
Usai pengesahan Calon Ratu, Aku segera meminta izin untuk kembali ke istana Pangeran Riana, Emosiku sudah diubun-ubun. Pangeran Riana dan Pendeta Serfa mengikutiku dengan tenang hingga didalam kamar. Aku melepaskan mahkota, meletakkannya dengan kasar ke meja didepanku lalu berbalik menatap Mereka berdua.
"Sekarang jelaskan padaku" Kataku langsung. Pangeran duduk santai, kemudian Dia mulai berbicara.
Ternyata Aku adalah calon ratu yang selama ini dicari oleh mereka. Cara pengujiannya menggunakan batu amara, Selain Pangeran Riana selaku penerus tahtah yang sah kerajaan Garduete, hanya Calon Ratu yang ditunjuk oleh Dewa Aiswara yang dapat membuat batu amara bersinar.
Pantas saja sikap mereka semua berubah setelah Aku menunjukan Batu Amara yang bersinar ditanganku ketika makan malam di istana Raja waktu dulu. Ternyata inilah alasannya.
"Kalau dipikir-pikir Aku cukup beruntung, Saat Aku sudah kebingungan untuk menemukan Calon Ratuku, Dia datang sendiri ke depanku, dengan wajah polos menunjukan Batu Amara di tangannya. Apa Kau tidak curiga Yuki, kenapa Aku tiba-tiba memaksamu menjadi kekasihku setelah makan malam itu ?. Apa pelayanmu tidak menceritakan pengujian Batu Amara untuk setiap gadis dalam misi pencarian Calon Ratu ?"
Aku mengepalkan kedua tanganku, berusaha menahan emosi yang memenuhiku agar tidak menguar keluar.
"Kedatangan Pangeran Sera kali ini, Apakah ini juga rencanamu ?" bisikku sarkatis. Bukan kebetulan Pangeran Sera diundang malam ini, Aku percaya itu.
Pangeran tersenyum puas sebagai jawabannya. Dia cukup senang telah membuat Pangeran Sera malu dan meninggalkan ruangan begitu saja. Aku tahu Dia sudah merencanakan semuanya untuk hal ini. Aku bisa melihatnya dari sorot matanya.
"Kenapa Kau melakukannya ?" tanyaku tak percaya.
"Aku ingin menunjukan bahwa sebaiknya Dia menyerah. Garduete tidak akan menyerahkan Calon Ratunya untuk siapapun." Ujar Pangeran Riana tegas. "Sekarang Kau sudah tau apa posisimu. Kenapa Kau harus kembali ke dunia ini. Karena Kau adalah calon ratuku. Sebaiknya mulai sekarang Kau harus menjaga sikap"
Aku ingin membuka mulutku, Tapi melihat tatapannya yang tidak ingin dibantah Aku diam. Aku sadar tidak akan baik jika Aku terus berdebat dengannya akan masalah ini. Dia mendapat dukungan kuat tidak hanya dari istana tapi seluruh Negeri.
Aku memalingkan wajahku, berdiri membelakangi mereka agar mereka tidak melihat kesedihanku. Aku tahu hidupku sekarang sudah tidak akan mudah lagi. Pangeran Riana tidak akan melepaskanku, Aku tidak akan punya jalan untuk kembali pulang.
Semenjak diumumkannya Aku sebagai calon Ratu, Sikap semua orang menjadi berubah. Mereka memperlakukanku seperti barang yang mudah pecah. Kemanapun Aku pergi, Akan banyak mata memandangku. Pendidikan untukku terus berjalan, Aku dituntut untuk dapat menjadi Ratu yang mereka harapkan. Selain itu Aku juga mulai harus mempelajari aturan, sisilah dan semua hal mengenai istana secara lebih terperinci. Aku harus mengikuti Ibu Suri dalam beberapa kegiatan keistanaan. Mengunjungi istana wanita milik Pangeran Riana. Aku cukup terkejut mengetahui bahwa sebenarnya Dia punya cukup wanita untuk menghiburnya, Tapi kenapa Dia masih mengangguku.
Aku melempar buku ke atas meja, Pangeran Sera memutuskan untuk menginap di ibukota, Alhasil Pangeran Riana menyekapku kembali di dalam kamar. Aku tidak mengerti terhadap jalan pikiran Pangeran Sera, Kenapa Dia masih belum menyerah. Jelas kerajaan Garduete tidak akan menyerahkan calon ratunya menjadi milik kerajaan lain. Mereka akan siap bertempur. Aku tidak datang ke dunia ini hanya untuk menyaksikan orang saling bunuh. Iblis jelmaan kakek Bangsawan Dalto masih belum ditangkap, Aku khawatir semakin hari kekuatannya semakin besar. Dan Aku juga tidak berniat untuk menjadi penyebab pertempuran dua negara, Apa kedua pangeran itu gila sehingga memperebutkan orang seperti Aku ?.
"Untuk apa Aku harus membaca laporan ini ?, Apa Aku harus mengetahui berapa banyak koleksi wanitanya ?" Tanyaku sarkatis pada Rena.
"Sstt.. Putri...tidak boleh berbicara seperti itu mengenai Pangeran, Jika ada yang mendengar Putri bisa celaka" Ujar Rena panik.
"Aku lebih baik membantu persiapan pernikahanmu ketimbang mengurusi hal tak berguna begini"
"Kenapa Putri sangat tidak menyukai posisi Calon Ratu ?" Tanya Rena binggung.
"Seingatku Aku sudah pernah mengatakan pada Pangeran dulu, Aku tidak suka menikah dengan orang yang mempunyai banyak wanita" Kataku asal. "Menjadi Ratu harus mengurusi juga wanita-wanita milik suaminya, bagian mana yang menyenangkan dari hal seperti ini ?" Aku melempar buku mengenai pembukuan ke atas meja.
"Tapi Putri tidak mungkin melarang Pangeran memiliki wanita lain, Dia akan menjadi seorang Raja nantinya, Tidak ada yang bisa melarangnya seperti itu"
"Jadi kenapa Aku harus menyukainya jika Dia bisa sibuk dengan banyak wanita sesuka hatinya ?"
Sebenarnya Pangeran Riana pernah berjanji padaku jika Aku mau bersamanya, Dia akan melepaskan semua wanitanya dan hanya akan bersamaku. Tapi Aku tidak pernah percaya janji manis seperti itu. Setiap laki-laki yang mempunyai kedudukan tinggi sangat langka mau memiliki hanya satu wanita saja. Apalagi di Dunia ini.
Rena ingin mengatakan sesuatu, Sesuatu membuatnya panik. Dia langsung menepuk bahuku keras. Aku menoleh ke arah pintu. Pangeran Riana sudah berada di sana. Aku tidak tahu sejak kapan Dia ada disana. Apakah Dia mendengarnya atau tidak. Pangeran tidak mengatakan apapun, Dia berbalik dan pergi.
"Habislah kita Putri" Bisik Rena ketakutan disampingku.