Win Direction

Win Direction
20



"Anak-anak kita punya teman baru" Teriakku sambil mengandeng Hazel dan mengendong Qirara dengan tanganku yang lain. Teman-temannya mengikutiku dari belakang dengan sikap malu-malu.


Terdengar seruan antusias yang datang menyambut kedatangan mereka. Kami kembali melakukan permainan bersama-sama.Mengambar, bermain petak umpet, menghias layang-layang dan Banyak keseruan lain. Aku sangat senang melihat tawa di wajah mereka. Menghapus rasa lelah yang Kualami setelah beberapa minggu larut dalam ketegangan. Tidak ada yang namanya anak Garduete atau Argueda. Semua bermain bersama.


Saat hari menjelang sore, Aku memandikan mereka semua dibantu para pelayan dan penduduk sekitar, Memakaikan mereka pakaian bersih. Memberi mereka makan. Seorang penduduk bersedia mengantarkan anak-anak dengan kereta sapi miliknya kembali ke perkemahan Argueda. Aku menaikan satu persatu anak ke dalam kereta, Ikut naik bersama mereka, menemani mereka sampai tempat tujuan. Kami bernyanyi bersama disepanjang jalan dengan Riang. Suara Kami menghiasi sepanjang jalan yang Kami lewati. Perkemahan Argueda berada diatas bukit, di tanah lapang yang ditempuh dengan jarak 20 menit dari Perkemahan Garduete. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana Anak-anak ini bisa berjalan sampai ke perkemahan Garduete. Akhirnya Kami tiba di depan perkemahan negeri Argueda. Pangeran Sera muncul dari kerumunan yang melihat kedatangan kami. Wajahnya antara cemas dan terkejut.


"Kau mencari mereka ?" selorohku ketika Pangeran Sera menghampiriku. Dua orang penjaga membantu anak-anak turun.


"Terimakasih sudah membawa mereka kembali dengan selamat Yuki" Ujar Pangeran Sera lega. Dia berbalik dan menatap ke Anak-anak yang berbaris rapi menunggu.


"Kalian membuat Kami semua cemas, Apa kalian tau itu" Ujar Pangeran Sera memarahi anak-anak dengan nada lembut.


"Maafkan Kami Pangeran" Koor anak-anak dengan nada menyesal.


"Aku tidak mau kejadian ini terulang lagi. Apa kalian mengerti"


"Yaa....." Aku sampai menutup telingaku saat anak-anak menjawab dengan suara koor panjang yang cukup kencang.


"Pangeran, Putri Yuki mengikat rambutku. Dia sangat baik." Seloroh Qirara memamerkan rambutnya.


"Jika sudah besar nanti, Aku akan menikah dengan Putri Yuki" Ujar Anak lain bangga.


"Tidak boleh, Aku yang akan menikah dengan Putri Yuki" Sahut Hazel keras. Aku tertawa melihat pertingkaian Mereka.


"Menurut Kalian, Aku cocok tidak dengan Putri Yuki" Tanya Pangeran Sera tiba-tiba. Aku terkejut dengan arah pertanyaan ini. Bapak tua yang mengantarkanku dengan kereta sapinya tampak gelisah mendengar pertanyaan Pangeran Sera.


"Cocokkk" Anak-anak seolah tidak menyadari ketegangan yang terjadi berteriak kencang menjawab pertanyaan Pangeran Sera.


"Pangeran Sera sangat tampan, dan Putri Yuki juga sangat cantik. Kalian berdua sangat cocok jika menikah" Seloroh Qirara antusias.


"Aku setuju" Sahut Hazel tak mau kalah.


"Aku juga.."


Anak-anak berebut menyetujui pendapat Qirara.


"Putri Yuki adalah tunanganku, Kami akan menikah suatu saat nanti"


"Tentu saja, Sekarang masuk tenda kalian, Para perawat membuat kue yang cukup banyak hari ini"


Aku melambaikan tangan kepada Anak-anak yang berlari dengan riang masuk ke area pengungsian. Sekarang hanya tinggal Kami bertiga.


Aku harus segera pergi. Aku tidak mau ada masalah yang tidak perlu. "Sebentar lagi malam, Aku harus segera pulang. Aku permisi dulu Pangeran"


"Apa Kau tidak mau tinggal untuk makan malam"


Aku mengelengkan kepala menyesal. Jika terlalu lama berada disini, Aku khawatir Pangeran Riana sudah datang dan langsung menyusulku kemari jika Dia tau Aku disini. Aku memang tidak mengatakan apapun pada Pelayan atau Penjaga bahwa Aku sendiri yang mengantarkan anak-anak Argueda kembali ke perkemahannya.


"Maaf Pangeran Aku harus segera pergi"


Pangeran Sera mencekal tanganku. Aku terkejut akan tindakannya ini. Bapak penarik kereta sampai turun dengan sikap kebingungan.


"Pangeran Aku mohon, biarkan Aku pergi, Jika tidak nanti Pangeran Riana marah" Kataku panik saat Dia tidak mau melepaskan cekalannya.


"Yukii" Aku berbalik, terkejut saat melihat Pangeran Riana berada tak jauh dari tempatku. Dia datang seorang diri dengan mengendarai kuda.


"Pangeran Sera Aku mohon, Biarkan Aku pergi"


"Aku tidak akan membiarkanmu kembali jika hatimu sudah mengarah ke Riana" Bisik Pangeran sedih. Dia bersiul nyaring, Seekor kuda berwarna putih bersih muncul menghampiri Kami, Dalam hitungan detik Aku dinaikkan keatas kuda.


"Pangeran Sera.." Panggilku terkejut.


Para Prajurit Argueda keluar dan menghadang Pangeran Riana.


"Sera Kau ingin merebut Yuki" Teriak Pangeran Riana penuh kemarahan.


"Pangeran Riana Sera, Tolong lepaskan Aku..kembalikan Aku pada Pangeran Riana..." Aku berusaha memberontak, Namun diluar dugaan, Tenaga Pangeran Sera cukup besar. Aku tidak bisa melepaskan diri dari pelukannya. Dia memacu kudanya menjauhi Pangeran Riana.


"Pangeran Riana..." Aku menggapai-gapai kebelakang. Pangeran Riana menghadapi para Prajurit yang menahannya.


"Yukiiii..." Teriak Pangeran Riana kencang.


Pangeran Sera terus memacu kudanya, Aku sudah tidak bisa melihat lagi perkemahan para korban. Sejauh mata memandang hanya hutan dan hutan. "Pangeran Sera tolong berhentilah...kembalikan Aku pada Pangeran Riana...Pangeran Sera.." Panggilku mencoba pengertiannya. Pangeran Sera sama sekali tidak berhenti. Dia tetap fokus memacu kudanya kencang. Tubuhku terlonjak-lonjak diatas kuda. "Pangeran Sera.." Kataku mulai kesal karena Dia tidak mengubriskanku. Aku memegang lengannya dan langsung mengigitnya sekuat tenaga.