Win Direction

Win Direction
28



Sore ini Aku memilih tetap berada di kamar. Para Putri tampak berkumpul di taman. Terdengar gelak tawa mereka dari tempatku berada.


Aku sedang tidak dalam mood berjalan-jalan ataupun bertengkar dengan Para Putri. Fakta bahwa Mama terlibat dalam pembunuhan besar-besaran di Argueda membuatku tergoncang. Aku telah memeriksa beberapa buku yang menceritakan peristiwa itu di perpustakaan Pangeran, Aku sangat terkejut Mama mampu melakukan semua ini.


Bayanganku akan Mama sedikit berubah. Apa karena waktu dan keadaan yang membuatnya menjadi begini.


Tergiang kembali perkataan Rena dalam kepalaku.


Apa yang harus kulakukan andaikan Aku dalam posisi Ratu Warda atau Mama waktu itu.


Membunuh ?.


Aku tidak pernah bisa membayangkan Aku dapat melakukannya.


Pintu dibuka, Pangeran Sera masuk ke dalam kamar. "Aku tidak menemukanmu bersama para Putri, Ternyata Kau disini"


"Aku masih malu harus bertemu dengan mereka" Kataku beralasan. Aku juga mendengar hampir seluruh Putri yang sering berkunjung ke istana Pangeran Sera adalah Mereka yang menyukai Pangeran Sera dan berharap bisa menikah dengannya. Aku jadi paham kenapa Mereka begitu membenciku.


Istana Pangeran Sera berbeda dengan Istana Pangeran Riana. Pangeran Riana sangat keras dalam aturannya, Dia tidak mengizinkan sembarang orang keluar masuk istananya. Sangat bertolak belakang dengan Pangeran Sera. Setiap hari para Putri dapat dengan bebas bermain di taman istana. Dulu Aku mengharapkan hal ini ada di istana Pangeran Riana, Namun sekarang Aku malah merindukan suasana di istana Pangeran Riana.


Para Putri sangat berani mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Aku selalu mendengar jika tampa sengaja melewati mereka. Pada Akhirnya Aku lebih memilih sendiri didalam kamar.


Aku berdiri dari dudukku, Saat Pangeran datang Aku sedang mewarnaku kuku kakiku. Masih tersisa tuju jari lagi yang harus kuwarnai. Biasanya Pangeran akan datang selepas makan siang, Tapi Dia hari ini muncul secara tiba-tiba sebelum waktu makan.


Aku merapatkan kedua kakiku, berharap Dia tidak melihat nya.


"Kenapa Kau begitu tegang"


"Aku..." Aku menunduk dan melihat kakiku yang masih belum selesai diwarnai. Pangeran Sera tersenyum geli.


"Duduklah" Pinta Pangeran Sera. Aku duduk kembali di bangku panjang tempatku sebelumnya.


"Pa..Pangeran" Aku terkejut saat Pangeran Sera berjongkok di depanku dan mengangkat kakiku ke pangkuannya. "Apa yang Pangeran lakukan" Seruku binggung.


"Aku akan membantumu mewarnai mereka"


"Ta..Tapi.."


"Tenang saja, Aku bisa melakukannya"


Aku agak canggung saat Pangeran Sera mulai mewarnai kuku kakiku. Aku ingin melepaskan diri tapi Pangeran Sera menahannya. Dua orang pelayan yang memasuki kamarku tampak terkejut. Mereka tidak menyangka melihat pemandangan seperti ini. Aku makin merasa canggung dan berusaha melepaskan kakiku.


"Diamlah Yuki" Perintah Pangeran ketika Aku terus memberontak.


Akhirnya Pangeran selesai mewarnai kuku kakiku. Aku langsung menurunkan ke lantai, melepaskan diri dari Pangeran. Wajahku sudah memerah karena malu.


"Bagaimana, Aku cukup mahir kan mewarnai kuku calon ratuku"


"Ini untukmu" Ujar Pangeran sembari menyerahkan bingkisan padaku.


"Apa ini ?"


"Bukalah" Katanya tenang. Aku duduk di sampingnya. Membuka bingkisan itu perlahan.


"Wuuuaahhh" Kataku senang.


Ternyata isinya adalah lukisan dan hiasan tangan milik anak-anak pengungsi. Aku menemukan lukisan milik Qirara.


"Bagaimana kabar mereka, Apa mereka baik-baik saja ?" Tanyaku tak sabar.


"Mereka sudah mendapatkan bantuan yang layak. Ini adalah hadiah yang dititipkan kepada penjaga untukmu"


"Aku sangat ingin bertemu mereka"


"Ya, Nanti, Jika keadaan sudah aman"


Pangeran Sera mengelus lembut rambutku. Aku menatapnya sedih. Seberapa parah sebenarnya masalah yang terjadi. Apakah Pangeran Riana belum diketemukan ?.


"Jangan memasang wajah seperti itu Yuki" Tegur Pangeran tidak suka.


"Maaf"


Pangeran Sera membuka-buka buku yang sedang kubaca. Keningnya berkerut. "Sejak kapan Kau menyukai buku mengenai sejarah kerajaan ?" Tanya Pangeran Sera sembari menepuk tumpukan buku di sampingnya.


"Aku hanya ingin mengetahui soal ibuku" Jawabku lirih.


"Dan..."


Aku menundukkan kepala. Pangeran Sera menghela nafas. Dia menarik kedua tanganku, untuk mendekatinya. Pergelangan tanganku digenggamnya lembut.


"Apakah kabar itu benar ?, Ibuku terlibat dengan konspirasi kerajaan ?, Apakah Dia juga otak dibalik pembersihan istana yang terjadi dua puluh tahun yang lalu ?" Aku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaranku. Aku ingin kepastian.


"Apapun kata orang mengenai ibumu, Bagi keluargaku Dia adalah pahlawan" Bisik Pangeran hangat. "Jika tidak ada ibumu, Saat ini ibuku sudah terbunuh, Adik perempuanku akan dijual di tempat pelacuran khusus para budak. Aku dan adikku yang lain juga tidak akan ada di dunia ini sampai sekarang. Putri Ransah adalah penyelamat keluargaku"


"Apakah tidak ada jalan lain selain membunuh untuk mempertahankan kehidupan kalian ?"


Pangeran Sera menatapku dalam, memohon pengertianku.


"Jika ada jalan seperti itu, Ibumu pasti sudah mengusulkannya terlebih dahulu. Aku masih terlalu kecil saat itu. Istri pertama ayah yaitu Putri Baradina, ingin menjadi calon ratu utama. Begitu juga dengan istri kedua ayah Putri Xarinty. Ibuku sebenarnya tidak ingin terlibat dalam persaingan itu, Namun Karena Dia adalah istri kesayangan Ayah, Kedua istri merasa terancam kedudukannya. Mereka mencari cara untuk menghabisi ibu dan menyingkirkan seluruh keturunan ibu dari negeri ini"


Pangeran Sera menyentuh pipiku lembut. "Percayalah Yuki, Baik atau tidaknya ibuku, akan tergantung dari siapa Kau mendengar. Istana tidak seindah dongeng. Kau akan menemukan diri sendiri tanpa teman atau seseorang yang bisa Kau percaya. Namun...Apapun yang terjadi di masa depan, Kau akan selalu menjadi yang pertama untukku. Aku akan selalu mempercayaimu"