Win Direction

Win Direction
13



Pintu di buka perlahan. Aku menatap ke arah pintu dengan jantung yang berdebar cukup cepat. Akhirnya setelah waktu yang seolah berhenti. Sosoknya muncul di balik pintu. Rambut pirang keemasan, tubuh tinggi dan langsing. Dia berjalan dengan penuh ketenangan memasuki aula. Beberapa menteri berbisik gusar. Ada kecemasan di wajah mereka. Aku menyadari adanya ketegangan didalam Aula ketika Pangeran Sera datang. Pangeran Riana mencengkram pinggangku kuat, menarikku semakin mendekatinya. Wajahnya tampak datar, tapi tatapan matanya tajam menusuk ke arah Pangeran Sera.


Saat Aku berpaling mataku bertemu dengan Pangeran Sera. Dia tersenyum hangat seolah menyambut pertemuan kami kembali. Tapi Pangeran Riana kembali menarikku ke arahnya, Seolah jarak Kami belum cukup dekat. "Tundukkan pandanganmu" Perintah Pangeran Riana tegas di telingaku. Aku langsung memalingkan wajahku melihat ke meja didepanku. Ibu Suri menatap padaku dari tempatnya tampak tidak suka dengan reaksiku. Mereka semua tampak sangat tegang.


Pangeran Sera telah sampai di bawah mimbar kerajaan, memberi hormat kepada Raja Bardansah yang sudah menunggu.


"Hormat Saya Pada Baginda Raja Bardansah, Raja negeri Garduete" Salam Pangeran Sera dengan sikap patuh diikuti rombongannya. Raja Bardansah mengangkat tangan menerima salam dari Pangeran Sera.


"Selamat datang kembali ke negeri ini Pangeran Sera dari negeri Argueda. Cukup terkejut Anda begitu menyukai negeri ini" Sindir Raja Bardansah secara halus.


"Saya dengar perjamuan kerajaan kali ini untuk mengesahkan Calon Ratu Pangeran Riana yang telah ditunjuk oleh dewa, Saya berterima kasih atas undangan kerajaan, sebagai ucapan selamat Saya kepada kerajaan Garduete terimalah hadiah dari Kami negeri Argueda" Pangeran Sera mengacuhkan sindiran Raja Bardansah. Dia tetap bersikap santun, tanpa rasa tersinggung di wajahnya. Senyumnya masih menghias di bibirnya, mempesona kaum hawa yang melihatnya. Seorang pelayan kerajaan dalam rombongannya berdiri sembari membawa nampan yang ditutupi kain berwarna merah dengan sulaman benang emas. Prajurit di sebelahnya membuka kain tersebut. Sebuah patung wanita terbuat dari emas yang berkilau, setinggi 25 cm dan lebar 10 cm membuat takjub siapapun yang memandangnya. Ukirannya begitu indah, menunjukan lekukan seorang wanita secara sempurna. Jelas dibuat oleh seniman kelas atas, Decak kagum para penonton terdengar memenuhi aula. Pelayan itu maju dengan berhati-hati. Menyerahkan nampan berisi patung emas kepada seorang menteri Garduete yang menerimanya dan menyerahkan pada pelayan lain untuk disimpan.


"Kerajaan Garduete berterimakasih atas hadiahnya, Sebentar lagi acara pengesahan akan di mulai. Silahkan Pangeran dan rombongan duduk di tempat yang telah disediakan"


Pangeran Sera diantar oleh pelayan untuk duduk di meja yang penuh dengan sajian makanan. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan situasi yang ada, tetap tenang namun mawas. Semuanya menatap Raja dan Ibu Suri yang telah bersiap. Dua orang pelayan berdiri membawa nampan di samping Ibu Suri.


"Sekarang lepaskan Aku, sebentar lagi Calon Ratumu akan datang. Aku tidak mau mendapatkan masalah karena ini" Tegurku pada Pangeran sambil melepaskan tangannya di bahuku. Pangeran tidak menjawab, Dia berdiri sambil menarik tanganku, memaksaku untuk ikut berdiri mengikutinya. Semua hadirin tampak berfokus pada Raja dan Ibu Suri yang berdiri ditempatnya. Gong di bunyikan nyaring. Pendeta Serfa memasuki Aula, di belakangnya sepuluh pelayan wanita berbaris dua banjar, berpakaian cantik mengikutinya dengan setia.


"Berkat restu dari Dewa Aiswara, dewa penjaga negeri ini, Pangeran mendapatkan anugerah untuk melanjutkan tahtah selanjutnya, Sebagai bukti restu dari Dewa, Dia telah menunjuk seorang wanita untuk menjadi calon ratu yang akan mendampingin Pangeran Riana saat Dia naik tahtah. Hari ini, Disini...Kerajaan akan memperkenalkan dan memberikan mahkota untuk mengesahkan posisi calon ratu yang telah ditunjuk dewa" Ujar Pendeta Serfa lantang.


"Apa yang Kau inginkan" Bisikku kesal saat Pangeran menarikku untuk ikut ke atas mimbar. Aku tidak berani melawan karena Ibu Suri sudah memelototiku duluan. Aku berdiri di belakang Pangeran. Dia mengambil Batu amara, Batu yang dianugerahi dewa, yang hanya dapat bersinar jika dipegang oleh penerus tahtah kerajaan, Namun Aku tidak tahu apa sebabnya, Batu itu juga bersinar saat kusentuh.


Batu Amara bersinar di tangan Pangeran Riana. Dia kemudian berbalik dengan tiba-tiba. Menarik tanganku untuk maju menjajarinya. Batu Amara digenggamkan paksa ke tanganku.


Bukankah Raja melarangku untuk menceritakan soal Aku yang dapat membuat Batu Amara bersinar. Lalu kenapa sekarang Dia malah menyuruhku memegangnya di depan umum ? Aku sama sekali tidak mengerti.


Aku makin terkejut saat seluruh undangan kecuali Pangeran Sera dan rombongan menundukkan kepala memberi hormat. Ada kegembiraan di raut wajah mereka. Berbeda dengan yang lain, Wajah Pangeran Sera tampak tegang bercampur marah. Tidak ada lagi ketenangan dalam dirinya. Pendeta Naru mendekati Pangeran Sera sambil berbisik.


"Ada apa ini ?" Bisikku pada Pangeran Riana tidak mengerti.


Pangeran menatapku, Dia tampak puas. "Selamat Putri Yuki, Kau adalah Calon Ratu yang dipilih Dewa Aiswara untuk mendampingiku kelak. Kedudukanmu sudah sah di mata hukum"


Aku membeku mendengarnya.


Calon Ratu ?


Aku ?


Sementara itu terdengar seruan rasa syukur dari Para Hadirin.


"Selamat Pangeran Riana, Selamat Putri Yuki, Selamat atas pengesahan Calon Ratu kerajaan Garduete"


Sebuah mahkota di letakan dikepalaku berserta jubah di pundakku. Aku mengerjap, masih tidak mengerti situasinya.


Pangeran Riana tiba-tiba memelukku kuat, Lalu tanpa disangka Dia mencium bibirku. Aku mendorongnya berusaha melepaskan diri.


Gemuruh tepuk tangan terdengar. Saat Aku berhasil melepaskan diri, Pangeran Sera sudah tidak ada lagi ditempatnya. Dia sudah pergi.