
Setelah mengerjakan pekerjaannya, Sean kembali ke kamar. Bibirnya melengkung saat melihat Shena terlelap dengan posisi meringkuk seperti bayi, Sean berjalan mendekat ke kasur dan menyelimuti tubuh mungil Shena.
Shena yang sedang tidak enak badan, sangat gampang merasa terusik. Dia membuka matanya dan sepasang matanya yang coklat bertemu dengan mata hitam Sean.
"Kamu sudah selesai?" tanya Shena dengan suara serak khas bangun tidur. Dia menggosok-gosok matanya, kemudian duduk.
Sean hendak merapikan poni Shena yang berantakan, tapi begitu tangannya menyentuh kening Shena, dia mengerutkan kening. "Kamu masih demam, apa kamu sudah minum obat?" tanya Sean dengan raut wajah khawatir yang kentara.
Shena mengulurkan tangan menyentuh keningnya sendiri. "Pantas saja tubuhku tidak enak," gumam Shena.
"Apa kamu sudah minum obatnya?"
Shena menggeleng. "Belum, karena aku ngantuk sekali, dan langsung ketiduran," jawab Shena.
"Kamu ini bagaimana! bukankah tadi sudah aku peringatkan untuk minum obat?" kesal Sean, kemudian dia menuangkan air dari teko ke gelas, lalu mengambil plastik obat dan mengupas beberapa obat, kemudian memberikannya pada Shena.
"Cepatlah minum obat ini, dan kembali istirahat agar segera pulih!" kata Sean.
"Apakah tidak bisa hanya meminum satu obat saja?" tanya Shena, karena sebenarnya dia memang tidak begitu suka obat.
"Apa kamu tidak suka obat?"
"Siapa yang suka dengan obat? Semua orang pasti tidak menyukai obat, karena rasanya pahit," jawab Shena.
"Tapi obat dapat menyembuhkan," ujar Sean.
"Memang, tapi, obat terlalu pahit!"
"Aku akan mengambil sesuatu untukmu, agar tidak begitu terasa pahit," kata Sean, kemudian dia beranjak dan pergi.
****
Sean kembali dengan piring berisi buah-buahan dan kue, dia meletakkan piring tersebut di hadapan Shena.
"Makanlah ini dulu, baru minum obatnya."
Shena mengambil kue yang ada di piring, memakannya sedikit, kemudian dia menerima obat yang diberikan oleh Sean, dan langsung meminumnya, setelah meminum obat, Shena langsung merebahkan tubuhnya kembali.
"Kenapa kuenya tidak dihabiskan?" tanya Sean.
"Tidak mau, sudah kenyang."
Sean tersenyum sambil menyentuh kening Shena. "Sangat panas," gumam Sean, kemudian dia kembali beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.
Sementara Shena berusaha memejamkan matanya, dia benar-benar merasa sangat pusing dan tubuhnya pun sangat lemas.
Sean duduk di samping Shena, mencelupkan handuk itu ke dalam mangkuk, memerasnya, kemudian meletakkan handuk basah itu ke kening Shena.
Shena membuka matanya dan memperhatikan Sean. "Kamu tidur saja! aku hanya mengompres-mu, agar suhu tubuhmu cepat turun," kata Sean.
Shena yang merasa pusing hanya diam saja, dan kembali memejamkan matanya. Sean mengulas senyum melihat Shena yang begitu patuh seperti itu.
Sebenarnya Sean ingin mengatakan pada Shena jika dia sudah mencintainya, meskipun pernikahan mereka baru seumur jagung.
Akan tetapi, Sean takut jika Shena belum memiliki perasaan untuknya, dan itu malah akan membebankan Shena.
Sean duduk di sana cukup lama, dan dia pun sudah beberapa kali membasahi handuk yang ada di kening Shena. Suhu tubuh Shena pun kini sudah kembali normal, membuat Sean merasa sedikit lega.
Sean mengambil mangkuk yang tadi, dan membawanya keluar kamar, sedangkan handuknya masih dibiarkan berada di kening Shena.
"Tuan," panggil Andre yang kebetulan baru naik ke lantai dua.
"Ada apa?"
"Ada telepon dari nona Rina," jawab Andre.
Sean menyatukan alisnya karena bingung. "Untuk apa Rina meneleponku? Bukankah dia akan datang malam nanti?" gumam Sean yang masih dapat didengar oleh Andre.
"Saya tidak tau, Tuan. Dia mengatakan jika itu penting, dia pun menelepon di telepon rumah," sahut Andre.
"Baiklah, kamu bawa mangkuk ini ke dapur, aku akan bicara dengannya," kata Sean, Andre menerima mangkuk yang diberikan oleh Sean, lalu mereka turun ke bawah beriringan.
***
"Hallo," sapa Sean setelah memegang telepon rumah yang masih terhubung dengan Rina di sebrang sana.
[Sean, apa ini benar kamu?!] tanya Rina di sebrang sana dengan nada yang terdengar sangat khawatir.
"Ya, kenapa kamu menghubungi rumahku?" tanya Sean.
[Sean, dengarkan aku! Aku menghubungimu lewat sambungan telepon umum,] ujar Rina di sebrang sana.
"Kenapa?"
[Aku takut teleponku disadap. Sean, aku butuh bantuanmu! Dan tolong dengarkan aku, please!]
Sean terlihat bingung, tapi dia pun hanya berkata, "Katakan!"
BERSAMBUNG...