Win Direction

Win Direction
48



"Ka..Kau" Bisikku tak percaya.


Dari balik sosoknya, Aku melihat Pangeran Sera berdiri mematung di atas benteng. Sepertinya Dia juga tidak menduga akan kemunculan orang ini.


"Baru beberapa bulan tak berjumpa, Kau sudah tak mengenalku Yuki"


Suara berat yang terdengat cukup familiar ditelingaku. Mataku terbelak lebar tak percaya. Orang itu mengangkat tangannya yang bebas dan kemudian membuka tudungnya.


Rambut Hitam dengan semburat warna biru keabu-abuan bagaikan cahaya bulan di malam hari. Mata yang tajam, yang mampu menusuk orang hanya dengan pandangannya.


"Pa..Pangeran Riana.."


"Kenapa ?, Apa Kau tak senang bertemu denganku ?"


"Riana" Teriak Pangeran Sera mengenali dari atas sana.


"Aku ambil kembali apa yang menjadi milikku" Ujar Pangeran sembari menengadah menatap Pangeran Sera.


Pangeran Riana setelah berkata seperti itu langsung memacu kudanya kencang.


Para Prajurit yang masih terbengong dengan kejadian yang begitu tepat hanya berdiri mematung.


"Siapkan Pasukan..kejar Mereka" terdengar teriakan Pangeran Sera dari jauh. Aku memeluk Pangeran Riana erat. Seolah takut ini hanya sekedar mimpi.


Bunyi lonceng menara sebagai alarm berderang cukup nyaring mengetarkan tanah. Di belakangku nun jauh disana, Derap langkah kuda yang mengejar Kami terdengar bagaikan gemuruh ombak.


Di persimpangan jalan, Pangeran Riana berbelok ke kiri. Kami memasuki area hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar. Semak rimbun memenuhi setiap jengkal tanahnya. Kuda terus melaju memasuki hutan. Pangeran Riana mengendalikan kudanya dengan tangkas.


"Disini" Pangeran Riana mendadak berhenti. Tanpa banyak berbicara Dia gurun dari kudanya. Aku menatap kesekeliling dengan raut wajah kebingungan.


"Kenapa mendadak kita berhenti, Bukankah ini masih ditengah hutan dan pasukan Pangeran Sera mengejar dibelakang" Tanyaku tak mengerti.


"Tidak ada waktu menjelaskan, Ayo Yuki" Perintahnya sembari menarikku turun untuk bergegas. Pangeran menepuk Kudanya untuk berlari meninggalkan Kami. Lalu Dia menarikku untuk memasuki semak-semak. Kami bersembunyi di sebuah pohon yang cukup besar. Aku menyandarkan kepalaku di batang pohon, sementara Pangeran Riana didepanku. Dia begitu dekat denganku. Aku tidak percaya Aku bisa bertemu dengannya. Ada perasaan aneh dalam hatiku ketika melihatnya, semacam luapan kegembiraan yang tidak bisa dijelaskan.


Derap langkah kaki kuda semakin mendekat, Pertanda pasukan Pangeran Sera berada cukup dekat dengan kami. Aku mengintip untuk melihat. Pangeran Sera memacu kudanya kencang. Raut wajahnya tampak marah. Aku belum pernah melihatnya seperti itu. Benar kata Putri Margitha, Pangeran Sera sangat menyeramkan jika sedang marah. Aku berharap Kami tidak tertangkap sekarang.


Pangeran Riana membalikkan badanku menghadapnya. Belum sempat Aku mengerti alasannya. Dia sudah mencium bibirku.


Air liur kami menetes di pipiku. Pangeran Riana memelukku kuat, terus menciumku seperti tidak akan bertemu lagi. Wajahku memerah dan nafasku terenggah-enggah ketika Pangeran Riana melepaskan ciumannya. Dia melepaskan ciumannya ketika suara derap langkah kuda sudah menjauhi kami.


"Kau.." Kataku sembari mengatur nafas.


"Terimakasih" Ujar Pangeran mengusap bibinya dengan jempolnya. Wajahnya tampak puas.


Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi terdengar siulan burung dari kejauhan. Pangeran meletakkan telunjuknya di bibirku. Menyuruhku Diam. Dia mendengarkan siulan burung tersebut.


Secara mengejutkan Pangeran membalas siulan burung itu dengan siulan pula. Nada panjang pendek berkumandang di sela-sela pepohonan.


"Kemari.." Ajak Pangeran mengandeng tanganku untuk mengikutinya. Kami memasuki hutan menjauhi jalan setapak. Kami terus melangkah tanpa berbalik ke belakang. Pangeran sangat yakin dengan langkahnya. Dia tampak sangat hafal medannya. Tidak ada yang berbicara diantara Kami. Hingga Akhirnya Kami tiba di sebuah ceruk yang cukup dalam. Saat Kami memasukinya Aku terkejut mendapati Bangsawan Voldermon sudah disana menunggu Kami.


"Senang melihatmu Yuki" Sapa Bangsawan Voldermon dengan senyum menyebalkannya. Namun Kali ini Aku tidak keberatan untuk melihat senyumnya. Aku cukup senang pada Akhirnya bisa bertemu dengan mereka kembali.


"Bagaimana keadaannya ?" Tanya Pangeran Riana langsung.


"Sesuai rencana, Xasfir berhasil mengecoh mereka. Sebentar lagi Dia pasti akan kembali"


"Aku sudah disini" Bangsawan Xasfir masuk dengan tiga orang prajurit. Aku melihat penampilan mereka semua. Tidak ada yang berpakaian kerajaan. Mereka berpakaian petani.


"Bersiap, Kita akan berangkat sekarang" Perintah Pangeran Riana lagi. Pangeran mengambil bungkusan yang terletak di pojokan. Dia kembali kedekatku sembari menyerahkan bungkusan itu.


"Ganti bajumu dengan ini, Usahakan cepat. Kita dikejar waktu" Perintahnya singkat. Bangsawan Voldermon terkekeh sambil berjalan keluar ceruk diikuti Bangsawan Xasfir dan lainnya. Aku berjalan ke tempat yang agak tersembunyi, Pangeran Riana masih menungguku sembari menatapku.


"Apa ?" tanyanya saat Aku memandangnya binggung.


"Aku sedang berganti pakaian, Apa bisa Pangeran juga keluar"


Pangeran Riana mendesah. "Bagian mana dari tubuhmu yang tak pernah kulihat ?"


Wajahku memerah saat mendengar selorohnya.


Tapi Pangeran Riana tetap keluar meninggalkan Aku sendiri. Aku memastikan sekelilingku aman dan langsung berganti pakaian. Melepaskan semua perhiasan dan mengepang rambutku kebelakang. Setelah selesai Aku membungkus semua pakaian dan perhiasan, berjalan keluar ceruk. Ternyata Pangeran Riana dan yang lainnya sudah siap diatas kudanya. Pasukan kecil ini terdiri dari Pangeran Riana, Bangsawan Voldermon dan Bangsawam Xasfir serta empat orang Prajurit yang mengikuti. Aku tidak mengerti apa tidak terlalu beresiko dengan hanya pasukan sekecil ini.