
Pangeran mengambil alat musik seperti gitar yang bersandar di dinding. Dia kemudian duduk didekatku dan mulai memetik gitarnya. Dentingan musik mengisi seluruh ruangan. Dia memainkan sebuah lagu dengan irama yang cukup indah.
Aku diam. Menikmati irama musik yang dimainkannya. Dari kejauhan, suara obrolan para putri terhenti. sunyi. Hanya irama musik dari Pangeran. Waktu seolah terhenti.
Angin semilir dan dentingan musik menyatu di alam bawah sadarku. Aku memejamkan mata. Mengantuk.
Aku terbangun saat terdengar suara pintu dibuka. Pangeran Sera masih tidur di sisiku. Sejak kapan Aku tertidur ?. Siapa yang membawaku sampai keatas tempat tidur ?. Rena masuk bersama beberapa pelayan, membawakan perlengkapan mandi.Aku melirik cendela kamar. Bukankah waktu masih terlalu siang untuk mandi. Ini belum waktunya Aku mandi. Dan lagi, Pangeran Sera, Tumben sekali Pangeran ada di istana sampai siang begini.
"Kau sudah bangun" Pangeran Sera bangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan mata yang masih setengah mengantuk. Beringsut dari posisinya.
"Maaf telah membangunkan Pangeran Sera dan Putri Yuki" Ujar Rena penuh hormat.
"Sudah waktunya ya ?" Tanya Pangeran dengan malas. Dia duduk di sisiku sembari melingkarkan satu tangannya di pinggangku.
"Ada apa ?" Tanyaku tak mengerti.
"Hari ini Ayah mengadakan penyambutan untukmu di istana. Kita harus segera bersiap. Aku akan memperkenalkanmu pada keluargaku"
"A..apa" Kataku gugup.
Penyambutan di istana ?.
Ini mendadak sekali. Pangeran ingin memperkenalkanku pada keluarganya. Kenapa Dia tidak mengatakan padaku sebelumnya. Aku akan bertemu dengan Raja Jafar dan Ratu Warda. Tapi bukan itu masalahnya, Masalahnya mereka adalah orang tua Pangeran Sera. Aku belum pernah mengalami moment seperti ini sebelumnya. Apa yang harus kulakukan ?.
"Kenapa, Kau tidak terlihat senang Yuki" Tanya Pangeran Sera ketika melihat ekpresi di wajahku.
Aku menggelengkan kepala cemas. "Aku khawatir bagaimana jika mereka tidak menyukaiku" Akuku jujur.
Pangeran tersenyum sembari mengelus rambutku. "Mereka akan menyukaimu. Percayalah padaku. Margitha sangat ingin bertemu denganmu. Dia sebaya denganmu. Kalian bisa menjadi teman"
Margitha adalah adik dari Pangeran Sera, Saudara kembar dari Pangeran Arana.
"Bersiaplah.." Ujar Pangeran Sera sembari menepuk punggungku.
Aku berdiri dari dudukku dengan Ragu, memakai alas kaki dan mengikuti langkah Rena.
Aku mandi dengan diliputi perasaan was-was. Rena meyakinkanku bahwa Aku akan baik-baik saja. Tapi Aku tetap saja cemas.
Aku didandani dengan pakaian formal kerajaaan. Tiga buah hiasan rambut berbentuk tusuk konde yang besar, terbuat dari batu giok, disematkan di rambutku.
Aku selesai berdandan dan keluar kamar. Seketika Atmosfir di sekitarku berubah. Para pelayan dan Pengawal menundukkan kepala penuh penghormatan. Dibelakangku rombongan Pelayan berbaris rapi mengikuti langkahku.
Pangeran Sera sudah menungguku dihalaman. Kereta Kuda sudah disiapkan lengkap dengan pengawalnya yang begitu ketat mengawasi sekeliling.
Pangeran memandangku tampak puas. Sorot matanya memancarkan kekaguman.
Aku melangkahkan kaki mendekatinya.
"Sudah kuduga, Kau sangat cantik mengenakannya" Ujar Pangeran sembari menyentuh hiasan rambutku.
"Aku dengar ini milik Ratu Warda sebelum menikah secara resmi dengan Yang Mulia Raja. Apakah pantas jika Aku mengenakannya" Kataku Ragu.
"Ibu yang memberikannya padaku, Dia ingin Aku menyerahkannya pada Wanita yang kuinginkan menjadi Ratuku kelak"
"Pangeran.."
Pangeran menutup bibirku dengan telunjuknya. Meredam protesku. "Keputusanku sudah bulat Yuki, Sebaiknya Kau tidak memperdebatkan hal ini" Pintanya serius.
Pangeran mengulurkan.tangannya. "Kita harus segera berangkat jika tidak ingin terlambat"
Aku menganggukan kepala mengerti. Tanganku terulur menerima uluran tangan Pangeran Sera. Aku naik keatas kereta kuda didampingi oleh Pangeran. Kereta mulai bergerak perlahan.
Istana Raja Jafar penuh dengan bangunan berbentuk kubah, terletak diatas bukit yang tinggi di tepi pantai. Angin disini cukup kencang. Saat turun dari kereta Aku bisa menyaksikan keindahan Pantai di sore hari dari tempatku berada.
"Indah sekali" Bisikku terpesona memandang keindahan pantai di bawah istana.
"Kalau Kau suka, Nanti Aku akan mengajakmu ke sana"
Aku menatap Pangeran Sera senang. Kami berjalan beriringan. Pangeran Sera mengandeng tanganku mesra menaiki tangga istana. Bunyi genderang terdengar dari dalam istana seolah menyambut kedatangan Kami. Aku merasa gugup. Tanganku sampai basah oleh keringat.
"Semua akan baik-baik saja" Bisik Pangeran menenangkan.
Wajah-wajah penasaran terus mengikuti langkahku. Para Putri menatapku dari kejauhan dengan pandangan dengki. Mereka tampak terkejut saat melihatku mengenakan hiasan kepala milik Ratu Warda. Kebencian terasa nyata di wajah mereka. Aku mendesah, Rasanya tidak nyaman. Pangeran mempererat genggamannya. Aku menyadari Dia ternyata memperhatikanku. Apakah Dia juga menyadari kebencian dari Para Putri ?.
Kami di bawa ke aula istana kerajaan. Pintu terbuka lebar. Aku terkejut saat melihat dalam Aula sudah penuh orang. Bukankah ini hanya pertemuan keluarga biasa. Tapi kenapa seramai ini. Aku ingin bertanya pada Pangeran Sera, Yapi Raja Jafar sudah melihatku. Membuatku urung melakukannya.
Aku mengikuti Pangeran Sera berjalan menuju depan mimbar. Raja Jafar dan Ratu Warda duduk disana menanti kami. Disebelah Ratu Warda berdiri seorang putri berambut hitam dan berkulit putih. Dia sebaya denganku hanya Dia lebih tinggi dariku. Aku menduga Dialah Putri Margitha. Adik perempuan Pangeran Sera.