Win Direction

Win Direction
40



Rena menatapku penuh ketenangan. Dia tidak mengatakan apapun, Pandangan matanya seolah menyampaikan padaku bahwa Dia menyesal tidak bisa menjagaku ke depannya. Dia berharap Aku akan selalu baik-baik saja.


Aku teringat saat Kami pertama Kali bertemu. Ketika Kami bertengkar karena Pakaian yang harus kukenakan. Ketika Dia mengajariku membuat gererou dengan sabar sampai larut malam. Dia selalu tersenyum padaku walau kadang Aku bersikap menyebalkan.


Dia lah yang selalu mengajariku tentang dunia ini. Tanpa Dia Aku pasti tidak akan mengerti apa-apa. Dan kini Dia terluka karena Aku. Karena melindungiku. Aku menangis sesenggukan. Butiran air mataku kembali mengaburkan pandanganku. Di luar, hujan turun semakin deras.


Dia sangat setia padaku. Seperti Bibi Sheira kepada Mama. Aku tidak mungkin bisa menemukan orang yang seperti Dia. Tidak akan ada lagi pelayan yang menyebalkan yang selalu menceramahiku soal kesopanan dan tata krama sebagai seorang Putri terhormat.


Aku menghapus air mata yang menghalangi pandanganku.


Rena menarik nafas panjang. Kemudian Dia tidak bergerak.


Diam


Sekelilingku seolah kosong. Tidak ada suara apapun.


"Rena.." Bisikku memanggil. Memecah kekosongan yang terjadi.


Pandangannya kosong, tidak lagi berjiwa. Aku menggoyangkan badannya. "Rena.."Panggilku lebih kencang. Tidak ada respon.


Jantungku berdebar kencang.


Terdengar isakan lirih dibelakangku.


Seorang Prajurit berjongkok memeriksa nadi pada leher Rena. Dia kemudian menatapku penuh simpati. "Maaf Putri, Pelayan Putri sudah meninggal" Katanya lirih.


Aku menggelengkan kepalaku menolak. Aku menggoncangkan badannya lebih keras. Berharap Dia bangun. "Rena bangun...Rena..Aku mohon bangun"


"Yuki" Sepasang tangan meraihku. Menarikku ke pelukannya.


"Pangeran...Aku mohon..Aku mohon Selamatkan Dia...Dia tidak boleh mati..tidak.." Kataku menggelengkan kepala dengan air mata yang terus membanjiri pipiku.


"Dia sudah tidak ada Yuki" Bisik Pangeran bersedih.


"Tidak..Dia akan menikah..Dia sebentar lagi akan menikah..Dia harusnya berbahagia" Aku kembali memeluk Rena erat di dadaku. Tangisku pecah. Aku menangis sekeras-kerasnya.


Pangeran mengusapkan tangan di wajah Rena, menutup Matanya. Dia terpejam, Tidur untuk selama-lamanya.


Aku berdiri di pemakaman Rena. Ini kedua kalinya Aku menghadiri pemakaman orang yang kusayangi dan Ketiga Kalinya Aku harus menyaksikan mereka pergi tanpa Aku bisa menolongnya. Hatiku terasa beku.


Sama seperti Ayah dan Bangsawan Dalto, Aku hanya bisa menyaksikan saat Mereka kehilangan nyawa. Aku hanya bisa melihat mereka. Semuanya meninggal karena salahku. Rena juga...


Dia meninggal karena Aku. Panah yang menembus jantungnya mengandung racun mematikan. Harusnya Aku lah yang terkena Panah itu, Tapi Rena yang melihatnya, Mendorongku dan menamengkan dirinya sehingga Panah itu mengenainya.


Api membumbung tinggi di udara. Aku merasa lemas. Pangeran Sera yang berada di belakangku menompangku.


"Kita berisitrahat sebentar" Ajaknya dengan suara tidak mau dibantah sembari menuntunku meninggalkan jalannya pemakaman menuju sebuah undakan di bawah pohon trembesi.


Aku duduk memandang kosong pada bumbungan asap. Upacara pemakaman yang hanya dihadiri olehku. Karena Dia adalah pelayan Garduete. Dia tidak mengenal siapapun atau memiliki keluarga disini yang akan menagisi kepergiannya di pemakamannya.


"Aku akan mengirim abunya pada keluarganya" Janji Pangeran Di sampingku. Dia meremas tanganku lembut, menenangkan diriku.


"Terima kasih" Bisikku lirih.


Aku merasa kosong. Kini Aku kembali sendiri di sini.


Kesehatanku menurun setelah pemakaman Rena. Aku mengalami panas tinggi dan nyaris tidak dapat bangun dari tempat tidur. Aku tidak bisa melupakan Rena, bahkan buruknya kepergian Rena membawa kenangan buruk lainnya dalam ingatanku. Kematian Ayah, Kematian Bangsawan Dalto, kematian Putri Norah, Bangsawan Doldores dan juga masih banyak lagi. Mereka seolah saling tumpang tindih muncul dalam mimpiku.


Aku terbangun dan refleks menepis tangan yang sedang meletakkan kain basah didahiku.


"Putri Margitha" Panggilku terkejut saat melihat siapa yang berada di sampingku.


Putri Margita duduk di samping ranjangku, entah sudah berapa lama Dia di sana. Aku memandang sekeliling dan tidak mendapati seorang pelayan pun berada di sini.


"Maaf, Aku sepertinya mengejutkan Putri" Kata Putri Margitha sembari menunduk mengambil kembali kain Lap yang terjatuh di lantai akibat tepisanku. Dia kemudian melemparkannya ke baskom di sampingnya.


"Aku yang meminta maaf, Aku tidak tahu jika Putri berada disini" Kataku menyesal.


"Putri bermimpi buruk, Aku mendengar Putri menginggau beberapa kali" Ujarnya seolah tidak terjadi apa-apa.


Aku melihat cendela, Hari sudah malam. Langit diluar berwarna gelap, Terdengar suara gerimis yang cukup jelas. Katak-katak bernyanyi bebas di kolam dekat kamar.


"Terimakasih sudah menjagaku" Kataku akhirnya. Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Suasana hatiku sedang buruk.


"Aku meminta maaf Karena baru bisa mengunjungi Putri sekarang" Kata Putri Margitha menyesal. Putri Margitha harus menemani Ratu untuk kembali berobat beberapa hari di desa pinggir ibu kota sebulan sekali.


"Tidak apa-apa, Bagaimana kesehatan Ratu"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ibu turut berduka atas kepergian pelayan Putri, Dia ingin mengunjungi Putri tapi kondisinya belum bisa"


"Tidak apa-apa. Aku mengerti"


"Apa Putri baik-baik saja" Tanya Putri Margitha sembari memandangku dalam. Aku mendapat kesan setelah berapa lama berteman dengan Putri Margitha. Dibalik sikapnya yang seolah tidak peduli, Aku merasa Dia memiliki pengamatan yang tajam terhadap sekitar.


"Aku.." Aku binggung bagaimana mengatakannya.