
Aku naik keatas kuda hitam milik Pangeran Riana dengan dibantu Pangeran dari belakang. Setelah itu Dia ikut menyusul naik ke belakangku. Seluruh pasukan dan bantuan sudah siap. Kami akan segera berangkat. Aku mengenakan tudungku ketika Pangeran mulai memacu kudanya setelah memberi aba-aba kepada pasukannya. Angin berhembus cukup kencang menerpa wajahku. Aku merunduk di dadanya, menghindari angin yang menerjang. Kami melaju menuju tempat bencana, dimana satu detiknya sangat berarti bagi mereka.
Tempat yang akan Kami kunjungi adalah kota Balwelri. Kota besar yang berbatasan langsung dengan wilayah Argueda. Disana penduduknya hidup dari pantai dan hasil tambaknya. Selain itu kabarnya perdagangan di kota itu sangat maju karena letaknya yang stategis dilalui kapal dagang dari negara lain. Banyak perahu dari negeri lain datang setiap harinya untuk melakukan kegiatan dagang. Pangeran pernah tinggal disana beberapa saat ketika Dia disembunyikan oleh kerajaan saat terjadi pemberontakan untuk menyelamatkan nyawanya. Saat itu umurnya baru lima tahun. Dia terikat dengan kota itu secara pribadi. Aku jadi paham kenapa Dia langsung datang sendiri ke lokasi untuk memberi bantuan ketimbang duduk di istana dan memerintahkan pasukannya datang.
Kadang Aku sama sekali tidak mengerti, Pangeran Riana bisa menjadi sangat baik tapi juga bisa menjadi sosok yang kejam di waktu yang lain. Dia bagaikan pisau bermata dua. Tapi, Aku sangat salut padanya sebagai pemimpin Dia mau turun sendiri membantu rakyatnya yang terkena bencana.
Setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, Akhirnya Kami sampai di tempat tujuan. Aku terperangah melihat didepanku, Puing bangunan berserakan di sejauh mata memandang. Seluruh kota Balweri dan sekitarnya rata dengan tanah. Bau menyengat dari mayat-mayat yang bergelimpangan membuatku mual. Aku langsung menutup hidungku.
Bayangan saat Aku berada di kuil iblis tergiang dikepalaku ketika Aku melihat pemandangan didepanku.
"Lebih parah dari yang ku duga" Guman Pangeran yang memandang ke sekeliling dengan matanya yang tajam. Ada kecemasan tersendiri diwajahnya yang berusaha disembunyikannya dengan baik.
Kami menuju perkemahan para korban yang selamat, Yang dibangun seadanya oleh penduduk dan bantuan kota sekitar. Pangeran mengatur perbekalan dan mendirikan tenda-tenda darurat di tanah yang cukup tinggi. Aku berjalan mengambil tas obat dari kereta obat kerajaan. Dalam perjalanan Aku sudah menganti pakaianku dengan pakaian kain biasa yang lebih nyaman dipakai bergerak, Aku juga menemukan sepatu boot dari kulit sapi yang cukup melindungiku jika nanti harus bergerak ke medan untuk mencari korban yang selamat.
"Putri apa yang Putri lakukan, Biar Kami saja yang melakukan, Putri beristirahatlah" Seru seorang perawat saat Aku membungkuk untuk mengobati seorang korban yang terluka parah dibagian kaki.
"Aku tidak datang ke sini untuk berleha-leha sementara Kalian berkerja, Tenang saja Aku punya cukup pengalaman di bidang kegawatdaruratan"
"Tapi..."
"Tidak ada waktu untuk saling berdebat, Banyak hal yang harus Kita lakukan yang lebih bermanfaat" hardikku tegas.
"Baik Putri"
Perawat itu pergi. Aku mengobati luka Pria yang meringis kesakitan. Membersihkan lukanya dengan hati-hati, setelah itu menaburkan obat keatas lukanya. Setelahnya Aku membalutnya. Pria ini akan kesulitan berjalan untuk beberapa waktu sampai lukanya sembuh. Setelah selesai Dua orang perawat pria datang dan mengangkatnya di tandu. Membawanya ke tenda perawatan.
Aku sudah tidak tahu lagi berapa banyak korban yang telah kutangani. Pangeran Riana masuk saat Aku baru selesai membalut kepala anak kecil yang berdarah. Dia kemudian memaksaku untuk beristirahat ke tenda yang telah dipersiapkan. Saat Aku keluar tenda pengobatan bersamanya, Aku terkejut mendapati hari sudah larut malam. Aku membersihkan diriku, menganti pakaianku dan kemudian masuk kembali ke tenda dimana Pangeran Riana telah menunggu. Dia sendiri sudah berganti pakaian. Perutku sangat lapar dan buku-buku jariku terasa sakit semua karena seharian dipakai untuk bekerja.
Aku langsung melahap makanan yang dihidangkan, bukan makanan mewah tapi sangat lezat diperutku yang lapar. Setelah makan Aku langsung merebahkan diri. Pangeran tidur disampingku. Kami sama-sama lelah, banyak pekerjaan yang masih harus kami lakukan besok.
Di hari ketujuh semenjak Aku disini, Keadaan sudah cukup lebih baik daripada hari pertama kami disini. Para korban yang selamat saling bergotong royong untuk mencari korban lain atau juga membantu di perkemahan bantuan. Ada yang mengumpulkan pakaian layak pakai dari puing-puing bangunan untuk kemudian di cuci agar bisa dipakai kembali. Ada yang membantu mencari bahan pangan untuk menambah pasokan makanan. Aku berada di tempat untuk menjemur pakaian, membantu para pelayan dan penduduk yang telah selesai mencuci untuk dijemur. Matahari hari ini bersinar cukup hangat.
"Tampaknya Kau menyesuaikan diri dengan baik disini" Pangeran Riana datang dari belakangku. Aku berbalik untuk melihatnya.
"Kau mau kemana ?" Tanyaku saat melihat penampilannya.
"Aku akan ke area pesisir untuk menemukan korban lain"
"Baiklah berhati-hatilah"
"Yuki.." Panggil Pangeran Riana lagi. Dia memegang pingangku dan langsung menarikku. Para penduduk dan pelayan langsung menunduk seolah tidak melihat.
"Apa yang Kau lakukan" Kataku Panik. Aku berusaha melepaskan diri. "Apa Kau tidak malu mereka melihat Kita"
Tapi Pangeran Riana sama sekali tidak peduli. Dia mendekatkan wajahnya, menahan kepalaku dengan tangannya yang lain, Dan menciumku mesra. Aku berusaha mendorongnya menjauh. Namun Dia selalu tak terbantahkan. Saat Dia melepaskanku, wajahku sudah merah karena malu.
"Terimakasih sudah peduli dengan rakyatku" Ujarnya. Aku tertegun, amarahku langsung menghilang. Dia mengatakan dengan tulus. Apa aku tidak salah dengar. Pangeran mengelus pipiku sebentar lalu berbalik pergi meninggalkan Aku yang masih terpaku memikirkan perubahan sikapnya yang tidak dapat kutebak.