Win Direction

Win Direction
30



Aku memberi hormat kepada Raja dan Ratu mengikuti Pangeran Sera.


Raja Jafar sama sekali tidak mirip dengan Pangeran Sera. Tubuhnya tinggi dan gempal. Rambutnya berwarna hitam, seperti rambut Pangeran Arana dan Putri Margitha. Kulitnya terbakar matahari berwarna kecoklatan. Dia memiliki cabang di kedua sisinya. Aku menunduk saat melihat Raja Jafar menatapku dengan tatapan menilai.


"Selamat datang Putri Yuki, Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu" Sapa Raja Jafar dengan suara nyaring. Aku hanya menundukkan kepala.penuh hormat, membalas sapaan Raja. Aku sangat tidak menyukai suasana seperti ini. Dimana Aku menjadi pusat perhatian semua orang.


"Yuki, wanita yang disana adalah ibuku. Ratu Warda" Ujar Pangeran Sera memperkenalkan. Aku terkejut, di umurnya, Ratu Warda masih terlihat sangat cantik. Kerut-kerut halus di wajahnya justru makin memperlihatkan auranya. Ratu Warda memiliki rambut coklat keemasan bergelombang yang cukup indah, seperti Pangeran Sera. Dia berkulit putih bersih, dengan mata biru laut yang sama mempesonanya dengan mata milik Pangeran Sera.


"Salam kenal Putri Yuki" Sapa Ratu sambil menelitiku. Dia menyugingkan senyum misterius sembari melirik ke arah Pangeran Sera.


Aku kembali menunduk hormat membalas sapaan Ratu Warda.


"Melihatmu, Seperti melihat diriku yang dulu. Aku terkejut karena ternyata hari inilah Aku melihatnya" Ujar Ratu Warda penuh arti. Aku tahu, Dia sedang membahas hiasan rambut yang kukenakan. "Kau sangat cantik, pantas saja Sera begitu menyukaimu"


Wajahku memerah mendengar pujian Ratu Warda. Cantik ?. Mimpi apa Aku sampai Sorang Ratu dari kerajaan besar memujiku seperti itu.


"Terimakasih yang mulia Ratu" Jawabku membalas pujian Ratu.


"Kau sudah bertemu dengan Arana sebelumnya" Kata Pangeran dengan nada menekankan bukan bertanya. Benar Dugaanku, Dia mengetahui kejadian dengan para putri tempo hari. Para Putri yang dulu bertengkar denganku, kebetulan terlihat didalam aula. Wajah mereka tampak pucat pasi mendengar penuturan Pangeran Sera.


"Selamat datang Putri Yuki. Senang akhirnya bisa menyambut putri dengan resmi"


"Terimakasih Pangeran Arana"


"Lalu gadis di sana itu, adalah adikku yang sangat keras kepala. Putri Margitha"


"Kakak, Kenapa Kau memperkenalkanku seperti itu. Itu bisa membuat citra diriku jatuh, Orang akan mengira Aku tidak punya pendidikan" Protes Putri Margitha cepat.


Pangeran Sera tersenyum mendengar kemarahan Putri Margitha.


"Salam kenal Putri Yuki" Sapa Putri Margitha.


Tanpa di duga Dia berjalan menghampiriku, Dia lebih muda dariku tapi tubuhnya lebih tinggi. "Apa Putri ingin berjalan-jalan denganku ?"


Aku menatap Putri Margitha terkejut.


"Margitha" Tegur Raja Jafar tidak suka.


"Boleh kan kakak, Aku ingin lebih banyak mengobrol dengan Putri Yuki" Rengek Putri Margitha dengan manjanya.


"Putri Yuki baru saja tiba, Kau sudah mengajaknya keluar" Protes Ratu Warda menimpali.


Pangeran Sera menarik nafas di sampingku.


"Dasar Margitha, Jika sudah berkemauan susah sekali dibelokkan" Kata Pangeran Sera menyerah. Putri Margitha menatap Pangeran Sera senang. "Kau boleh mengajaknya tapi tidak lebih dari taman tengah"


"Baik kakak, Aku mengerti. Ayo Putri Yuki...Kita pergi" Putri Margitha menarikku secara tiba-tiba untuk mengikutinya. Aku nyaris tidak bisa memberikan hormat kepada Raja dan Ratu ketika Putri Margitha membawaku pergi. Kami berjalan keluar Aula melalui pintu samping.


"Kita ke taman tengah Putri" Ajak Putri Margitha sambil menuruni tangga didepanku. Aku mengangkat gaunku dan berjalan dengan berhati-hati menggunakan sepatu hak tinggi. Tangga agak licin, salah sedikit Aku bisa terjatuh. Aku tidak ingin membuat malu pada diriku sendiri di hari pertamaku bertemu Raja dan Ratu Argueda.


Terdengar suara debur ombak dari taman tengah. Putri Margitha mengajakku duduk di sebuah meja taman yang kosong. Pemandangan disini sangat bagus di pagi atau sore hari dengan latar belakang lautan luas di ujung mata memandang.


"Maaf sudah membawamu kemari Putri, Aku sangat tidak suka pertemuan formal seperti tadi. Rasanya menjemukan" Ujar Putri Margitha dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa Putri, Terimakasih sudah ikut membawaku"


"Sepertinya Putri juga tidak terlalu suka pertemuan seperti itu ya"


Aku hanya tersenyum, Tidak berani menjawab.


"Di dalam sana penuh dengan orang-orang tua, adapun anak muda tapi pembahasannya sekitar politik dan semacamnya. Sangat menjemukan" Keluh Putri Margitha.


"Pemandangan disini pasti sangat indah jika pagi atau sore hari" Kataku berusaha mengalihkan topik. Putri Margitha mengangguk menyetujui.


"Sebenarnya Aku ingin mengajak Putri ke pantai, Tapi Kakak akan marah nanti jika mengetahuinya"


"Apakah Pangeran Sera bisa marah ?" Tanyaku tak percaya. Pangeran Sera dalam bayanganku adalah sosok yang lembut penuh kehangatan. Aku tidak pernah membayangkan Dia bisa marah.


"Kakak itu penyabar orangnya, Tapi sekalinya marah, Dia sangat menyeramkan. Tidak ada yang berani menganggunya jika Kakak sudah marah"


"Apakah Pangeran pernah marah sebelumnya"


"Ya, Tapi lebih baik Putri tidak mendengar, Aku tidak mau Putri jadi takut dan membenci kakak"


Putri Margitha memalingkan wajahnya kembali ke arah pantai.


"Bagaimana, Apakah Putri betah tinggal di sini?. Aku dengar dari Pelayan, beberapa Putri sering membully Putri di istana Pangeran terutama jika Pangeran sedang tidak ada di tempat"


Aku diam. Tidak tahu harus berkata apa. Putri Margitha rupanya mengerti.


"Putri pasti merasa tertekan ya ?, Kenapa Putri tidak menyampaikan masalah ini ke kakak ?" Tanya Putri Margitha penasaran. "Dia sangat menyayangi Putri, Pastinya Dia akan membantu masalah ini untuk Putri"