Win Direction

Win Direction
45



Pangeran Sera menaiki kudanya. Aku mengantarkannya sampai Dia keluar dari gerbang istana. Derap langkah kudanya perlahan-lahan menghilang.


Inilah saatnya...


Aku berjalan kembali memasuki istana. Melangkah dengan penuh keyakinan bahwa apa yang Kulakukan ini pasti membuahkan hasil.


Putri Margitha sedang sibuk menjamu para putri. Sesekali Dia duduk mengobrol dan tergelak.


Jamuan diadakan di taman tengah, Para pelayan hilir mudik mengisi makanan yang kosong. Hari ini udara cukup cerah walaupun angin sesekali berhembus cukup kencang. Tapi ini semua tidak menyurutkan niat para Putri untuk hadir ke perjamuan apalagi Putri Margitha lah yang mengundang langsung. Selain itu Mereka bisa masuk kembali ke istana Pangeran Sera. Bagaimana bisa mereka menolak undangan yang mengiurkan seperti ini. Aku duduk seorang diri di sudut ruangan memperhatikan. Putri Alena berada di samping Putri Nadira. Dia tampak menyendiri dan tidak terlalu fokus pada kegiatan yang ada. Pikirannya seolah berada jauh disuatu tempat.


"Putri Yuki, Kemarilah...Kenapa Kau sendirian disana" Seru Putri Margitha memanggil. Para Putri Disekitarnya langsung memasang wajah sengit seolah berkata secara diam-diam "Jangan mendekat".


Aku tersenyum berusaha tidak melihat mereka.


"Ayo kemarilah" Seru Putri Margitha lagi sembari menepuk bangku di sebelahnya.


Aku beringsut dari dudukku dan menghampiri Putri Margitha.


"Loh wah..kenapa Putri tidak memakai hiasan rambut itu" Tanya Putri Margitha ketika Aku duduk didekatnya. Aktingnya sungguh luar biasa. Ekpresi terkejut dan heran sekaligus terlihat begitu alami. Putri Margitha sangat berbakat sebagai seorang pemain film. Dia akan menjadi artis yang hebat.


"Hiasan yang mana yang Putri Maksud ?" Tanyaku berlagak tidak tau,berusaha mengimbangi sandiwaranya.


"Tiga buah konde yang biasa Putri pakai, yang diberikan Kakak pada Putri itu" Ujar Putri Margitha gemas.


"Aku ingin sedikit berganti suasana dengan menganti gaya rambutku. Apakah itu bermasalah ?" Tanyaku tidak mengerti.


"Tentu saja, Jika Kakak tau Putri tidak memakainya Kakak akan sangat marah. Hiasan rambut itu adalah benda sakral yang diberikan ibunda. Ibu memberikannya kepada Kakak untuk di serahkan pada Wanita yang akan dinikahinya"


Para Putri tampak terkejut saat mendengarnya.


"Siapapun wanitanya jika memakai konde itu, maka Dialah yang akan menikah dengan Kakak"


"Benarkah ?" Kataku terkejut. "Maafkan Aku Putri Margitha, Aku tidak tau bahwa hiasan rambut itu sangat penting artinya. Aku pikir Itu hanya hiasan biasa"


Aku menganggukan kepala seolah mulai mengerti arti konde itu. "Aku meminta pelayan untuk menyimpannya di laci rias kamarku. Jika Aku tau itu sangat berharga Aku akan menyimpannya lebih baik"


"Untung saja Aku melihat Putri tidak memakainya. Jika Kakak yang melihat Dia akan kecewa. Hari ini istana juga sepi. Kakak malah pergi ketika Aku mengadakan acara"


"Pangeran sedang banyak tugas. Kita tidak selalu bisa menggangunya" Ujarku kalem. "Putri Aku izin pergi dulu. Tadi pelayan memanggilkan guru untukku, Aku harus menemuinya. Jika sudah selesai Aku akan kemari lagi"


"Baiklah, Aku ada disini bersama para Putri jika Putri membutuhkanku"


Aku menganggukan kepala. Aku berdiri dan berjalan pergi menjauhi tempat jamuan bersama beberapa pelayan dan pengawal. Tadi itu adalah sandiwara yang Aku buat bersama Putri Margitha untuk memancing Putri Alena bertindak. Memang agak keterlaluan mencurigainya tanpa alasan begini. Tapi Jika ini berhasil, Aku mempunyai bukti kuat keterlibatannya.


Aku tidak kembali kekamarku melainkan ke kamar lain yang letaknya tiga kamar dari kamarku. Aku sudah meminta para pengawak untuk meninggalkan penjagaan didepan pintu kamarku dan bersembunyi ditempat mereka tidak terlihat. Mengawasi setiap pergerakan yang ada.


Aku duduk dengan gelisah di dalam kamar. Para pelayan berdiri dengan sikap menanti. Di luar terdengar gelak tawa dan senda gurau dari Para Putri.


Aku meremas tanganku secara gelisah. Jantungku berdebar tak karuan. Bagaimana jika dugaanku salah ?. Bagaimana jika ini berkembang ke sesuatu yang membahayakan. Aku tidak mungkin membawa Putri Margitha ke dalam bahaya. Dia sudah cukup banyak membantuku.


Aku sudah menyelidiki mengenai Putri Alena sebelumnya. Dia adalah Putri baik-baik dari keluarga bangsawan. Tidak pernah terlibat masalah atau bergaul dengan lawan jenis. Dia begitu menyukai Pangeran Sera ketika Mereka bertemu saat masih kecil. Sudah banyak Perjodohan yang ditolaknya. Yang paling mengejutkanku, Dia adalah kemenakan Perdana Menteri Borindo. Jika Apa yang kucurigai ini benar, Maka Perdana Menteri Borindo telah memanfaatkan keponakannya sendiri untuk mencapai tujuannya. Apa Dia tidak memikirkan dampak yang bisa terjadi jika Kerajaan mengetahuinya.


Bagaimana bisa Dia sekejam itu ?.


"Putri, Mohon maaf, Ada pergerakan mencurigakan" Lapor seorang Penjaga dengan suara berbisik membuyarkan lamunanku.


"Apa Kau yakin ?" Tanyaku dengan jantung berdebar.


"Ya, Putri. Saya Melapor setelah melihat tersangka memasuki kamar Putri dengan mata dan kepala Saya sendiri" Penjaga itu terlihat sangat yakin akan penglihatannya.


Aku berdiri.


"Sekarang Kalian diamlah, Biar Aku sendiri yang memeriksanya" Aku langsung berjalan cepat menuju pintu keluar tanpa memperdulikan Panggilan pelayan yang mencegahku. Aku berlari kekamarku.


Ketika Aku membuka pintu kamarku, Aku terpekik terkejut.