When Love Comes

When Love Comes
Shena Cemburu?



Mendengar itu, fokus Sean terpecah dan menoleh pada Shena yang baru dia sadari sudah menjauh beberapa langkah dari tempat semula.


Shena menghela napas berat, kemudian memaksakan senyumnya pada Samuel juga Sean. "Aku dan kedua temanku harus segera istirahat, atau nanti waktu istirahatnya akan habis, kalian teman lama mengobrol saja dulu, dah!" kata Shena dan kembali melangkahkan kakinya diikuti oleh Dinar dan Chery.


Ferry yang sejak awal berniat ingin makan bersama dengan Sean dan Shena, memilih untuk mengikuti Shena, dengan langkah lebar dia mengikuti tiga wanita itu.


"Hey tunggu!" kata Ferry membuat Shena, Chery dan Dinar menghentikan langkahnya yang sudah cukup jauh.


"Pak Ferry, ada apa?" tanya Dinar sopan.


"Apa saya boleh ikut kalian? Dari awal saya dan Sean memang ingin pergi bersama kalian, tapi dia malah bertemu dengan Bunga," jawab Ferry.


Shena melirik Dinar dan Chery lalu mengangguk, kemudian kembali melanjutkan langkahnya, karena Shena setuju maka Ferry pun mengikuti langkah mereka.


Melihat itu, Sean hendak menyusul, tapi ditahan oleh Bunga. "Kak Sean, kamu mau ke mana? Dan apa aku tidak boleh ikut kamu?" tanya Bunga dengan suara pelan, nyaris tak terdengar.


"Aku ingin menyusul mereka, kamu boleh ikut jika kamu mau ikut," kata Sean, meskipun suasana hatinya sedang tidak baik. Sean berkata dengan lembut pada Bunga.


Bunga mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku tidak pandai berbaur, kamu juga tau itu kan?" ujar Bunga dengan manja.


"Kalau begitu, kamu pergi saja bersama dengan Samuel, aku harus pergi dengan istriku dulu. Lain waktu baru kita bicara lagi, okey!" kata Sean memantapkan diri untuk mengejar Shena.


Bunga mencekal pergelangan tangan Sean. "Tapi aku ke sini untuk bertemu denganmu, apa kamu tidak merindukan adikmu ini? Kita sudah lama tidak bertemu." Bunga berucap sambil bergelayut manja pada Sean.


Samuel yang masih berdiri di sana menyaksikan itu dengan senyuman penuh arti, sedangkan Andre selaku asisten pribadi Sean cukup ikut merasakan kerumitan Sean.


Satu sisi pasti tuan-nya takut jika istrinya akan salah paham, di sisi lain, dia tau bagaimana dan siapa Bunga untuk Sean. Ini lebih rumit jika dibandingkan dengan kedatangan Rina, dan Andre lebih memilih yang datang hanyalah Rina saja dibandingkan dengan Bunga.


Setidaknya jika Rina, Sean masih sedikit acuh dan tidak menanggapi. Namun, jika Bunga?Andre mengkhawatirkan tuan dan nyonya-nya, karena entah kenapa dia sangat suka dengan hubungan mereka.


Sean bergeming sambil menatap tajam Samuel, tapi yang ditatap bertingkah acuh tak acuh seperti tidak pernah melakukan salah.


"Tapi ...."


"Kamu datang dengan Samuel, kan? Maka pergilah dengannya juga, aku ada urusan. Sampai ketemu di lain waktu," ucap Sean, dan kemudian dia melangkahkan kakinya ke arah Shena dan teman-temannya pergi tadi.


Andre menoleh pada Samuel dan Bunga, lalu membungkukkan tubuhnya sebagai tanda sopan, dan beranjak dari sana mengikuti tuan-nya.


Melihat Sean pergi mata Bunga tanpa sadar berkaca-kaca, ini kali pertamanya Sean meninggalkan dirinya di saat dia tengah bergelayut manja padanya.


Di mata Sean Bunga adalah adik kecilnya, apa pun yang Bunga minta dia pasti akan berusaha menurutinya. Namun, hari ini Sean begitu saja pergi di saat Bunga baru saja kembali.


Bunga memang selalu dianggap adik oleh Sean. Namun, sebenarnya Bunga memiliki perasaan lebih untuk Sean. Hanya saja Sean tidak pernah membalas perasaannya, dia tetap saja hanya menganggap Bunga sebagai adik.


Semua kebaikan yang Sean berikan hanyalah sebagai adik, tidak pernah lebih, dan Bunga pun menyadari itu. Namun, meskipun hanya dianggap adik, dijadikan prioritas oleh Sean, tetap membuatnya bahagia.


Akan tetapi kali ini? Bunga menatap Samuel yang juga sedang menatap kepergian Sean dengan amarah yang terpancar dari kedua matanya. "Kak Samuel ...."


"Sudahlah, tidak apa-apa, nanti kita bisa menemuinya, malam ini kebetulan papa, Clara dan yang lain akan berkunjung, kamu bisa menemuinya lagi nanti," sela Samuel.


Sebenarnya Ronald sudah akan mendatangkan Rina untuk mengusik Shena, tapi Samuel merasa jika Rina itu tidak akan terlalu berefek, karena Sean juga sedikit dingin padanya.


Maka dari itu Samuel ingin memanggil Bunga, awalnya Samuel pikir Bunga akan menolak karena dia sudah lama pergi karena kejadian beberapa tahun lalu yang membuatnya malu. Namun, siapa sangka, saat mendengar jika Sean sudah menikah Bunga setuju untuk kembali. Apalagi Samuel menjanjikan akan membantunya.


"Ayok kita pergi dan kembali nanti malam," ajak Samuel, tapi Bunga langsung menggeleng.


"Tidak, aku ingin makan siang bersama dengan Sean," ucapnya, kemudian dia berlari mengikuti Sean.


Melihat itu tentu saja Samuel tersenyum puas, seperti dugaannya, Bunga masih memendam perasaan pada Sean dan dia masih teramat posesif pada kakaknya itu. Samuel pun mengikuti langkah Bunga, meninggalkan mobil mewahnya di sana.


BERSAMBUNG...