
Aku duduk seperti seorang pesakitan, Ruangan tempatku sekarang cukup rapi. Khas ruangan wanita tua jaman dulu. Berbagai benda seni di pajang rak di dinding dekat cendela. Seorang pelayan tua duduk di dekatku, menuangkan secangkir teh untukku.
Seorang Wanita tua lain berusia sekitar 70 tahunan duduk di depanku dengan pakaian kebesaran kerajaan, memandangku dengan tatapan yang tajam. Walau sudah tua, Aku bisa merasakan auranya yang mengintimidasiku. Sekilas ada sedikit Pangeran Riana pada wanita ini.
"Ibu suri silahkan" Ujar pelayan sopan, Dia meletakkan cangkir teh didepan Ibu Suri. Lalu kemudian beringsut mundur.
Tangannya yang keriput mengambil teh dan mengaduknya perlahan. Hening. Hanya terdengar dentingan cangkir yang beradu dengan cangkir.
"Aku sudah sangat tua untuk mengurus tugas sebagai Ratu negeri ini, Jika Raja mengurus masalah negeri maka Ratu bertugas untuk mengurus masalah dalam istana, memopang tugas Raja dari belakang, menciptakan generasi penerus yang mampu secara kualitas untuk memimpin negeri, Aku sudah melaksanakan semuanya sampai titik ini dan aku pikir tugasku telah berakhir. Namun Aku salah, tugas akhirku yang terberat adalah menyerahkan singasanaku pada orang yang tepat untuk mendukung pemerintahan Raja" Ujar Ibu Suri membuka percakapan. "Semenjak Riana mengangkatmu sebagai kekasih, Aku selalu mengawasi gerak-gerikmu. Namun, Aku sangat kecewa padamu. Apa Kau mengerti Putri Yuki ?"
Aku hanya diam menundukkan kepala. Tidak membantah juga tidak mengiyakan.
"Kerajaan sudah mengakui statusmu sebagai Wanita pangeran, Kau seharusnya sudah mengerti bahwa Kau tidak lagi boleh berhubungan dengan Laki-laki lain diluar batas kewajaran Namun Kau tetap saja menjalin hubungan dengan Pria lain bahkan nyaris membuat dua negara besar berselisih"
Ratu tampak sangat kesal saat Dia berbicara. Tangannya sampai gemetar. Aku tetap diam.
"Kau juga menolak tidur dengan Pangeran sehingga Pangeran akhirnya memaksamu. Selain itu, sikapmu pada Pangeran juga sering tidak terpuji.Kau berani membantah dan sering menolak keberadaan Pangeran. Aku merasa Kau perlu banyak berlatih untuk menjadi Putri yang pantas, Riana terlalu memanjakanmu, Aku sudah sering menasehatinya untuk mendapatkan pelatihan dari guru-guru terbaik untukmu tapi Dia bilang Kau tak perlu itu."
Setengah jam tanpa henti Aku mendapatkan banyak kritikan dari Ibu Suri. Dia sangat tidak menyukai sikapku pada Pangeran. Dia ingin Aku mendapat pelatihan. Terus terang Aku tidak tahu apakah ini berguna atau tidak untukku. Posisiku hanya sebagai seorang kekasih bukan calon ratunya. Aku tidak berminat dengan persaingan wanita di istana.
Aku menunduk untuk memberi hormat ketika akan meninggalkan kamar Ibu Suri. Dia sudah cukup puas untuk mengkoreksi semua kesalahanku. Tampaknya Aku terlihat seperti seorang wanita yang tidak tau adap di matanya.
Dia akan mempersiapkan guru-guru untuk mengajariku bagaimana menjadi seorang Putri yang baik. Mulai besok Aku akan mulai belajar secara pribadi di istana Pangeran.
Aku terkejut saat keluar kamar, Pangeran sudah didepan pintu. Dia menatapku menyelidik. Aku memalingkan wajah tidak mau melihatnya. Pelayan Tua di sampingku berdehem pelan.
"Hormat Saya kepada Pangeran Riana, Pangeran perwaris tahtah negeri Garduete" Kataku memberi hormat.
Aku berjalan bersama dengan rombongan Pelayan dan pengawal dibelakangku. Kami akan kembali ke istana Pangeran Riana. Aku sangat lelah, baik secara fisik maupun secara batin.
Kereta berjalan. Aku memansang langit, sebentar lagi hujan. Di sepanjang jalan Aku melihat daun-daun yang basah. Warna hijau tampak dimana-mana. Anak kecil berlarian bermain kumbangan di jalan. Mereka semua tertawa bahagia. Aku memandangi mereka dengan perasaan iri.
Hatiku sakit saat kami melewati taman tempat dimana Aku dan Bangsawan Dalto sering berada di sana sehabis berjalan di kota. Bunga mawar yang ditanamnya tumbuh subur. Kelopak berwarna putih yang cantik. Aku memalingkan wajahku tidak ingin melihatnya. Air mataku turun tanpa bisa kucegah. Sudah delapan bulan seharusnya hatiku sudah menerima kepergiannya Tapi kenapa ternyata masih terasa sakit seperti ini. Aku menutup mulutku rapat menyembunyikan isak tangisanku. Aku tidak ingin ada yang melihat diriku yang begini. Mereka hanya akan memandangiku iba, sosok yang menyedihkan.
"Aku ingin berjalan sendiri sebentar" Kataku ketika kami tiba di istana Pangeran Riana. Para pengawal hendak memprotes. Tapi saat melihat sesuatu di wajahku mereka urung melakukannya.
Aku berjalan pelan meninggalkan mereka.menuju taman tengah. Bau tanah yang basah tercium memenuhi setiap sudut taman. Bunga-bunga mulai bersemi menampakan warnanya. Musim semi telah tiba.
Aku merasakan kewarasanku kembali digoyahkan. Tekanan yang kurasakan begitu besar. Aku tidak menginginkan apapun selain hanya hidup damai dengan jalan yang kupilih, namun nyatanya Aku tidak mempunyai hak untuk hidupku sendiri. Mereka menginginkanku bersikap sempurna layaknya seorang Putri terpelajar. Tapi Itu bukan Aku...Aku tidak memilih kehidupan seperti ini. Hujan mulai turun perlahan, gerimjs rintik. Aku tetap terpekur di tempatku. Aku seperti orang yang kehilangan arah. Tidak menemukan pegangan yang dapat menyelamatkanku.
Bayanganku terlihat dari cendela didekatku. Aku menatap sosokku yang sekarang, tidak mirip seperti manusia, lebih tepatnya Aku seperti seorang zombie.
Aku memerluhkan orang yang dapat menolongku dari.kehancuran. Tempat Aku bisa berpegang dan menemukan arahku.
Siapa ?
Aku terus menatap bayanganku dalam. mencari dari sana, apakah ada jawaban untuk masalahku ini.
"Tolong Aku Pangeran Sera...tolong selamatkan jiwaku..."
Aku tidak tahu kenapa Aku mengatakan ini. Aku sadar Dia tidak mungkin mendengarnya. Aku sudah banyak memberinya masalah. Sangat kurang baik jika Aku meminta bantuannya sedang Aku tahu perasaannya padaku. Aku belum bisa membalas perasaannya seperti yang Dia inginkan. Namun, Rasanya sesaat tadi Aku seperti melihatnya sehingga tanpa sadar menyebut namanya.