
"Makan di luar seperti ini cukup menyenangkan, Sesekali kita memang perlu suasana baru" Ujarku berusaha membuka obrolan agar ketegangan yang terasa memudar.
"Jika Putri Yuki Mau, Aku akan mengajak Putri makan di Pantai istana Raja, Di sana pemandangannya lebih indah" Ujar Putri Margitha antusias. "Tapi Putri harus sembuh dulu" Lanjut Putri Margitha langsung ketika Pangeran Sera menatapnya dengan pandangan memprotes.
"Baik. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Putri tidak boleh melanggar janji" Jawabku sembari tersenyum.
"Sudah, Ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar" Kata Pangeran Arana sembari mengambil piringnya.
Kami mengobrol hal-hal ringan, mengenai rencana liburan di pantai jika Aku sudah sembuh. Pangeran Sera tampak lebih diam daripada biasanya. Dia seperti memikirkan sesuatu.
Akhirnya Aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat, Namun Aku belum bisa berjalan jauh. Sesekali Aku akan duduk ketika rasa sakit menyerangku. Namun Aku cukup puas karena perkembanganku pesat. Aku yakin, Jika Aku rajin berlatih Aku bisa segera berjalan normal kembali.
Hari ini Aku ingin berlatih dengan menyusuri lorong istana, sesekali Aku harus berhenti untuk mengambil nafas.
Rena berjalan di sampingku dengan setia. Dia tidak tampak bosan ketika harus memelankan langkahnya mengikutiku. Kami didampingi oleh para pelayan Argueda dibelakang, berbaris rapi dengan sikap penuh hormat.
"Bagaimana rencana pernikahanmu ?" Tanyaku, Aku berdiri bersandar di tembok, menunggu sampai rasa sakit berdenyut di lututku hilang. Di luar turun hujan. Aku harus berjalan berhati-hati agar tidak jatuh dan malah memperburuk keadaanku.
"Persiapan masih dilakukan Putri" Ujar Rena tenang.
"Aku merasa bersalah padamu, Seharusnya Kau tidak perlu datang dan meninggalkan persiapan pernikahanmu" Kataku menyesal.
"Hamba melakukannya dengan ikhlas Putri, Pesta pernikahan bisa dilakukan kapan saja, Tapi keselamatan Putri adalah hal yang utama"
Pangeran Sera terus menyelidiki pergerakan Perdana menteri Borindo, Dia hanya perlu memerluhkan bukti kuat untuk meyakinkan militer bahwa Perdana Menteri berniat memberontak terhadap kerajaan agar tidak terjadi perpecahan dalam tubuh militer. Aku memahami betapa gentingnya situasi ini.
Semua salahku.
Gara-gara Aku Pangeran mengucapkan sumpah kesatria yang menjadikan para pemberontak mempunyai alasan untuk menyingkirkannya. Jika tidak ada Aku, Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Aku seperti pembawa sial. Masalah selalu datang akibatku.
Aku menatap hujan yang terus turun di depanku. Terbelenggu akan pikiranku sendiri.
"Apa yang Putri pikirkan ?" Tanya Rena setelah melihatku terdiam cukup lama. Membuyarkan lamunanku.
"Kedua Pangeran itu menginginkanku menjadi ratunya, Tapi bahkan Aku sendiri pun tak yakin, Apakah Aku bisa menjadi Ratu yang baik atau tidak. Aku tidak yakin memiliki kemampuan seperti itu" Kataku lirih. Aku sendiri merasa tidak yakin bisa memegang posisi sepenting itu, Begitu banyak konflik didalamnya. Apakah Aku akan sanggup menanggungnya. Aku hanya menginginkan kehidupan normal yang biasa.
"Putri hanya harus lebih banyak belajar dari pengalaman. Putri memiliki kebaikan hati. Itu sudah cukup untuk menjadi modal dasar sebagai seorang Ratu"
"Rena..apakah Kau sanggup membunuh seseorang ?"
"Ya, Jika Hamba harus melakukannya hamba bisa melakukannya" Katanya Akhirnya sembari menatapku penuh keyakinan.
Aku menghela nafas, kembali memalingkan wajahku melihat hujan di luar. "Kalau Kau sanggup ..Lalu bagaimana denganku. Apakah Aku sanggup" Bisikku lirih lebih pada diriku sendiri.
Aku berdiri terpekur. Memikirkan membunuh orang saja Aku tidak pernah, Tapi di dunia ini Aku mulai mengerti bahwa jika Aku ingin hidup, Aku harus sanggup melakukannya. Banyak yang menginginkan kematianku, Aku tidak ingin mati sia-sia hanya karena kedudukan yang sebenarnya tidak kuinginkan. Pertanyaannya jika saat itu tiba apakah Aku bisa melakukannya ? Apakah Aku akan siap ?. Apakah Aku tidak dihantui perasaan berdosa nantinya ?.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Ketika Aku asyik tenggelam dalam pikiranku sendiri, Tiba-tiba tubuhku didorong dengan keras sehingga terjatuh di lantai. Teriakan nyaring dari para pelayan terdengar. Suara berdebam yang cukup keras terdengar didekatku.
Aku merasakan lututku berdenyut. Langkah kaki dan kepanikan terasa mengalir dengan cepat memenuhi ruangan ini. Dengan susah payah Aku duduk.
Aku memalingkan wajah, untuk melihat apa yang terjadi. Mataku terbelak ketika melihat apa yang terjadi.
"Ti...tidak...." Bisikku lirih.
Rena terbaring dengan posisi menyamping. Dia mengerang, sebuah anak panah menancap di dadanya, tembus sampai bahunya.
Aku merangkak kearahnya. Tanganku gemetar. Kuraih Dia dipelukanku. Darah mulai membasahi bajunya. Nafasnya tersenggal-senggal.
"Rena...Rena.." Bisikku lirih. Air mataku jatuh membasahi wajahnya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Pikiranku terasa kosong.
"Pu...Putri" Bisik Rena terbata dipelukanku.
"Diamlah...Aku akan menyelamatkanmu. Kau harus bertahan" Bisikku lirih.
"Ham..ba.."
"Aku mohon Rena, Diamlah" Teriakku nyaring. Dibelakangku para prajurit berlari berdatangan.
"Periksa sekeliling" Terdengar perintah yang langsung dipatuhi. Para Prajurit yang lain membentuk lingkaran yang melindungiku.
"Ma..Ma..Maafkan Hamba...Ti..tidak...B..Bisa melayani" Ujar Rena terbata. Wajahnya mulai membiru.
"Panggil Medis segera, Cepat" Teriakan lain menyusul disusul langkah kaki yang berlari menjauh.
Aku menggelengkan kepalaku. Dadaku terasa sesak. Air mata semakin turun membasahi wajahku.
"Jangan berkata seperti itu...tidak..Kau harus bertahan...Kau akan menikah kan..Kau akan memiliki keluarga. Aku mohon padamu bertahanlah" Ujarku menguatkannya. Aku semakin mempererat pelukanku. Takut Dia tiba-tiba menghilang dari hadapanku.