
"Yuki.." Aku memalingkan wajahku, terkejut ketika mendengar suara yang familiar memanggilku. Pangeran Sera muncul dari balik pohon. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan panik, beruntung Aku sedang sendiri. Aku langsung menghampiri Pangeran, Menariknya bersembunyi.
Aku tidak percaya Pangeran Sera akan senekat ini, kemunculannya yang tiba-tiba di perkemahan terus terang membuatku sangat terkejut. Jika Pangeran Riana mengetahui hal ini Aku takut akan terjadi ketegangan di kedua negara.
"Kenapa Pangeran ada disini ?" Bisikku tak percaya.
"Wilayahku juga terkena dampak tsunami. Aku ikut membantu di sana" Jelas Pangeran Sera kalem. Pangeran Sera menunjuk ke arah barat, di area perbukitan tak jauh dari tempat Kami.
Aku memeluk erat anak perempuan berusia dua tahun dalam gendonganku, Tadi saat Aku ingin beristirahat Aku mendengar anak ini menangis di tenda anak. Suaranya sangat keras sampai ke tendaku. Khawatir Dia akan menganggu Anak-anak yang lain Aku membawanya keluar untuk menenangkannya. Aku berjalan ke pinggir perkemahan tempat yang tidak begitu dilalui orang.
Suatu mukjizat anak ini dapat selamat dari bencana itu. Dia ditemukan mengambang diatas papan seorang diri. Ibunya sedang dalam perawatan karena cidera serius di kepalanya. Ayahnya ikut rombongan Pangeran mencari korban lainnya, berharap menemukan anaknya yang lain yang sampai sekarang belum diketemukan. Anak ini tertidur sambil mengengam bajuku erat. Matanya sembab, Aku masih bisa menemukan sisa air mata disana.
"Bukan itu masalahnya, Bagaimana jika Pangeran Riana menemukanmu, Dia pasti salah paham nantinya"
"Kau mulai begitu peduli padanya" Ujar Pangeran sambil tersenyum. Aku menangkap kesedihan di matanya. Tampaknya Aku telah melukainya.
"Aku hanya tidak ingin Pangeran mendapat masalah lagi. Kita berada di lokasi bencana, banyak yang harus kita fokuskan, Sangat tidak baik jika ada masalah yang tidak ada kaitannya dengan bencana ini" Kataku beralasan. "Aku mohon Pangeran mengertilah" pintaku Akhirnya karena melihat Pangeran Sera hanya diam mematung.
"Aku mengerti, Jaga dirimu baik-baik jangan sampai sakit" Kata Pangeran Sera membuatku lega. Pangeran Sera mencium pipiku, berlalu pergi menuju kegelapan hutan.
Aku memandang kepergiannya, mendesah memikirkan apa yang harus kulakukan dengan kedua Pangeran ini. Aku sudah memberi mereka jawaban, tapi Mereka tidak mau menerimanya. Mereka tetap pada pendiriannya untuk bersamaku. Aku tidak mungkin bersama keduanya sekaligus.
Aku tidak tahu dimana kisah ini akan mengarah, Siapa yang harus kupilih, Apa yang terjadi jika nanti Aku memilih salah satu diantara mereka ? Apakah yang lainnya akan menerima ?. Aku sama sekali tidak punya bayangan apapun. Rasanya Aku seperti berdiri di persimpangan jalan.
"Apa yang Kau lakukan disini" Aku tersentak kaget. Pangeran Riana muncul secara tiba-tiba di belakangku. Kenapa kedua Pangeran ini seperti hantu, datang dan pergi sesuka hatinya. Aku bisa jantungan jika terus menerus seperti ini.
"Aku baru saja menidurkan anak yang menangis" Jawabku cepat sambil menunjukkan gadis kecil yang sudah tertidur lelap tak jauh dariku.
"Apa terjadi sesuatu ?" Tanya Pangeran Riana curiga.
"Apa Kau tau Sera berada di perbatasan wilayah"
"Bukan hanya Garduete yang terkena bencana" Kataku mengingatkan. "Jika Dia berada di perbatasan wilayah, Aku rasa itu hal yang wajar. Dia juga memberikan bantuan kepada rakyatnya sama seperti dirimu"
"Semoga saja itu benar" Kata Pangeran sarkatis.
Aku sudah sangat lelah dan tidak berminat untuk berdebat dengannya. "Sudah waktunya Kita istirahat" Kata Pangeran ketika terdengar suara terompet yang menandakan waktu istirahat malam telah tiba dan juga pergantian shift. Namun belum beberapa detik Pangeran berkata, terdengar suara rintik hujan menabrak tenda. Mulanya samar namun makin lama makin terdengar jelas.
"Gawat tenda-tendanya harus ditutup" Kataku tersadar. Aku berlari menutup semua cendela kain agar hujan tidak masuk. Menggeser tempat tidur yang rawan kebocoran agar anak tidak terkena air hujan.
"Putri awas" Aku berbalik, tiang dibelakangku mengarah jatuh kearahku. Untung saja sebelum tiang itu sempat menghantamku, Sepasang tangan menarikku. Pangeran Riana tersiram air hujan yang tertapung diatas tenda akibat salah satu tiangnya roboh.
"Pangeran, Apa Kau baik-baik saja ?" Tanyaku panik ketika melihat Pangeran basah kuyup oleh air bercampur daun yang kotor.
"Aku tidak apa-apa" Jawab Pangeran. Aku menghampirinya, menepiskan sisa daun yang masih ada di badannya. Tampaknya tenda ini oleng karena ada daun yang menumpuk dan menjadi basah karena hujan.
"Pastikan semua atap bersih, Aku tidak mau mendengar ada masalah seperti ini lagi" Perintah Pangeran pada penjaga didekatnya. Penjaga itu menunduk dengan hormat lalu berlalu pergi untuk melaksanakan perintah.
"Pangeran harus segera berganti.pakaian, Ayo Aku akan membantumu" Seruku sembari menarik tangannya keluar tenda menuju tenda kami. Aku mengambil air dalam baskom berisi air hangat berserta handuk bersih. Membawanya ke meja dekat tempat tidur. "Buka pakaian Pangeran, Aku akan membersihkannya"
Pangeran dengan acuh membuka pakaiaannya. Aku memalingkan wajahku tidak mau melihatnya.
"Kenapa Kau masih saja malu seperti itu, Bukankah Kau sering melihatku tanpa busana ?"
Aku diam. Pura-pura tidak mendengar. Terus terang sebagai wanita Aku mengakui bahwa badannya sangat bagus. Otot-otot yang terbentuk sempurna berkat latihan dan usahanya membuat siapapun yang melihatnya akan tergiur untuk menyentuhnya. Hidungnya sangat mancung dan kulitnya cenderung bersih. Jika Pangeran memiliki sifat baik sedikit saja seperti Pangeran Sera, Aku yakin Dia akan sama populernya seperti Pangeran Sera.
Aku mengelap badan Pangeran dengan kain yang telah dibasahi air hangat. Membersihkan tangan dan kakinya. mengoleskan minyak agar tetap lembab dan tidak terbakar sinar matahari. Kegiatan seperti ini, terus terang tidak baik untuk jantungku. Pada akhirnya Aku telah selesai membantunya. Aku bernafas lega diam-diam.