
Aku mencoba berjalan dengan menggunakan tongkat untuk melatih kakiku. Para pelayan berada didekatku dengan sikap berjaga. Aku tidak boleh bermanja-manja. Aku harus berusaha agar dapat kembali normal.
"Putri.." Para pelayan berteriak saat Aku terjatuh di lantai. Lututku membentur lantai menimbulnya rasa nyeri.
"Jangan mendekat" Tolakku saat para pelayan ingin menolongku "Aku tidak apa-apa"
Aku kembali berusaha berdiri. Agak lega ketika Akhirnya Aku berhasil menapakkan kaki kembali. Setidaknya Aku bisa merasakan kembali kakiku, Aku harus mencatat ini sebagai awal yang baik. Aku kembali melangkah perlahan. Aku tidak boleh memanjakan tubuhku dan harus melatihnya. Rasanya sakit semua saat Aku bergerak. Tapi jika Aku tidak melatihnya, Aku khawatir malah akan memperburuk keadaan sehingga bisa menyebabkan kelumpuhan. Selagi bisa, Aku harus berusaha.
"Kau terlalu keras berlatih" Ujar Pangeran Sera sambil membaluri kakiku dengan minyak.
"Aku ingin cepat sembuh. Hari ini, Aku berhasil berjalan sepuluh langkah dan bisa merasakan kakiku kembali"
"Kau boleh berlatih Yuki, Tapi jangan terlalu memaksakan diri" Tegur Pangeran tak suka.
"Baik Pangeran baik"
Pangeran Sera mendesah, Dia mencubit pipiku gemas.
Pangeran mengambil sisir di meja dan kemudian mulai menyisir rambutku. Dia sangat baik. Mau merawatku sampai seperti ini.
"Sekarang, Tidurlah jika besok Kau ingin berlatih lagi. Aku bisa membawamu ke taman kalau Kau mau"
"Benarkah ?" Kataku antusias.
Pangeran menganggukan kepala. Aku langsung memeluknya senang "Terimakasih, Pangeran memang yang terbaik"
Pangeran berbaring disampingku. Menepuk lembut lenganku seperti sedang menidurkan anak kecil. Aku menyusupkan wajahku ke dadanya. Berusaha memejamkan mata. Terdengar senandungnya, Menyanyikan lagu pengantar tidur untukku. Suaranya terasa sampai ke dalam mimpiku.
Pangeran Sera menepati janjinya. Hari ini Dia seharian berada di istana menemaniku. Aku berhasil berjalan tiga langkah tanpa memakai tongkat. Rasanya cukup menyenangkan. Putri Margitha dan Pangeran Arana ikut menemaniku. Semangatku untuk sembuh cukup besar.
Pangeran Sera menghentikanku berlatih dan memaksaku beristirahat. Akhirnya Aku menurutinya. Kami duduk melingkar di taman. Aku memakai mantelku, udara cukup dingin hari ini, Namun berada di luar begini cukup mengembirakan setelah sekian lama terkurung di dalam kamar. Aku tidak keberatan jika harus membungkus diriku dengan pakaian tebal hanya untuk menikmati udara di ruang terbuka.
"Kita harus berhati-hati, Siapapun itu, Aku merasa ini bukan akhirnya" Jawab Pangeran Sera pelan. "Selama Kita belum menemukan pelakunya status waspada harus terus di berlakukan"
"Mata-mataku mengatakan, Perdana Menteri Borindo mulai menghubungi orang-orang dari Putri Zarkia, Sepertinya Mereka ingin melengserkan kedudukan Ibu dan Kakak dengan memanfaatkan situasi ini. Aku takut penyerangan terhadap Putri Yuki adalah salah satu rencana mereka"
Putri Zarkia adalah Istri pertama Raja Jafar Madza sebelum Akhirnya Dia di hukum gantung karena telah terbukti ikut andil dalam percobaan pembunuhan terhadap Ratu Warda saat terjadi perebutan kekuasaan.
Aku dengar Perdana Menteri Borindo memiliki pengaruh yang cukup besar di dalam pasukan kerajaan. Dia seperti seorang jendral besar yang sangat dihormati di kalangan militer kerajaan. Keluarganya bersahabat baik bahkan sering menjalin hubungan bisnis dengan Keluarga Putri Zarkia. Kabarnya Perdana Menteri Borindolah yang mengusulkan Putri Zarkia kepada Raja terdahulu untuk dinikahi Raja Jafar yang saat itu masih menjadi Pangeran. Menurut cerita Putri Zarkia adalah Putri berhati dingin, Dia tidak segan-segan menciptakan masalah untuk dapat mempunyai alasan menghukum pelayan yang tidak sehaluan dengannya.
Perdana Menteri Borindo masih ada hubungan darah dengan Raja Jafar. Konon kabarnya Dia sangat ingin menjadi Raja dan menguasai Argueda. Beberapa pemberontakan kecil di wilayah negara Argueda didanai secara diam-diam olehnya. Ambisinya untuk berkuasa sangat besar, Namun tidak mudah untuk menyingkirkannya. Harus mempunyai bukti dan dukungan yang kuat Jika tidak, Militer bisa terpecah dari yang mendukung Perdana Menteri Borindo atau yang mendukung kerajaan.
Perdana Menteri Borindo orang yang sangat licik dan licin. Setiap pergerakan yang di dalanginya, tidak pernah mengarahkan padanya. Pangeran Sera sudah lama mengawasinya dan beberapa kali bergesekan dengannya. Namun Dia belum bisa untuk melengserkannya.
"Awasi terus Dia. Sudah saatnya Kita membereskan duri dalam daging yang selama ini ada di tubuh kerajaan" Pangeran tampak begitu serius saat mengatakannya.
"Baik Kakak"
"Apakah akan terjadi kembali penyerangan terhadap Putri Yuki ?" Tanya Putri Margitha tiba-tiba. "Aku hanya merasa ini awalnya lebih sederhana daripada kelihatannya" Dia menatap kearah kami bergantian dengan pandangan bertanya.
"Apa maksudmu ?" Tanya Pangeran Sera binggung.
"Apa Kakak tidak paham, Apa yang terjadi pada Putri Yuki, bisa jadi karena salah satu dari tindakan kecemburuan seorang Putri terhadap Kakak, Jika Putri Yuki sampai meninggal, Kakak tidak akan menikah dengannya"
"Masuk akal juga" Ujar Pangeran Arana menyetujui. "Seseorang yang mengetahui kecemburuan Putri ini memanfaatkan situasi dan mempengaruhi Putri untuk menyerang Putri Yuki"
"Sudah cukup Arana, Margitha. Yuki belum pulih benar, Kalian jangan membebaninnya dengan pikiran yang berat yang akan mempengaruhi kesembuhanya"
Pangeran Arana dan Putri Margitha terdiam mendengar teguran Pangeran Sera. Pangeran Sera tampak tenang, Namun Aku merasakan Dia sangat awas dan waspada. Ketegangan terasa beberapa saat sampai Para Pelayan datang untuk mengantarkan makanan.