Win Direction

Win Direction
6



Para pelayan datang dengan membawa nampan berisi berbagai macam barang. Seorang pelayan tua yang kelihatan galak memintaku untuk bangkit dari posisiku.


"Kami mendapat tugas langsung dari Pangeran untuk selalu mempersiapkan Putri kapanpun Pangeran menginginkan Putri. Untuk itu mari Putri, Kami akan memandikan dan mendandani Putri"


Melihatku yang hanya diam meringkuk di lantai dekat sofa, tempatku semenjak awal Pangeran meninggalkanku di kamar, Akhirnya dua orang pelayan maju dan membantuku berdiri. Mereka memegangiku dimasing-masing lenganku. Jubah pangeran yang menutupi tubuhku hampir jatuh, seorang pelayan lain menangkapnya dan meletakan kembali di tubuhku. Aku dituntun menuju kamar mandi didalam kamar.


Aroma terapi dibakar, wanginya menyebar keseluruh ruangan. Seluruh pakaianku dilepaskan. Aku malu saat mereka melihat bekas ciuman Pangeran menyebar di dada dan leherku. Bahkan ada yang terlihat di pahaku. Mereka menuntunku ke tempat tidur panjang, Disana seluruh tubuhku di pijat dengan lembut. Syarafku yang tegang menjadi lebih rileks. Aku membiarkan saat seorang pelayan memijit pelan kepalaku, Pusingnya lumayan berkurang. Setelah tubuhku diolesin minyak, mereka mengolesi dengan lulur racikan. Menggosoknya sedemikian rupa agar kotoran yang menempel di kulitku lepas. Baru setelah itu mereka mengizinkanku untuk masuk ke dalam bak mandi.


Bak mandi ini cukup besar, cukup untuk berendam sepuluh orang didalamnya. Aku menenggelamkan diriku sampai sebatas dagu. Dibelakangku pelayan lain memberi rambutku minyak. Mereka membersihkan semua bagian tubuhku. Bahkan gigi dan kukuku pun tak luput mendapatkan bagiannya.


Setelah Aku selesai mandi, mereka kembali mengoleskan lotion di badanku. Gesekan kulit dan pakaian selembut sutra berwarna hijau pastel. Gemerincing perhiasan saat mereka memasangkannya di badanku. Pelayan lain mendandaniku wajahku.


"Pangeran..." Aku berbalik saat seluruh pelayan tiba-tiba menunduk memberi hormat. Pangeran Riana muncul tepat ketika Aku selesai berdandan.


"Pakaian itulah yang tepat untukmu" Ujar Pangeran puas melihat penampilanku. Aku kembali berpakaian ala putri kerajaan Garduete. Sebuah tanda pengenal bangsawan kerajaan di kaitkan di ikat pinggangku. Setiap Aku bergerak, gemerincing perhiasan yang saling beradu terdengar.


"Apa Kau sudah puas pangeran ?" Tanyaku sengaja menekankan kata Pangeran untuk menyindirnya. Pelayan tua di sampingku sedikit bergerak, wajahnya merespon ucapanku dengan mimik masam.


"Kalian pergilah" Ujar Pangeran seolah tidak mendengar sindiranku. Para pelayan membereskan barang bawaan mereka, meletakkan kembali di nampan. Setelah selesai mereka beringsut dengan penuh penghormatan, meninggalkan ruangan secara perlahan. Sekarang hanya tinggal Kami berdua disini.


Aku berbalik, berusaha melepaskan anting-anting yang berada di telingaku. Pangeran berjalan menghampiriku, menarikku untuk melihatnya. "Apa yang Kau lakukan ?" Tanyanya dingin. "Jika Kau berani melepaskan barang-barang itu dari tubuhmu, Aku pastikan Kau akan mengenakannya di dalam kamarku tanpa sehelai benangpun di tubuhmu".


Aku menatapnya penuh kemarahan, Namun menghentikan niatku untuk melepaskan perhiasan yang kukenakan.


Pangeran melepaskan pegangan tangannya. Aku langsung mundur menjauhinya. Dia berjalan pergi.


Aku menatap bayanganku di cermin. Seorang gadis yang berdiri menatapku di sana, mengenakan pakaian putri yang sangat indah, perhiasan yang diimpikan para gadis, Namun...Aku tidak melihat kebahagiaan di wajahnya. Dia seperti sosok lain bagiku.


Aku membenci diriku yang seperti ini. Kuambil vas bunga di dekatku dan kulemparkan kencang kearah cermin.


Pranggg !!!


Terdengar langkah kaki mendekat, Para penjaga masuk dengan wajah khawatir. Mereka melongok melihatku berdiri menatap kaca yang retak, sebagian berhamburan di lantai.


"Aku tidak apa-apa" jawabku singkat. Penjaga itu mengulurkan tangannya. Menarikku keluar dari pecahan kaca didekatku. Dia begitu berhati-hati agar Aku tidak terluka.


"Panggilkan para pelayan untuk membereskannya" Perintah penjaga itu pada temannya. Temannya menganggukan kepala mengerti. Dia bergegas keluar kamar.


"Mari putri, Kita masuk ke dalam kamar tidur. Pelayan akan menyajikan teh hangat dan kue plum agar putri lebih tenang"


Penjaga itu melihatku khawatir. Dia terus berada di dekatku ketika Kami melewati pelayan yang tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang ganti.


Sesampainya di ruang tidur, Penjaga menarik sebuah kursi. Aku duduk dengan patuh. Teh dituangkan dalam cangkir berserta kue di piring kecil. "Makanlah putri, Agar putri lebih tenang" pinta penjaga itu.


"Aku tidak ingin makan" Kataku menolak.


"Ini akan membuat putri tenang"


"Apa makanpun Aku harus diatur ?" Kataku kesal. Penjaga terdiam dengan ekpresi serba salah.


"Ada apa ini ?" Pangeran Riana muncul dari balik pintu. Dia melirik ke arah kamar ganti yang terbuka, Dimana para pelayan memberi hormat sembari memegangi pecahan cermin.


Aku memalingkan wajahku tidak mau melihatnya. Sepertinya seseorang telah melaporkan kejadian ini sehingga Dia segera kembali kemari.


"Berikan itu" Ujar Pangeran kepada penjaga, Penjaga memberikan piring kue kepada Pangeran, Setelah memberi hormat Dia berlalu pergi.


Pangeran beranjak duduk didepanku. Dia menatapku dalam, Menilaiku.


"Makan" Kata Pangeran setelah Dia diam cukup lama.


"Aku tidak lapar ?" Tolakku acuh. Aku menghindari tatapannya, lebih mencoba fokus pada pelayan yang sedang membersihkan pecahan kaca.


Pangeran meletakkan piring kue di meja disampingku. Dia mengambil satu buah kue dan mengigitnya di mulut. kemudian...


Aku terkejut saat Dia menarik tengkukku mendekatinya. Tanpa peringatan Dia memasukkan kue ke dalam mulutku. Aku mendorongnya mundur. Mengeluarkan kue dari mulutku, masih tidak menyangka Dia akan melakukan ini. Para pelayan dan penjaga menundukkan kepala, Tidak berani melihat ke arah kami.