When Love Comes

When Love Comes
Kedekatan Sean dan Shena



"Apa?!" pekik Hana tidak percaya, bahkan kedua matanya sudah melotot dan seperti hendak keluar dari tempatnya.


"Shena, apa-apaan ini? yang dia katakan itu, apa benar?" Hana masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Sean. Maka dari itu dia kembali bertanya pada Shena untuk memastikan.


Shena terdiam, lagi-lagi spontan dia kembali menoleh menatap Sean dengan wajah bingung, tapi laki-laki itu terlihat sangat santai dan terlihat tidak bersalah sama sekali dengan ucapannya.


"Shena, jawab aku!" Hana tidak sabaran, karena dia tidak percaya jika Shena akan mendapatkan pengganti Samuel dengan cepat. Apa lagi Sean terlihat lebih tampan dari Samuel.


Shena menutup matanya, menghela napas panjang untuk meyakinkan. "Iya, dia calon suamiku, lusa kita akan menikah. Kamu puas?!" jawabnya.


"Kamu selingkuh?!" Bukannya percaya, Hana malah menuduh kakak sepupunya itu.


"Jangan asal bicara! aku tidak seperti kamu dan pacarmu itu!" bentak Shena tidak terima dengan tuduhan Hana.


"Jika tidak selingkuh apa namanya ini? Bagaimana mungkin kamu bisa secepat ini akan menikah?"


"Bukan urusanmu! urus saja urusanmu sendiri!" kesal Shena karena Hana terlalu banyak bicara dan omong kosong.


Sean melihat ekspresi Shena yang sudah sangat lelah dan juga sedih, langsung merangkul pundaknya. "Sudahlah Shena, bicara dengannya hanya akan membuang waktu kita saja, ayok kembali ke ruangan kita dulu," kata Sean.


Shena cukup terkejut dengan perlakuan Sean yang langsung merangkul pundaknya itu, tapi dia menahannya, kemudian mengangguk pada Sean. "Ayok!" kata Shena, dan Hana tidak lagi menahannya. Dia menatap tubuh Shena dan Sean dengan tatapan yang sulit diartikan.


Setelah berjalan cukup jauh, Shena pun langsung mencoba melepaskan tangan Sean yang masih betah merangkul pundaknya itu. "Lepas!" pinta Shena.


Sean menggeleng. "Aku antar kamu ke ruangan, kamu ada di ruangan mana?" ucap Sean pelan setengah berbisik. Dia pun tidak melepaskan tangannya yang berada di pundak Shena.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Shena.


"Aku antar! karena dia ada di belakang kita, dia mungkin masih tidak percaya dengan jawabanmu, maka dari itu dia mengikuti kita untuk memastikan." Sean berbisik tepat di telinga Shena, membuat gadis itu merasa sedikit meremang.


"Apa maksudmu?" Shena mendongak menatap Sean, wajah mereka terlihat sangat dekat dengan posisi seperti itu, dan saat itu juga dari sudut matanya dia melihat Hana yang tengah berada beberapa langkah di belakang mereka.


"Ruang VIP nomor tujuh belas," jawab Shena pasrah. Lalu, dia dan Sean pun berjalan beriringan dengan tangan Sean yang masih merangkul pundak Shena dengan indah. Di mata orang biasa, itu terlihat sangat romantis.


Akan tetapi tidak untuk Sean dan Shena, sebenarnya mereka berdua merasa tidak nyaman dekat seperti itu, karena detak jantung keduanya berdegup kencang dan tubuh keduanya terasa seperti teraliri listrik. Namun, mereka masih berusaha untuk tetap terlihat normal dan terlalu gengsi untuk mengakui jika ada yang aneh dengan kedekatan itu.


Setelah sampai di pintu ruangan tujuh belas, Shena menghentikan langkahnya. "Apa kamu sungguh ingin masuk?" tanyanya pada Sean, karena laki-laki itu terlihat ingin mengikutinya sampai ke dalam.


"Kalau tidak? apa kamu mau sepupumu itu mengira kamu berbohong soal pernikahan kita?" jawab Sean santai.


"Kamu menguping pembicaraanku dengannya?"


'jika tidak menguping, bagaimana dia bisa tau?'


"Aku tidak menguping, kalian yang berbicara terlalu berisik! Sudahlah, ayok masuk!" ajak Sean, dan hendak membuka pintu ruangan itu, tapi ditahan oleh Shena.


"Tapi di dalam ada temanku," kata Shena.


"Aku tau, tapi apa yang kamu khawatirkan? kita ini dua orang yang sudah dijodohkan. Dan tidak ada hal aneh soal itu, wajar jika aku ikut denganmu atau berkumpul dengan temanmu," ucap Sean.


"Tapi kamu ... Apa kamu ...?"


"Mama adalah segalanya untukku, apa pun yang dia minta, selagi aku bisa mewujudkannya, aku tidak masalah, tapi jika kamu keberatan dengan perjodohan ini, kamu bisa bicara denganku nanti, yang jelas sekarang bukan waktu yang tepat," kata Sean, dia mengerti apa yang ingin Shena tanyakan, kemudian Sean dengan santai langsung mendorong pintu tersebut dan membawa Shena masuk.


"Shena kamu dari mana sa ...." Pertanyaan Dinar terpotong saat melihat Shena masuk ke dalam ruangan itu dengan seorang pria yang terlampau tampan dan gagah itu.


Dinar dan Chery terdiam menatap Sean, mereka benar-benar langsung terpesona oleh tubuh dan kontur wajah Sean yang sangat sempurna itu.


Melihat wajah kelaparan dari kedua sahabatnya, entah kenapa Shena mendengus, lantas mendudukkan tubuhnya di tempatnya semula dengan kesal. "Ka ... kamu kenapa belum pergi?" tanya Shena karena Sean malah duduk bersama dengannya.


BERSAMBUNG...