
Hujan semakin turun deras ketika hari semakin siang. Pangeran belum kembali setelahnya, Dia pergi begitu saja. Rena tampak panik dan cemas hingga Aku memaksanya untuk beristirahat di kamarnya. Aku berdiri di balkon menatap keluar, Para penjaga di luar kamar tampak terkantuk-kantuk. Aku dapat melihat mereka dengan jelas dari posisiku.
Kletak
Aku menoleh ketika sebuah batu kerikil jatuh mengenai bingkai cendela di dekatku. Aku hanya diam memandangi batu itu, ketika terdengar lagi suara kemeletak dari batu kerikil lain yang dilemparkan ke arahku. Aku berjalan maju, membungkuk untuk melihat apa yang terjadi. Bajuku sedikit basah terkena cipratan air hujan. Aku membuka mulut tak percaya akan penglihatanku, Pangeran Sera berada di bawah balkon. Aku mengosok mataku untuk meyakinkan bahwa penglihatanku benar. Tapi Aku tidak salah, Itu memang Dia. Kenapa Dia ada disini ?
Pangeran Sera meletakan telunjuknya di bibir, memberiku isyarat agar Aku tidak berisik. Aku menganggukan tanda mengerti.
"Lompatlah" seru Pangeran pelan, Suaranya hampir tersamarkan oleh air hujan yang turun. Aku menunduk untuk mendengar lebih jelas. Dia menyuruhku melompat ? Apa Aku tidak salah ?. "Lakukan Yuki, cepat" Perintahnya lagi sambil mengcodeku agar meloncat.
Entah apa yang merasukiku, Aku tanpa keraguan menaiki pagar balkon setelah sebelumnya melepaskan sepatuku. Dengan sekali hentakan Aku meloncat turun ke bawah, Jatuh tepat dipelukan Pangeran Sera. Dia menangkapku begitu mudah sehingga Aku tidak perlu merasakan sakitnya membentur lantai. Aku menyukai Aromanya, manis dan hangat. Membuatku tenang.
"Kenapa Pangeran Ada disini ?" Bisikku tak percaya.
"Akan kujelaskan nanti, Sekarang ikutlah Aku dulu" Dia menarik tanganku. berjalan menerobos hujan. Mengelabui penjagaan dengan mudahnya. Sesampainya di sebuah tempat di istana Pangeran Riana yang cukup tersembunyi. Pangeran Sera menyodorkanku pakaian dari kain biasa yang disembunyikannya. Aku masuk ke dalam ruang kosong yang ada didekatnya, melepaskan semua perhiasanku, menganti pakaian kain sutra dengan pakaian dari kain biasa. Setelah selesai berganti pakaian Aku mencuci mukaku dengan guyuran air hujan. Airnya terasa seperti es yang menusuk.
"Ayo.." Ajaknya lagi. Aku mengikutinya. Kami berhasil dengan mudah keluar dari istana Pangeran Riana. Pangeran Sera menaikkan Aku ke atas kuda yang telah menunggu. Baju Kami sudah basah kuyup. Buku-buku jariku mengkerut, Aku mengigil kedinginan. Tapi Aku tidak peduli.
"Sabarlah, sebentar lagi" Ujar Pangeran melihatku yang menggigil.
Pangeran Sera menaiki kuda, duduk di belakangku, kemudian memacunya kencang meninggalkan Istana Pangeran Riana.
"Tentu saja untuk bertemu denganmu"
Aku menatap Pangeran Sera tidak mengerti, Kenapa Dia sangat nekat seperti itu. Mengambil resiko yang membahayakan. Jika Dia tertangkap kerajaan tidak akan segan padanya. Apa Dia tidak memikirkannya. "Yuki.." Panggilnya lagi, kali ini dengan nada suara yang cukup mendesak "Bisakah Kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi ?"
Aku terdiam sesaat, memikirkan setiap kata yang akan kuucapkan agar tidak terjadi salah paham. Setelah yakin, Aku mulai bercerita. Aku menceritakan mengenai pesta penyambutan dimana tidak sengaja Aku bertabrakan dengan Pendeta Serfa di pintu dan menemukan bungkusan yang ternyata isinya adalah Batu Amara. Aku tidak tahu batu apa itu sebelumnya, Yang Aku tahu jika Aku memegangnya batu itu dapat bersinar. Saat makan malam bersama Raja, Aku bertanya pada Serfa mengenai batu itu, Karena sikap Pangeran Riana yang tidak mempercayaiku ketika Aku mengatakan dapat membuat batu amara bersinar seperti dirinya, Aku terpancing dan membuktikannya. Semenjak itulah Pangeran Riana bersikap aneh padaku. Dia mengklaim Aku adalah miliknya secara tiba-tiba, melarang pergaulanku dengan lawan jenis dan bahkan mengaturku seenak hatinya.
Pangeran Sera diam mendengarkan, Dia tidak berkomentar apa-apa sampai Aku menyelesaikan ceritaku. "Tapi walau begitu Aku tidak akan menyerahkanmu. Aku yang lebih dulu menemukanmu" Ujar Pangeran sambil tersenyum lembut.
Aku ingin mengatakan sesuatu tapi Dia meletakan telunjuknya di bibirku. Menghentikanku.
"Aku tahu apa yang ingin Kau katakan, Tapi seperti apa yang sudah ku katakan padamu sebelumnya, Aku tidak akan melepaskanmu"
Kereta berhenti berjalan, Aku mengintip dari cendela, khawatir jika Para penjaga lah yang menghentikannya. Pasti saat ini mereka sudah sadar jika Aku menghilang. Tapi ternyata Aku salah, Kereta berhenti di area pinggiran hutan dikelilingi bukit. Disini tampak sunyi, tidak tampak adanya kehidupan sama sekali. Aku menatap Pangeran Sera tidak mengerti.
"Kau akan tahu nantinya" jawab Pangeran Sera lembut. Dia keluar dari persembunyiannya, turun dari kereta kuda. Aku mengikutinya di belakang, menerima uluran tangannya saat Dia membantuku turun dari kereta.
Kami berjalan menaiki sebuah bukit di timur hutan. Tempat ini tampaknya nyaris jarang di kunjungi orang. Ada jalan setapak yang terbentuk secara alami akibat seringnya dilalui. Pangeran terus berjalan dengan tenang di depanku, Pada akhirnya Kami berhenti di sebuah gerbang dengan pagar besi hitam yang sudah berkarat, mengelilingi sepanjang area.
Jantungku berdebar saat menyadari tempat apa ini. Ini adalah sebuah pemakaman. Aku melihat tulisan di pinggir gerbang. Pemakaman untuk para penjahat kerajaan. Aku menatap Pangeran Sera nanar. Pangeran menepuk punggungku lembut untuk menguatkanku. "Ada yang ingin kuperlihatkan padamu" bisik Pangeran lembut. "Aku harap itu dapat mendamaikan hatimu Yuki"