Win Direction

Win Direction
33



"Aku tidak bisa hidup tanpamu Yuki. Kaulah segalanya bagiku"


"Pangeran"


Pangeran Sera mendekatkan wajahku dan langsung menciumku mesra. Aku mendengar pekikan dari para Putri.


"Pangeran" Panggilku lagi ketika Dia melepaskan ciumannya.


Pangeran mendongak menatap sekeliling. "Semuanya dengarkan" Teriak Pangeran Sera, Sontak seluruh yang ada berlutut penuh hormat.


"Kalian adalah saksiku. Disini, atas nama Dewi Skakala, Disaksikan kalian semua, Aku Sera Madza Putra dari Raja Jafar Madza, Perwaris tahtah kerajaan Argueda bersumpah bahwa Aku hanya Akan menikahi seorang wanita dalam hidupku"


"Pangeran" Panggilku terkejut. Terdengar seruan protes lain dari kejauhan.


"dan itu adalah Kau Yuki, Kau adalah satu-satunya wanita yang akan kunikahi. Satu-satunya wanita yang berhak menjadi ratuku di masa depan. Inilah sumpahku. Sumpah ksatria"


Pangeran mengambil belati di pinggangnya dan menggoreskan di ibu jarinya. Darah mengucur dari sana. Dengan tenang Dia menuliskan tanda di dahiku. "Inilah tanda perjanjianku padamu. Darahku"


"Pangeran.."


"Semuanya pergi. Aku ingin berendam berdua dengan calon istriku"


Tanpa perlu dikomando dua kali, Semua orang pergi. Wajah mereka pucat pasi. Tak berapa lama Tinggal kami seorang diri disini.


"Kenapa Pangeran melakukan ini ?" Protesku cepat. "Sumpah ksatria, itu adalah hal sakral dan tidak boleh dilanggar"


"Karena sakral, Aku tidak ragu melakukannya. Aku bisa meninggalkan segalanya asal Kau mau bersamaku. Sekarang ?, Apa Kau sudah melihat keseriusanku Yuki ?" Tanyanya dengan wajah serius. Aku menatap ke dalam matanya. Ada cinta yang begitu besar di sana. Jika Aku bersamanya, Aku akan bahagia. Aku tidak ragu akan hal itu...Tapi..hatiku seolah ada yang mencegah. Ada sesuatu yang membuatku ragu untuk menerima hatinya. Aku tidak mengerti ada apa dengan diriku. Padahal kebahagiaan jelas tepat didepan mataku. Pangeran kembali menarikku, Menciumku kuat.


"Putri" Rena datang membawa selimut tebal ketika Aku datang. Pangeran Sera mengendongku dari sepanjang jalan kolam sampai kamar. Pangeran menurunkanku. Rena langsung menyelimutiku dengan selimut.


"Apa putri tidak apa-apa. Maafkan Saya lalai menjaga Putri" Ujar Rena menyesal.


"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir seperti itu" Kataku menenangkan.


"Bawa Putri Yuki untuk berganti baju dan membersihkan diri" Ujar Pangeran Sera di sampingku.


"Baik Pangeran. Mari Putri" Ajak Rena. Aku mengikuti tarikan tangan Rena untuk masuk ke dalam kamar. Sementara itu Pangeran menunggu dua orang jendral yang sedang berjalan menghampirinya di luar.


Kerajaan gempar oleh sumpah ksatria yang diucapkan Pangeran Sera. Aku sudah berkali-kali membujuk Pangeran Sera untuk membatalkannya. Namun Dia hanya tersenyum dan lalu menciumku. Menurut Rena Jika Pangeran sudah menandatangi sumpahnya dengan darahnya, Artinya Dia berani bertaruh harga diri dan nyawanya jika Dia sampai melanggar. Aku semakin dibuat pusing karenanya.


"Aku sudah bilang Kakak selalu melewati batas jika bersama Putri. Dan sumpah ksatria itu adalah salah satu contohnya" Ujar Putri Margitha sambil memindahkan bidak caturnya.


"Sekarang kerajaan tidak ada pilihan lain selain memaksa Putri untuk menikahi kakak, Jika tidak, Posisi Kakak sebagai perwaris tahtah akan lengser. Sedangkan Arana belum cukup umur untuk mengantikannya. Jika terus begini, Aku khawatir akan terjadi pemberontakan kerajaan untuk memperebutkan kekuasaan"


Aku terdiam mendengar seloroh Putri Margitha. Dia tampak begitu santai menangapi persoalan sumpah kesatria itu. Seolah hal itu bukan masalah besar. Putri Margitha mengambil satu buah kacang kenari dan memakannya sambil menungguku mengambil langkah selanjutnya pada papan catur.


"Apa yang Pangeran ucapkan bisa membahayakan dirinya dan kalian. Kenapa Kau begitu tenang ?"


Aku melangkahkan kuda dan memakan menteri hitam. Putri Margitha memandang dengan alis berkerut, seolah tidak menyangka bahwa Aku akan mengambil langkah ini.


"Karena Aku percaya pada kakak. Dia yang terbaik" Putri Margitha tampak percaya diri mengatakannya.


"Hubungan kalian sangat dekat. Aku jadi iri, Aku tidak punya saudara. Baik itu seorang kakak ataukah adik"


"Benarkah, Tapi Aku juga iri Kau bisa mendapatkan orang sesempurna Kakak tanpa perlu bersusah payah. Kau tau kenapa Putri Nadira sangat membencimu. Karena Dia menyukai kakak"


"Wajar saja mereka bersaudara"


"Bukan itu maksudku" Gerutu Putri Margitha kesal. "Dia menyukai Kakak seperti seorang gadis menyukai laki-laki"


"Apa, Tapi mereka bersaudara" Kataku terkejut.


"Di sini itu adalah hal biasa, Untuk memperkuat darah keturunan Raja, Pangeran bisa mengambil wanita yang masih berhubungan darah dengannya"


Aku merenung. Ternyata di dunia ini hal-hal seperti ini masih ada. Perkawinan sedarah.


"Apakah Dia juga bisa menikahi Putri ?" Tanyaku berhati-hati.


Putri Margitha mengelengkan kepala. "Tidak, jika kakak melakukannya, Kami berdua bisa dihukum gantung tanpa pengadilan"


"Kenapa ?"


"Pernikahan itu hanya bisa dilakukan kepada anak wanita raja yang lain. Jika pernikahan dari rahim yang sama, di sini dianggap tabu dan bisa mendatangkan bencana"


Aku menganggukan kepala mengerti.


"Sedang apa Dia disini ?" Aku ingin mengatakan sesuatu tapi terdengar suara Putri Nadira di belakangku. Ketika Aku berbalik, Putri Nadira sudah berada beberapa langkah didekatku. Dia bersama dengan teman-temannya. Memandangku dengan tatapan hina.