Win Direction

Win Direction
49



Pangeran menarikku keatas kuda. Aku duduk dengan kedua kakiku berada di kedua sisi kuda. Pangeran menarik tali kengkang.


"Kita akan melalui perjalanan yang sangat jauh dan panjang. Tidak ada waktu untuk beristirahat sampai kita tiba di perbatasan. Persiapkan dirimu kalian" Perintah Pangeran Riana memberikan intruksi.


"Bagaimana Yuki ?" Tanya Bangsawan Voldermon yang berada di samping kami. "Apakah Kau siap untuk pulang ?"


Pulang...


Aku merasa ini adalah kata-kata paling indah yang pernah kudengar akhir-akhir ini. Aku menganggukan kepala penuh semangat.


"Jangan sampai Kau sakit" Ujar Bangsawan Voldermon terkekeh.


Pangeran Riana memacu kudanya. Kami melesat pergi menembus pepohonan. Meninggalkan matahari dibelakang kami. Matahari yang selalu menghangatkan....


Rombongan Kami terus berlari tanpa henti. Kami sama sekali tidak saling berbicara sepanjang jalan. Fokus pada tujuan kami untuk pulang. Aku terkejut ternyata selama ini Pangeran Riana sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Kami hanya berhenti di pos-pos yang telah dipersiapkan untuk buang air, mengisi perbekalan dan menganti kuda. Makan dan minum Kami lakukan diatas kuda. Siang dan malam terus berganti. Perhitunganku Akan waktu jadi sangat kacau. Aku tidak tau berapa lama Kami terus berjalan, berapa pos susah kami lalui. yang Aku tau Kami hanya menuju satu tujuan.


Pulang.


Ke Garduete.


Saat Kami tiba diperbatasan, Kami baru bisa beristirahat sejenak di istana kecil milik Garduete. Aku membasuh wajahku. Rasanya ada debu setebal 10 cm menempel disana. Dua orang pelayan membantuku mandi dan membersihkan diri. Badanku terasa remuk redam. Tapi perjalanan Kami masih sangat jauh.


Kami kembali melaju dengan kuda, terus berjalan.


Saat Akhirnya Aku melihat ibukota, Aku merasa inilah akhirnya. Aku tidak percaya Aku bisa kembali lagi kemari.


"Setelah ini Kau jangan mengangguku beberapa saat" Seloroh Bangsawan Voldermon pada Pangeran Riana.


Terdengar lonceng yang dibunyikan dengan nada tertentu, menyambut kepulangan Kami. Seluruh Prajurit dan pelayan berbaris rapi disepanjang gerbang sampai istana. Wajah-wajah gembira menyambut Kami.


"Terimakasih, Sudah membawaku kembali" Bisikku pada Pangeran Riana dengan perasan lega.


Dua hari dua malam Aku benar-benar tidak lepas dari tempat tidur. Rasanya mataku mengajakku untuk balas dendam setelah sekian lama merasakan tidur diatas kuda yang terus berlari. Di hari ketiga Aku menemui tunangan Rena. Aku dibawa di pemakamannya. Dimana Abunya di tanam. Di bukit tinggi dengan pemandangan yang cukup indah.


"Kami berencana menikah disini. Dia adalah gadis paling manis yang pernah kutemui sebelumnya" Bisik tunangannya itu sembari melihat keujung sana. Pandangannya terasa kosong, Ada kesedihan yang berusaha disembunyikannya.


"Maafkan Aku, Aku tidak bisa menjaganya dengan baik"


"Dia tidak akan menyesalinya. Gadisku ini, Dia adalah yang terbaik"


"Ya...Dia yang terbaik yang pernah ada" Kataku mengakui.


Aku memandang nama Rena di papan nisan terpekur.


Angin bertiup lembut meniup rambutku. Aku sudah mendapatkan pengalaman yang begitu banyak dari pertualanganku kali ini, Rasanya Aku sedikit melangkah menuju kedewasaan.


"Apa yang Kau pikirkan ?" Tanya Pangeran Riana mengagetkanku. Aku berbalik dan menemukannya menatapku dalam. Begitu nyaman ketika membuka mata mendapatinya berada disisiku. Meyakinkanku bahwa ini bukanlah mimpi.


Hari sudah larut malam, Aku dan Pangeran berbaring berdua di atas tempat tidurnya. Hanya selimut yang menutupi tubuh kami dari keterlanjangan.


"Apa Aku membuat Pangeran terbangun ?"


"Kau sedang memikirkan sesuatu ?, Apa Kau menyesal kembali kemari" Pangeran tampaknya tidak berniat menjawab pertanyaanku. Ada sorot cemburu dimatanya. Aku memalingkan badanku menatapnya. Tanganku menyusuri garis-garis wajahnya dengan ujung jariku.


"Aku memikirkan pertualanganku kali ini" Bisikku mengakui. Mengunjungi Makam bangsawan Dalto,Pergi ke perbatasan untuk menolong korban bencana alam, di bawa ke Argueda dengan kapal, hampir terbunuh, kehilangan Rena dan kembali lagi ke Garduete. Aku melalui pertualangan panjang ini dan mendapatkan banyak pelajaran berharga. Selain itu Aku juga bisa melihat langsung perasaan kedua Pangeran ini padaku.


"Kau hampir kehilangan nyawa disana" Ujar Pangeran Riana mengingatkan.


"Aku dua kali kembali ke dunia ini dan sama sama nyaris kehilangan nyawa" kilahku tak setuju.


"Jadi..." Aku merasakan raut tidak suka dari Pangeran Riana.


"Jadi apa ?"


"Bagaimana Kalau kita segera menikah saja"


"Menikah" Kataku terkejut.


Pangeran menarikku mendekatinya, menahanku agar tidak menjauh. "Hubungan Kita sudah sejauh ini dan Kau tidak memikirkan pernikahan ?"


"Bukan begitu maksudku" sangahku cepat.


"Atau jangan-jangan Kau ingin menikah dengan Sera"


"Dengarkan Aku dulu"


Pangeran Diam sembari menatapku. "Aku sudah melihat perasaanmu. dan Aku juga sudah melihat perasaan Pangeran Sera. Tidak.Dengarkan Aku dulu" tolakku ketika Pangeran Riana akan membuka mulut untuk memprotes. "Beri Aku waktu untuk menemukan jawaban akan perasaan kalian berdua."


"Kau tau apapun jawabanmu tidak akan mengubah apapun" Kata Pangeran Dingin.


"Ya, Tapi setidaknya Aku sudah menemukan jawaban atas hidupku"


Pangeran diam menatapku sembari memikirkan segala ucapanku "Jadi...Apa yang Kau inginkan ?" Tanya Pangeran Riana kemudian.


"Aku ingin kembali ke duniaku. Aku butuh tempat netral untuk berpikir yang tidak ada Kau ataupun Pangeran Sera didalamnya" Pintaku berhati-hati.