkirakan korbannya sampai ribuan" Jelas Pelayan panik.
"Dimana Pangeran ?"
"Antar Aku kesana"
Aku berlari menuju halaman depan dan menemukan Pangeran Riana sedang mengatur Pasukan. Kereta-kereta penuh pembekalan berjajar rapi. Para Prajurit, pelayan dan perawat berdiri pada posisinya. Siap berangkat.
"Kau sudah kembali" sindirnya saat melihatku datang. Aku diam tidak menanggapinya. Pangeran memandang wajahku, Aku tahu Aku terlihat sangat mengerikan. Wajahku sembab sehabis menangis seharian. Dia memalingkan wajah kembali melihat laporan ditangannya.
"Ambilkan jubah untuk Putri Yuki, Dia akan ikut Aku"
Perintah Pangeran setelah selesai membaca dokumennya. Pelayan yang dimaksud langsung berlari masuk ke dalam mengambil jubah.
"Kau akan mengajaknya ?" Tanya Bangsawan Asry yang berada tepat disampingnya.
"Memang berbahaya membawanya ke sana, Tapi Aku tidak akan tenang meninggalkannya disini apalagi jika ada yang berusaha menyelinap ke istanaku untuk membawanya"
Aku terkejut Dia mengetahui bahwa Pangeran Sera memasuki istananya.
Pelayan datang membawakan jubahku. Aku melepaskan semua perhiasan ditubuhku. Memberikannya pada pelayan. Memakai jubahku bersiap untuk berangkat.
"Sepertinya Putri tidak terganggu dengan keberangkatan ini" Tanya Bangsawan Asry. Tampaknya Dia juga akan ikut mendampingi Pangeran Riana ke tempat bencana.
"Seberapa parah kah keadannya ?" Tanyaku balik. Aku mengambil ikat rambut dan membuat cepol rambut di kepalaku.
Bangsawan Asry mengelengkan kepala dengan wajah pasrah. Dari sikapnya Aku tahu bahwa ini sangat parah.
"Kita adalah rombongan bantuan kerajaan yang pertama, Riana langsung memimpin pasukan sendiri untuk melihat langsung kondisinya. Tapi Aku tidak menyangka Dia akan membawa Putri turut serta"
"Jangan cemas, Aku sudah pernah mengalami hal yang lebih sulit dari ini" Selorohku berusaha menghibur.
"Aku percaya padamu Putri, Sepertinya Putri memang adalah orang yang tepat untuk Riana. Semenjak ada Putri Dia berubah banyak"
"Benarkah ?"
"Ya, Riana banyak berubah ke arah yang lebih baik"
Aku menangkap keseriusan di mata Bangsawan Asry.
"Bangsawan Asry ikut ke tempat bencana ?" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Tidak ingin membahas hubunganku dengan Pangeran Riana. Mereka adalah teman-temannya. Sudah pasti mereka akan melebih-lebihkan Pangeran Riana dihadapanku.
"Ya, Voldermon dan Xasfir harus mengurus istana Harem. Mereka akan menyusul di gelombang selanjutnya"
"Istana Harem ?" bukankah itu adalah Istana Wanita milik Pangeran Riana. Tempat dimana Dia menyimpan koleksi wanitanya. "Ada apa dengan istana Harem ?"
Bangsawan Asry mengkerutkan kening tak percaya. "Apa putri tidak mendengar, Riana telah melepaskan seluruh dayang-dayangnya keluar istana."
"Apa ?" Kataku kaget.
"Benar Putri, Dia melepaskan semua wanitanya, Voldermon dan Xasfir sedang mengurus pelepasan ini"
Aku mengerjap. Apa ini serius. Tapi untuk Apa Bangsawan Asry berbohong ?.