Win Direction

Win Direction
24



Kapal akhirnya mendarat dengan sempurna. Jangkar diturunkan. Tali-tali panjang dilemparkan dari atas perahu, Lalu diikatkan ke patok-patok yang tersedia di pelabuhan.


"Kenapa ramai sekali ?" Tanyaku tak mengerti.


Pangeran Sera menuntunku untuk turun dimana kuda-kuda telah disiapkan digeladak kapal. Kami menuju kuda dibarisan terdepan milik Pangeran Sera.


"Berita telah tersebar, Rakyat sangat ingin melihat seperti apa dirimu" Jawab Pangeran Sera sembari menaikkanku ke atas kuda.


"Apakah istana cukup jauh dari sini ?" Tanyaku lagi ketika melihat pasukan bersiap siaga begitu Pangeran berada diatas kuda.


"Tidak, sangat dekat. Tapi kita tidak mungkin berjalan kaki melewati kerumunan ini"


Aku memandang kesekeliling. Benar saja. Kerumunan sampai ujung jalan.Wajah-wajah penasaran yang tidak kukenali menatapku sedemikian rupa. Butuh keberanian besar untuk bisa melewati kerumunan ini dengan berjalan kaki.


Pangeran Sera memberikan aba-aba. Tangga mulai diturunkan secara perlahan. Pasukan di bawah kapal yang menunggu Kami merangsek membuka jalan dari kerumunan. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Hati kecilku berharap Aku bisa menemukan Pangeran Riana disana.


Pangeran Sera memacu kudanya menuruni tangga. Genderang dibunyikan nyaring disertai sorak-sorai membahana mengelu-elukan Pangeran Sera. Tampaknya Dia begitu dicintai rakyatnya.


Wajah-wajah silih berganti disepanjang jalan yang Kami lewati. Pangeran tampak sangat terburu-buru.


"Kenapa Pangeran begitu tegang" Tanyaku akhirnya. Aku harus berteriak agar suaraku dapat didengarnya.


"Aku lebih tenang ketika Kita sudah sampai istana. Dengan begitu kemungkinan untuk ada yang membawamu pergi sangat kecil" Jawab Pangeran membuatku terdiam.


Setelah berbelok diujung jalan, Kami memasuki padang rumput yang berbukit. Di atas bukit tertinggi, Sebuah istana yang begitu megah berdiri.


"Buka gerbang istana" Terdengar teriakan dari dalam benteng. Jembatan diturunkan, Suara langkah kaki kuda beradu menimbulkan irama tersendiri.


Pangeran Sera membelokkan kudanya, Kami memasuki pekarangan yang begitu luas, Tamannya diisi berbagai macam bunga. Angsa,kucing,burung dan rusa dibiarkan bebas berkeliaran di dalam istana. Sangat berbeda dengan istana Pangeran Riana yang lebih banyak ditanamin oleh pohon-pohon rimbun. Istana ini lebih seperti Pangeran Sera, Terkesan hangat dan bersahabat.


Beberapa Putri berdiri berkerumun dari atas bukit, Memandang Kami. Entah apa perasaanku saja, Aku merasakan sikap permusuhan dari tatapan mereka kepadaku.


"Ayo" Pangeran mengulurkan tangan. Aku menerima bantuannya, Pangeran menurunkanku dari kuda. Kami menaiki tangga dengan sambutan dari para prajurit di sepanjang tangga.


Pangeran pergi untuk berganti pakaian, Aku sudah lebih dulu mandi dan membersihkan diri. Setelah mendandaniku, Para pelayan meninggalkanku seorang diri di kamar. Kamar ini cukup hangat, Furniturnya ditatap apik dengan cita rasa seni yang tinggi. Semuanya terlihat mahal dan bergaya. Aku keluar balkon, menikmati suasana senja yang mulai nampak di langit. Matahari nyaris terbenam di peraduannya.


Wangi bunga dari taman begitu terasa ketika angin bertiup.


Aku telah berada di Argueda. Rasanya masih tidak percaya pada akhirnya Pangeran Sera berhasil membawaku kemari. Perasaanku bercampur aduk antara senang dan sedih. Aku terus memikirkan Pangeran Riana. Dia berada di mana ?. Apa Dia sedang melihat langit yang sama seperti apa yang kulakukan sekarang.


Aku tidak percaya ini, Tapi Aku sangat merindukannya. Rambutnya yang berwarna biru keabuan seperti cahaya bulan. Tubuhnya yang kekar. Suaranya yang serak. Tatapan matanya yang seolah bisa menembus seluruh lapisan diriku. Aku merindukan semua yang ada pada dirinya.


Sepasang tangan terulur dibelakangku. Aku tersentak. Pangeran Sera sudah berdiri dibelakangku, mendekapku erat didadanya. Wangi shamponya terasa lembut di hidungku.


"Pa...Pangeran.."


"Apa yang sedang Kau pikirkan ?" bisik Pangeran Sera lembut.


"Aku hanya menikmati keindahan taman" Jawabku berbohong. Pangeran Sera menatapku dalam. Aku memalingkan pandanganku, Khawatir Dia bisa menangkap kebohonganku.


"Apakah Kau nyaman dengan kamar ini ?" Tanya Pangeran lagi.


"Ya, Kamar yang sangat indah"


"Ini...Kamar kita"


Aku terkejut Kamar kita ?. Selama perjalanan di kapal Pangeran sangat menjaga jarak dariku. Dia mengatakan ingin memberiku waktu untuk mengenalnya. Aku sangat lega mendengarnya, Namun dalam hati Aku cukup yakin. Suatu saat nanti Dia akan meminta kedekatan yang lebih dariku.


Dari sepuluh hari perjalanan dengan kapal, Hanya di hari pertama saja Dia tidur bersamaku. Hari-hari lain Dia memilih tidur di kamar sebelah. Dia mengatakan padaku bahwa Dia juga pria normal. Didekatku membuatnya sulit mengontrol dirinya, Dia takut itu akan membuatku terluka sehingga Dia memilih untuk menjaga jarak. Dia sangat menjagaku sebagai seorang wanita.


Dan sekarang...


Kamar kita ?.


Ucapannya tergiang dikepalaku. Aku tidak menyangka Pangeran menginginkan Kami berada dalam satu kamar. Selama ini Aku terbiasa berbagi kamar dengan Pangeran Riana, Apa Aku juga bisa berbagi kamar dengan Pangeran Sera ?.


"Apa yang Kau pikirkan. Kita sudah bertunangan Yuki. Apa Kau masih takut padaku ?"


Tanya Pangeran melihatku hanya diam dengan pandangan kosong.


"Aku tidak takut pada Pangeran" Kataku mengelengkan kepala pelan. "Tapi...Aku takut pada diriku sendiri"


Pangeran Sera mempererat dekapannya.


"Seperti mimpi Kau berada disini. Aku selalu menantikan moment ini setiap hari"


Pangeran membalikkan badanku untuk menghadapnya. Kami berada cukup dekat untuk saling menyentuh. Jantungku berdebar dengan kencang.


"Kau cantik.." Pangeran merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. "Sangat cantik..." Wajahku memerah mendengar pujiannya. Tatapannya lembut, seolah mampu melelehkan hatiku. "Paling cantik.." Bisik Pangeran lagi sebelum Dia mendekatkan diri untuk menciumku.