Win Direction

Win Direction
26



"Salam hormat Putri Yuki. Senang akhirnya berjumpa dengan Putri" Ujar Pangeran Arana memberi hormat padaku ketika Dia sudah sampai didekatku. Ada lesung pipit di kedua pipinya, membuatnya sangat manis saat tersenyum.


"Putri, Pangeran Arana adalah adik kandung Pangeran Sera" Jelas Pelayan Senior dengan sikap penuh penghormatan.


Aku menundukkan kepala, memberi penghormatan balik kepada Pangeran Arana.


"Maafkan Para Putri disini Putri Yuki, Mereka masih belum bisa bersikap dewasa" Ujar Pangeran Arana santai.


"Apa maksudmu berkata seperti itu ?" Tanya Seorang Putri tidak terima. "Kami hanya mengatakan kenyataan. Dimana salahnya ?"


"Apa Aku harus mengingatkan bahwa Putri Yuki adalah tunangan Kakak, Kerajaan telah mengakui posisi Putri Yuki. Kedudukannya sah di mata hukum. yang secara otomatis status sosial Putri Yuki lebih tinggi daripada para Putri sekalian. jadi sangatlah tidak pantas berbicara tidak sopan seperti tadi pada Putri Yuki" Pangeran Arana tersenyum padaku, Tapi bersikap defisit pada Para Putri didepannya.


"Dia tidak pantas sebagai pendamping Pangeran Sera" Tunjuk Putri lain tidak mau kalah.


"Pantas atau tidak, Kakaklah yang menentukannya. Lebih baik kita sudahi perdebatan ini. Kakak pasti tidak akan senang jika mendengar hal ini"


Pangeran Arana memandang lurus pada para putri dengan sikap misterius. Para Putri langsung berjalan mundur dengan wajah kesal. Mereka tidak berbicara apa-apa lagi. Meninggalkan Kami dan menghilang di belokan.


"Terimakasih telah membantuku Pangeran" Ujarku tulus setelah Para Putri menghilang dari pandangan.


"Apa yang Mereka bicarakan jangan diambil hati. Mereka hanya cemburu Kakak memilih Putri"


Aku diam.


"Putri Yuki harus berbicara dengan Kakak mengenai hal ini, Aku yakin Kakak bisa membantu mengatasinya"


"Untuk masalah ini, Aku mohon jangan sampai Pangeran mengetahuinya" Tolakku halus.


Pangeran Arana mengangkatkan sebelah alisnya, terkejut dengan permintaanku.


"Pangeran Sera sudah memiliki banyak masalah sekarang ini. Aku tidak ingin menambah beban pikirannya. Memang tidak pantas Aku meminta hal ini kepada Pangeran Arana karena Kita baru saja bertemu. Tapi Aku mohon Pangeran dan yang lain tidak mengatakan pada Pangeran" Pintaku penuh permohonan.


Pangeran Arana menatapku, Menilai kesungguhanku.


"Putri adalah gadis yang baik. Kakak beruntung memiliki Putri" Ujar Pangeran Arana akhirnya.


"Terimakasih Pangeran"


Setelah berbasa-basi sejenak Aku izin berpamitan untuk kembali ke kamar. Para pelayan menenangkanku agar Aku tidak membawa hati atas perkataan para putri. Aku tersenyum dan tidak berkomentar apa-apa.


Sisa hari kemudian Aku memutuskan untuk mengurung diri di kamar untuk menghindari masalah. Aku yang biasanya merasa bosan dikamar, Entah kenapa menjadi malah lebih senang berada di kamar. Disini Aku merasa terlindung dari perkataan dan sikap permusuhan para Putri yang ditujukan padaku.


"Yuki.."


Aku mengerjap, kembali ditarik dari kesadaran saat Pangeran Sera memanggil namaku.


"Apa telah terjadi sesuatu yang membuatmu susah ?" Tanya Pangeran lagi dengan lebih lembut.


Aku tersenyum, menggelengkan kepalaku pelan.


"Tidak ada. Kenapa Pangeran bertanya seperti itu"


"Ya.." Aku menganggukan kepalaku, berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kesedihanku.


"Maafkan Aku jarang menemanimu. Akhir-akhir ini Aku sangat sibuk" Ujar Pangeran Sera menyesal.


"Pangeran adalah Pangeran perwaris tahtah kerajaan. Masa depan negeri selanjutnya ada di tangan Pangeran. Aku paham hal itu. Pangeran tidak usah khawatir" Kataku menenangkan.


Pangeran merengkuh wajahku. Mendongakkanku agar melihatnya. "Terimakasih" Bisiknya.


Aku tersenyum.


Pangeran menciumku mesra.


"Jika ada yang menggagumu, Katakan saja. Jangan disembunyikan" Bisiknya mengagetkanku.


Aku menatapnya. Dia tahu Aku telah berbohong.


Dia seolah mampu membaca semua pikiranku. Aku seperti tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Dia mampu mengetahui segala kesedihan, kegembiraan dan segala emosi dari diriku walau Aku tidak pernah mengatakannya.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" Ujar Pangeran Sera tiba-tiba. Aku mengenyit binggung. Aku tidak mempunyai kenalan di negeri ini, Jangankan seorang teman, Begitu Aku pertama kali menginjakkan kaki di istana para Putri sudah mengibarkan bendera perang padaku.


"Siapa yang ingin bertemu denganku ?" Kataku was-was.


Apa mungkin itu Pangeran Riana ?.


Jantungku berdebar tak karuan. Aku mencoba berpikir lagi lebih tenang. Jika itu Pangeran Riana, Tidak mungkin Pangeran Sera akan mengizinkan Kami bertemu.


Jangan-jangan...


Aku merasa takut. Bayangan adegan film yang sering ku tonton melintas di benakku. Seorang Pangeran yang tertangkap musuh, Di bawa kehadapan gadisnya, Untuk dihukum mati.


Deg deg deg


Tidak mungkin Pangeran Sera akan setega itu. Jangan bodoh Yuki. Apa yang Kau pikirkan ?.


Aku menghardik diriku sendiri. Kenapa Aku sampai bisa berpikir Pangeran Sera akan sekejam itu ?. Dia tidak mungkin tega seperti itu.


"Siapa ?" Bisikku lirih, Aku nyaris tidak bisa menyembunyikan kegugupanku. Pangeran Sera diam memperhatikanku sejenak, Dia lalu berpaling dan menepukkan tangan. Pintu dibuka perlahan. Seorang penjaga memasuki ruangan.


"Bawa Dia masuk" Perintah Pangeran Sera tenang. Penjaga itu menunduk mengerti. Dia berjalan keluar lagi.


Aku memandang Pangeran Sera kebingungan. Tak lama, Dua orang penjaga memasuki kamar bersama seseorang yang ku kenal.


"Rena..." Seruku tak percaya.


"Salam hormat untuk Pangeran Sera, pangeran perwaris tahtah kerajaan negeri Argueda dan Putri Yuki" Salam Rena dengan hormat. Pangeran Sera mengangkat tangan menerima penghormatan Rena.


Aku memandang Rena tak percaya. Bagaimana ?, Bagaimana bisa Dia berada di sini. Bukankah Dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya.


"Bagaimana bisa ?". Aku menatap Pangeran Sera dan Rena bergantian dengan wajah kebinggungan.