Win Direction

Win Direction
47



"Hentikan ini Alena..Aku mohon..lepaskanlah Dia" Ujar Pangeran Sera dengan pandangan memohon yang bisa membuat siapapun tergerak hatinya.


"Kenapa..kenapa Pangeran..Kenapa Kau begitu mencintainya. Apa bagusnya Dia dibandingkan Aku.." Isak Putri Alena dengan suara bergetar. Aku bisa merasakan cinta Putri Alena yang begitu besar kepada Pangeran Sera. Didalam hatinya, Ada seorang gadis yang meraung, menangis karena pria yang dicintainya tidak memandangnya dan justru Mencintai gadis lain didepannya. Hatinya hancur berkeping. Aku bisa merasakan kesedihannya dengan jelas, seolah menyalur dari kulit kami yang saling bergesek.


"Aku mencintaimu sebagai adikku" Ujar Pangeran Sendu.


"Aku tidak butuh itu" Putri Alena menatap penuh emosi pada Pangeran Sera. Dadanya naik turun menahan amarah.


"Pangeran, Nadira pergi dari sini" Perintah Putri Alena tegas.


"Alena.." Panggil Pangeran lembut.


"Pergi, turun dari benteng atau Aku akan menusuknya" Bentak Putri Alena dengan nada tidaj mau dibantah.


Pangeran memandang ragu pada diriku. Aku menganggukan kepala, meyakinkannya agar menuruti Putri Alena. Saat ini, Inilah yang terbaik yang dapat Pangeran Sera lakukan. Putri Alena telah kalap, Dia akan melakukan hal nekat jika keinginannya tidak terpenuhi. Pangeran Sera kemudian melangkah mundur diikuti Putri Nadira. Tapi matanya tetap awas mengawasi kami dengan sikap siaga.


"Apa yang akan Kau lakukan" Kataku sambil menahan tangannya yang membelitku dengan kuat. Putri Alena terus memandang Pangeran Sera yang berjalan menjauh.


"Aku pasti akan dihukum karena telah mencoba membunuhmu. Tapi tak apa, Aku tidak akan menanggungnya sendiri" Ujar Putri Alena dengan sikap puas. Dia menjawab ketika sudah melihat Pangeran Sera berada di bawah benteng. Banyak orang berkumpul dibawah sana tapi tak ada satupun yang berani mendekati benteng atas perintah Pangeran Sera. "Aku akan membunuhmu dan kemudian membunuh diriku sendiri. Dengan begitu Pangeran tidak akan menjadi milik siapapun. Dia tidak akan pernah menjadi milikmu"


Tanpa aba-aba Aku didorong hingga menabrak tembok benteng. Aku langsung berbalik dan menghindar. Nyaris saja pedang itu menusukku.


"Yuki.." Pangeran Sera mencoba berlari kearahku. Aku menahan tangan Putri Alena kuat. Dia menepisnya dan kembali mencoba menusukku. Kami berguling ditanah, saling bergulat. Aku terus menahan Putri Alena yang penuh nafsu untuk menghujamkan pisaunya. Dia seperti orang kesetanan. Akal sehat sudah tidak ada di dalam dirinya. Rasa panik, takut, marah dan benci begitu menguasainya.


Tidak ada yang akan menolongku. Butuh waktu untuk Pangeran Sera berlari sampai tempat kami.


Didalam kepalaku tergiang cukup jelas ucapan Rena ketika terakhir kali Kami berbincang. Berkali kali tiada henti. Seperti pita kaset yang terus diputar ulang.


"Jika saat itu tiba, Apakah Putri siap membunuh seseorang ?"


Aku berhasil menarik pisau dari Putri Alena. Tanganku berdarah karena tergores saat Kami saling berebut. Kini Aku berada diatas Putri Alena, Pisau berada di tanganku. Putri Alena menatapku penuh kebencian. Dagunya terangkat menantangku.


"Lakukan..Bunuh Aku"


Wajah Rena menjelang detik-detik kematiannya muncul. Aku menggengam pisau erat, menahan Putri Alena dengan tubuhku.


Satu hujaman dijantungnya, cukup satu kali Aku melakukannya dengan kuat dan dendam Rena terbalas. Inilah yang Aku tunggu. Moment yang kucari beberapa minggu ini. Membalaskan kematian Rena.


"Kenapa...Kau takut" Ejek Putri Alena lagi.


"Jika saat itu tiba, Apakah Putri siap membunuh seseorang ?"


dan lagi


Perkataan Rena seolah menghantui kepalaku.


"Yuki.." Aku berbalik, Pangeran Sera sudah berdiri diatas anak tangga. Nafasnya terenggah-enggah.


Aku melihat kearah Pangeran Sera. Kemudian menatap Putri Alena. Kesadaran memenuhiku.


Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku melemparkan pisau jauh kebawah benteng. Aku berdiri dan menatap Putri Alena dengan perasaan penuh simpati.


"Aku tidak bisa membunuhmu" Bisikku kelu. Aku menggelengkan kepala, mencoba berkata pada diriku sendiri. "Aku tidak bisa melakukannya, Aku bukan dirimu...atau..."


Aku terdiam beberapa saat mencoba berpikir. "Aku bersimpati atas kesedihanmu. Kau bisa juga mengatakan Aku kasihan padamu"


Aku berbalik dan berjalan kearah Pangeran Sera.


Pangeran Sera menatapku lega. Aku tersenyum kearahnya. Sudah berakhir. Aku tidak bisa membunuh seseorang saat ini seberapapun besarnya keinginanku atau seberapa dalamnya kebencianku padanya. Entah esok apakah Aku akan sanggup jika terjadi lagi keadaan seperti ini, Aku tidak tahu. Aku hanya ingin menjalani hidupku yang sekarang sebagai Aku.


Sudah berakhir...


Aku hampir mendekati Pangeran Sera ketika tiba-tiba sebuah tangan menarikku dari belakang. Putri Alena menatapku dengan bengis. "Kau menyesal telah melewatkan kesempatan membunuhku"


Setelah itu, Aku langsung di dorong dengan kuat. Pangeran Sera berlari kearahku. Tapi Aku sudah terlanjur terlempar keluar dari benteng.


"Yukiiii...." Panggil Pangeran Sera.


Aku berteriak nyaring. Aku akan mati. Apakah ini benar akhirku. Tubuhku terjun bebas kebawah, mengikuti gaya tarik bumi. Aku memejamkan mata, bersiap jika terjadj benturan yang akan membunuhku.


Semua berjalan begitu cepat. Tepat sebelum Aku meluncur jatuh ke tanah, Sebuah Kuda hitam, entah dari mana, meloncat kearahku. Sebuah Tangan yang cukup kuat menarikku, Menangkapku dalam dekapannya.


Dengan tangkas, Kuda tersebut mendarat sempurna ke tanah. Aku mengerjap, Jantungku masih berdebar kencang. Aku tidak percaya, Aku bisa selamat. Orang yang menolongku mengenakan jubah dan tudung untuk menutupi rambut dan wajahnya.


Tapi...


Debaran Jantungku semakin kuat. Aku mengenal aroma ini. Tangan kuat yang menyanggaku. Dan betapa kekarnya dada yang memelukku. Aku mendongak, mendapati sepasang mata Biru es menatapku. Menembusku tepat di jantung.