Win Direction

Win Direction
41



"Kakak pergi beberapa hari untuk menyelidiki sesuatu. Dia memintaku dan Arana menjaga Putri." Ujar Putri Margitha mengalihkan pembicaraan. Dia sepertinya tau Aku tidak ingin membahas soal Rena.


"Ada apa ?" kataku cemas. Tidak biasanya Pangeran pergi mendadak tanpa direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.


"Kakak mencari bukti bahwa Perdana Menteri Borindo terlibat pergerakan untuk mengacaukan negara"


Aku sedikit lega mendengarnya, Aku pikir ini mengenai Pangeran Riana. Aku khawatir Dia kembali bertindak nekat setelah mendengar masalah penyerangan ini.


"Apakah ada sesuatu yang menganggu Putri" Tanya Putri Margitha keheranan. Aku menggelengkan kepalaku. Berharap Dia tidak curiga padaku.


"Lalu bagaimana, Apakah Pangeran berhasil menemukannya" Tanyaku kembali berusaha memfokuskan pada cerita Putri Margitha.


Putri Margitha mendesah. "Orang tua itu sangat licik. Aku yakin Dia juga otak utama terhadap penyerangan Putri dan pelayan Putri"


Para penjaga tidak berhasil menemukannya. Siapapun pelakunya Dia berhasil melarikan diri dan menghilang bagaikan asap.


"Aku sudah mengatakan pada Kakak, Pelakunya pasti salah satu Putri di aula. Tapi Kakak tidak percaya" Kata Putri Margitha gemas. "Jika Kita menemukan pelakunya, Kita bisa memaksanya membuka mulut dan mendapatkan bukti dari kelicikan Perdana menteri Borindo"


"Kalau begitu, Bagaimana jika Kita mencari tau sendiri" Usulku spontan.


Aku ingin menemukan pelakunya, Untuk Rena.


"Tidak..Kakak tidak akan suka" Tolak Putri Margitha langsung. Wajahnya tampak ketakutan.


"Kenapa ?" kataku kecewa.


"Jika terjadi sesuatu dengan Putri Dia pasti akan sangat marah. Sekarang saja Kami benar-benar diminta berhati-hati menjaga Putri. Kami tidak boleh membiarkan Putri sendirian selama Kakak pergi"


Aku jadi mengerti, Kenapa Putri Margitha berada di kamarku malam-malam.


"Aku janji Kita hanya akan menyelidiki saja, Tidak lebih"


"Tidak" Tolaknya lagi kali ini lebih keras. Wajahnya tampak sangat gusar dan tertekan. Aku harus mencari ide agar Dia mau bekerjasama.


"Aku juga percaya pelakunya adalah salah satu dari Putri di aula seperti yang Putri Margitha sampaikan pada Pangeran Sera"


"Benarkan...Putri juga percaya itu" Putri Margitha tampak puas.


Aku langsung mengambil kesempatan ini untuk kembali membujuknya.


"Ya, Tentu saja. Aku terus memikirkan perkataan Putri Margitha. Kita ini wanita, dan hanya wanita saja yang tau dengan jelas bagaimana pikiran wanita lainnya"


Putri Margitha mengangguk membenarkan. "Kakak tidak mempercayaiku, Dia mengatakan Aku hanya mengada-ada dan melarangku membahasnya lagi terutama didepan Putri"


"Bagaimana bisa" Putri Margitha kembali ragu.


"Jika Pangeran atau Prajurit yang bertanya, Para Putri akan bungkam walau mereka melihat atau mengetahui sesuatu yang aneh. Tapi jika Kita berbaur dengan Mereka, Pasti suatu saat salah satu dari mereka akan memberikan petunjuk entah mereka sadar atau tidak"


"Aku rasa Putri ada benarnya" Kata Putri Margitha setelah terdiam cukup lama.


"Kita hanya berbaur dan mendengarkan atau mengamati saja. Tidak akan membahayakan" bujukku lagi berusaha mempengaruhi Putri Margitha.


"Tapi..Mereka tidak menyukai Putri, Jika putri berkumpul bersama Putri harus mendengarkan kata-kata yang menyakitkan. Apa putri siap ?" Tanya Putri Margitha tak yakin.


"Demi membantu Pangeran Sera, Aku siap melakukannya" Kataku yakin.


"Baiilah, Kita akan melakukannya diam-diam. Jangan sampai kakak mengetahuinya atau Dia akan marah padaku"


"Aku janji, Dia tidak akan mengetahui hal ini"


"Sekarang Kita sembuhkan dulu Putri. Kakak tidak mungkin mengizinkan Putri kemana-mana jika Putri sedang sakit" Ujar Putri Margitha menyerah. Aku senang Dia mau membantu. Aku tidak mungkin bisa sendiri menghadapinya. Demi Rena, Aku harus menemukan pelakunya.


"Putri Margitha" Salam seorang Putri menghampiri Kami saat Kami baru saja tiba di area pantai istana Raja. Dibelakangnya ada beberapa Putri duduk berkelompok sembari memandangku dengan sinis.


"Putri Nagin" Jawab Putri Margitha membalas salam. Putri Nagin jelas mengacuhkan keberadaanku. Dia sama sekali tidak memandangku sama sekali.


Aku duduk di sebuah tikar yang telah digelar pelayan. Angin bertiup cukup kencang hari ini. Seorang pelayan lain memasangkan payung besar untuk melindungi Kami dari sengatan sinar matahari.


"Sudah lama putri tidak bermain kemari ?" Ujar Putri Nagin masih dengan sikap mengacuhkanku .


"Aku sedikit sibuk belakangan ini, Sekarang Aku punya waktu dan mengajak Putri Yuki bersama untuk menikmati keindahan pantai" Jelas Putri Margitha dengan wajah datar. Pengendalian emosinya cukup baik. Aku harus banyak belajar darinya. "Apakah Putri Nagin ingin ikut bergabung bersama kami" Tawar Putri Margitha langsung.


"Saya merasa tidak pantas, Lagipula saya khawatir jika Saya memaksakan diri, akan timbul masalah seperti Putri Nadira akibat ketidak sukaan seseorang padanya"


"Saya Yakinkan Putri Nadin tidak akan mendapat masalah apapun jika mampu bersikap bijak dan santun. Putri Nadira mendapatkan hukuman karena perbuatannya sendiri. Jelas Dia Bersikap kurang ajar pada Putri Yuki yang kedudukannya lebih tinggi darinya. Dia juga nyaris mencelakakan Putri dengan sengaja mendorongnya ke kolam ikan. Apa menurut Putri, Perbuatan Putri Nadira adalah hal yang wajar ?" Tanya Putri Margitha dengan ketegasan yang luar biasa.


Putri Nadin menggigit bibirnya tampak kesal.


"Atau Putri Nadin bercita-cita mengikuti jejak Putri Nadira ?"


"Tidak Putri Margitha, Maafkan ketidaksopanan hamba" Jawab Putri nagin ketakutan. Putri Margitha masih menatapnya dengan pandangan siap menyerang.


"Aku rasa Putri Nagin sudah mengerti sekarang. Jika Putri Nagin tidak ingin bergabung, Putri bisa pergi dan membiarkan Kami duduk tenang menikmati pantai"