Win Direction

Win Direction
25



Bibirnya menyentuh bibirku lembut. Pangeran menciumku. Mengaburkan pikiranku. Aku berusaha mati-matian agar bisa berpikir sehat. Ketika pada Akhirnya Dia melepaskan ciumannya, nafasku sudah terenggah-enggah.


"Sudah waktunya Aku memberimu makan" Bisik Pangeran ketika terdengar suara keroncongan dari perutku. Wajahku memerah karena malu. Kenapa cacing diperutku berteriak disaat tidak tepat seperti ini.


Kami duduk di balkon, sementara para Pelayan menyiapkan hidangan. Pangeran Sera terus menggengam tanganku selama Kami menunggu makanan siap. Semua menu bertema seafood. Disajikan dengan penampilan yang begitu menggiurkan.


"Coba ini koki istana membuatkan khusus untukmu" Ujar Pangeran Sera memberiku piring berisi kerang yang dibumbui. Sangat lezat dan mengiurkan. Para pelayan pergi meninggalkan Kami setelah selesai menata meja.


Pangeran menolak duduk berhadapan, Dia memilih menggeser duduk disampingku. Aku mencoba membuka kerang dengan sendok dan garpu yang kugunakan. Akibatnya karena tidak berhati-hati kerang itu meleset mengenai mataku.


"Aduuh.."


Aku langsung melepaskan sendok dan garpu di tanganku. Mengelap dengan punggung tanganku, Mata kiriku terkena bumbu dari kerang.


"Apa Kau baik-baik saja" Pangeran menarik tanganku yang sedang menggosok mata dengan nada khawatir. Air mata mengalir keluar dari mataku.


"Pedas" Rengekku padanya seperti anak kecil.


"Biarkan Aku melihatnya"


Pangeran memegang wajahku, Membuka mata kiriku yang terkena kerang dengan berhati-hati. Dia mendekat dan langsung meniupnya lembut.


"Apa sudah baik-baik saja ?" Tanya Pangeran Sera. Aku mengerjapkan kedua mataku. Rasa pedih sudah mulai berkurang.


"Ya...sudah agak mendingan. Terimakasih Pangeran"


"Akan kubuka kerang ini untukmu" Pangeran mengambil kembali piring di depanku setelah Dia yakin Aku baik-baik saja. Dia mengupas kerang dan meletakkan isinya di depanku. Dia melepaskannya dengam begitu mudah.


"Makanlah...Tapi hati-hati. Kau ini makan pakai mulutmu jangan gunakan matamu lagi" Ujar Pangeran sembari mengetuk jidatku.


Aku mencembik.


Aku mencicipi Kerang yang dikupaskan Pangeran.


"Ini enak sekali" Seruku tak percaya.


"Kau suka ?"


"Ya..."


"Kalau begitu makanlah yang banyak, Aku akan mengupasnya untukmu"


"Terimakasih" Kataku senang.


Sudah delapan hari Aku berada disini. Pangeran Sera tidak mengurungku di dalam kamar seperti Pangeran Riana. Dia membiarkanku bebas berkeliling melihat-lihat istananya dengan pengawalan.


Aku berusaha mencari kabar mengenai Pangeran Riana, Namun hasilnya nihil. Tidak ada yang mau membocorkan informasi sekecil apapun padaku.


Aku mulai cemas akan kondisinya. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya ?. Apa Dia baik-baik saja ?. Dimana Pangeran Riana berada ?. Apa yang dilakukannya sekarang ?.


"Aku membaca buku seharian ini" Jawabku tenang sambil menunjuk buku di tanganku. Para pelayan memberikanku bacaan ringan untuk mengisi waktu luangku.


"Apa isinya menarik ?"


Aku menganggukan kepala.


"Ya..cukup menarik" Jawabku lagi.


Pangeran Sera menggengam lembut tangan kiriku. Meremasnya di tangannya.


"Apa terjadi sesuatu di istana ?" Bisiknya lembut.


Aku menatap Pangeran terdiam.


Aku tidak tahu apakah Dia mengetahuinya atau tidak. Pangeran menatapku dalam seolah sedang membaca pikiranku.


Awalnya, Aku kira hanya perasaanku saja, Tapi ternyata Aku benar. Sebagian besar Para Putri yang sering berada di istana Pangeran memusuhiku habis-habisan. Mereka bahkan berani menyindirku secara terang-terangan. Apa saja yang kulakukan di hadapan mereka selalu salah. Aku tidak tahu apa salahku sehingga mereka begitu membenciku.


Aku tidak berani mengatakan hal ini pada Pangeran Sera. Aku khawatir Aku akan menimbulkan masalah yang lebih banyak padanya.


Seperti tadi, Saat pagi hari seusai sarapan dan mengantar Pangeran Sera di gerbang depan. Aku berjalan kembali menuju kamar. Di tengah perjalanan Aku berpapasan dengan empat orang putri yang sedang berkumpul.


"Coba lihat Dia, Padahal Dia tidak cantik tapi kenapa Pangeran Sera begitu tergoda olehnya. Pasti Dia menggunakan ilmu hitam untuk menarik hati Pangeran. Bukankah dulu Dia pernah mengencani seorang bangsawan penganut ilmu hitam ?"


"Aku rasa begitu, Tidak mungkin Pangeran Kita mau dengan Dia jika Dia tidak menggunakan cara licik"


"Aku dengar walaupun Pangeran Riana sudah mengumumkan Dia sebagai kekasihnya, Dia masih saja berselingkuh dengan bangsawan itu"


"Benarkah...Sifat murahan seperti itu benar-benar menjijikan"


Aku mempercepat langkahku. Tidak ingin mendengar lebih banyak lagi perkataan mereka yang menyakitkan hati.


"Saat Pangeran Riana menidurinya, Dia beracting di depan Pangeran Sera untuk menarik simpati. Wanita licik. Sama seperti ibunya yang penggoda."


Aku langsung menghentikan langkahku. Berbalik menghampiri para Putri yang sedang bergosip mengenaiku dengan suara keras. Tidak memperdulikan para pelayan yang melarangku meladeni para putri.


"Aku masih bisa terima jika Kalian menjelekkanku. Tapi tidak ibuku. Apa salahku sampai kalian begitu membenciku ?" Tanyaku berusaha mengkonfrontasi para putri.


"Salahmu. Salahmu karena Kau datang kemari. Untuk Apa Kau kemari. Kau itu sangat menganggu. Apa Kau tau ?"


"Putri Yuki adalah Tunangan Pangeran Sera. Kalian harus bersikap sopan padanya" Tegur seorang pelayan senior yang mengikutiku.


"Tunangan ?.Jangan mimpi" Ujar Putri itu dengan nada tinggi. "Kami tidak mengakuinya sebagai tunangan Pangeran Sera. Dia tidak pantas menjadi pendamping Pangeran"


"Lalu siapa yang pantas ?" Semua orang berpaling. Seorang pemuda berambut hitam berjalan kearah Kami dengan sikap tenang. Sepintas Dia terlihat seperti Pangeran Sera dalam versi muda. Umurnya kemungkinan besar sebaya denganku.


"Pangeran Arana" Para pelayan dan pengawal memberi hormat.