Win Direction

Win Direction
23



Aku ingin bergerak, Namun Aku takut akan membangunkan Pangeran Sera. Aku menatap Pangeran Sera dari dekat. Bulu matanya panjang dan lentik, hidungnya mancung sempurna dengan bibir yang halus dan tipis. Aku memberanikan diri menyentuh wajahnya.


Bagaimana bisa ada Orang sesempurna ini ?.


Pangeran Sera bergerak sedikit. Dia kembali memelukku mendekatinya. Aku bisa mendengar debaran jantungnya.


Apa yang harus kulakukan padamu ?


Kapal terus melaju, Terdengar kesibukan diluar sana. Para awak kapal bekerja agar kapal lebih cepat sampai dari waktu yang diperkirakan.


Mesin bergetar dibawahku, Gerodak suara roda dari gerobak yang didorong dari kejauhan. Bunyi langkah kaki hilir mudik, hilang timbul, terdengar sampai alam bawah sadarku.


Aku meringkuk, berusaha memejamkan mata. Perlahan suara-suara itu mulai menghilang. Aku menghela, terlelap dalam tidurku.


Aku berdiri seorang diri di geladak kapal yang cukup tersembunyi dari cahaya matahari, yang sinarnya seolah dapat membakar kulit. Aku mengelung rambutku, namun beberapa jatuh karena tertiup angin. Udara terasa pengap. Mungkin akan ada hujan deras. Angin cukup membantu mengurangi rasa panas yang cukup menganggu.


Sari buah yang kubawa di gelas sudah mulai mencair, Aku mengoyangkan di tangan, terdengar dentingan saat sendok didalamnya terbentur gelas.


Beberapa awak tampak mengobrol di bawah, mereka duduk bersandar sembari menikmati keindahan laut sepertiku. Sesekali terdengar tawa dari arah mereka. Entah apa yang mereka obrolkan, Tapi Mereka yg tampak sangat menikmati waktu bersantai yang ada. Aku mengusap keringat yang mengalir di dahi. Panas.


"Apa, Menghilang ?" Aku mendengar suara Pangeran Sera dari ruangan bawah. Dia setiap hari mengadakan rapat kerajaan.


"Kami mengejar rombongan Pangeran Riana sampai ke hutan Yorsalam. Tapi ditengah perjalanan mereka berpencar dan Pangeran Riana tidak diketemukan dirombongan manapun" Jelas seseorang. Aku menduga itu adalah Panglima yang kulihat menuruni tangga saat Aku baru sampai geladak ini.


Aku merasakan ketegangan dalam ruang rapat.


"Perketat penjagaan di semua wilayah, Jangan biarkan Dia memasuki negara ini apapun yang terjadi" Tegas Pangeran.


"Baik pangeran"


Sedikit lega saat mengetahui bahwa Pangeran Riana masih baik-baik saja.


Sudah beberapa hari Aku disini, Aku sudah bertanya kesana kemari mengenai kejadian di pengungsian. Tapi tidak ada yang memberitahuku Semuanya bungkam. Membuatku frustasi.


Aku tidak ada niat menguping pembicaraan Pangeran Sera. Aku hanya kebetulan berada disini karena tempatnya lebih terlindungi untuk melihat pemandangan. Mengetahui Pangeran Riana baik-baik saja adalah sebuah keberuntungan untuk diriku sendiri. Kini Aku bisa bernafas lega mendengarnya.


Jika terjadi sesuatu padanya, kerajaan akan hancur karena kehilangan penerus tahtah yang ditunjuk dewa. Banyak orang akan jadi korban. Aku mengetahui hal itu dari buku-buku kerajaan yang kubaca di ruang belajar.


"Kau disini" Aku berbalik dan mendapati Pangeran Sera berjalan menuju arahku.


"Pemandangan disini cukup indah" Aku bersandar di pagar.


Pangeran Sera berdiri disampingku. "Pemandangan yang indah" Ujar Pangeran membenarkan, Dia menatap laut luas didepannya.


"Tadi para pelayan mengatakan sebentar lagi Kita akan tiba di ibukota, Makanya Aku kemari" Aku berusaha menjelaskan kepada Pangeran kenapa Aku berada disini sekarang ini. Aku tidak ingin Dia salah paham dan mengira Aku menguping pembicaraannya di lantai bawah.


Pangeran tiba-tiba berbalik menatapku. Mata kami bertemu. Aku langsung memalingkan wajahku, merasa malu karena telah terpergok memperhatikannya.


"Ada apa ?" Tanya Pangeran pelan.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Kenapa wajahmu merah seperti itu"


"Tidak.." sanggahku dengan koor panjang.


Pangeran Sera tertawa kecil. "Sepertinya Aku pandai membuat calon istriku ini salah tingkah"


Aku diam. Tidak membantahnya.


Pangeran Sera menarikku ke pelukannya. Dia memelukku mesra.


"Aku masih tidak percaya, Aku bisa membawamu pada akhirnya. Yuki, Percayalah Aku akan membuatmu bahagia. Aku janji itu"


"Pangeran.."


Aku diam. Tidak mampu berkata apa-apa lagi.


Terdengar sorak-sorak kegembiraan dari kabin bawah. Aku melongok keheranan. Para pelayan dan prajurit keluar, wajah mereka penuh senyuman.


Apa yang terjadi ?


"Pangeran, Putri Yuki. Sebentar lagi Ibu kota akan terlihat"


Seorang prajurit datang memberikan kabar. Pantas saja, Semuanya tampak begitu bersemangat.


Aku berdiri memperhatikan lautan didepanku. Tidak ada apapun disana. Kapal terus melaju. Sementara itu burung camar melayang tinggi diatas kepala, memandakan Kami mendekati pantai.


Aku terus menunggu dengan jantung berdebar. Aku tidak percaya telah sampai disini. Argueda. Pada Akhirnya Aku akan menginjakan kaki disana. Seperti apa negeri itu. Apakah berbeda dengan negeri Garduete. Berbagai pertanyaan terus berkecamuk dalam benakku. Aku sama sekali tidak mengerti seperti apa negeri Arguede itu. Aku juga tidak pernah membayangkan akan menginjakan kaki disana.


Setitik hitam muncul dari kelautan. Sorak-sorak semakin membahana. Aku memicingkan mata, untuk melihat lebih jelas. Kapal melaju dengan kecepatan penuh. Perlahan tapi pasti titik itu berubah memanjang, semakin lama tampak daratan membentang di ujung mata memandang. Pegunungan terlihat menjulang bagaikan mahkota diatas lautan.


"Selamat datang di negeri Arguede Yuki" Bisik Pangeran Sera ditelingaku. Dia memelukku lembut dari belakang.


Bangunan-bangunan mulai terlihat. Terdengar genderang yang nyaring dibunyikan dari kejauhan. Kapal memperlambat kecepatan, mengikuti arus air, perlahan mulai merapat ke dermaga.


Sorak-sorak terdengar semakin keras. Membahana sampai ke langit