
Begitu juga dengan Shena, dia mengulas senyum melihat betapa gagah dan tampannya Sean dengan baju pengantin pria itu. Meskipun setiap hari Sean memang selalu rapi dan selalu memakai jas, tapi hari ini dia terlihat sangat berbeda dengan jas putih dengan bagian kancing berwarna hitam tersebut.
Shena menoleh menatap Sean yang masih terdiam menatapnya itu. Berharap mendapatkan pujian seperti yang dikatakan oleh karyawan tadi. Namun, tidak, Sean malah hanya diam saja dengan mata yang masih betah menelisik setiap tubuh Shena.
"Bagaimana Tuan? bukankah Nyonya terlihat sangat cantik?" tanya sang manager membuat Sean tersadar dari lamunannya dalam mengagumi kecantikan Shena.
"Sean, apa menurutmu ini cocok?" tanya Shena sedikit kesal, karena Sean masih diam saja, dia bertanya seperti seorang kekasih yang meminta pendapat pada kekasihnya. Mereka benar-benar tidak terlihat seperti sedang dijodohkan.
Sean tergagap, dia bingung harus menjawab apa, karena dia terlalu gengsi untuk mengatakan jika Shena terlihat sangat cantik dengan gaun tersebut. "Cukup pas, cukup bagus." Hanya itu yang keluar dari bibir Sean.
Jawaban dari Sean tentu saja membuat Shena tidak puas, dia merasa jika mungkin saja gaun itu tidak pantas untuknya. "Nona manager, sebaiknya ganti saja dengan gaun yang lain, carikan yang lebih bagus," kata Shena sambil mengerucutkan bibirnya.
'jika tau begini, lebih baik aku pergi fitting baju bersama Dinar dan Chery,' batin Shena kesal.
"Memangnya ada apa dengan gaun itu? kamu tidak puas? Apa ada yang kurang pas?" kata Sean.
"Tidak, gaun ini sangat indah, dan aku juga sangat menyukainya tapi ...."
"Jika kamu menyukainya, ya sudah itu saja! Lagi pula, itu pas di tubuhmu, terlihat bagus, terlihat menarik, dan terlihat seperti seorang putri," potong Sean tanpa sadar.
Hal itu tentu saja membuat Shena merasa senang, karena secara tidak langsung, Sean mengatakan jika dia pantas memakai gaun itu. "Berarti ini saja?" tanya Shena kembali dan Sean mengangguk.
"Ya, itu saja, jika semuanya dicoba, aku takut malah semuanya akan kubeli," sahut Sean santai. Namun, itu membuat manager dan karyawan butik itu tersenyum, itu berarti Sean sangat menyukai Shena, dan merasa gadis itu akan cocok dengan semua gaun.
"Yasudah kalau begitu, Nona. Bisa bantu aku melepaskannya?" kata Shena pada karyawan yang tadi membantunya memakai gaun tersebut.
"Baik," sahut karyawan tersebut dan hendak menutup tirai.
Akan tetapi, belum sempat dia menutup kembali tirai yang digunakan sebagai penutup ruangan tersebut, suara Sean tiba-tiba menginterupsi.
"Eh, tunggu!"
Shena mengernyit. "Ada apa?"
"Fo ... foto. Iya, foto! Mama memintaku untuk mengambil foto kamu pakai gaun!" seru Sean pada Shena.
Lalu, dia beralih pada karyawan butik itu sambil menyodorkan ponselnya. "Tolong fotokan kami!" kata Sean.
Lalu, Sean pun melangkahkan kakinya dan berdiri di samping Shena, kemudian karyawan itu pun mulai memotret mereka berdua.
"Kalian terlihat sangat serasi, satu set gaun pengantin ini seperti tercipta memang untuk kalian," puji sang manager itu, membuat Sean tanpa sadar mengulas senyum ke arah kamera.
***
Setelah mendapatkan baju yang pas, Sean dan Shena pun lantas pergi ke sebuah toko perhiasan terkenal. Mereka masuk ke sana, dan semua karyawan langsung membungkukkan badan saat melihat Sean.
"Hallo Tuan Kendrick, ada yang bisa kami bantu?" tanya pemilik toko perhiasan itu dengan ramah dan senyum yang menawan.
"Aku mau sepasang cincin pernikahan yang paling bagus dan indah di sini, bisa kalian tunjukkan?" kata Sean, suaranya sangat datar, tapi membuat semua orang dengan cepat langsung mengambil sepasang cincin yang sangat mahal, elegan dan mewah itu.
Sean beralih pada Shena. "Cobalah, dan cari yang mana yang kamu sukai," kata Sean dengan suara lembut.
Shena pun melepaskan genggaman tangan Sean, dan mulai mencoba memakai cincin-cincin yang diberikan pada mereka. Hingga pilihan Shena jatuh pada sepasang cincin yang sangat sederhana, tapi terlihat sangat mewah dan elegant dengan beberapa ukiran indah yang menghiasi cincin tersebut.
"Sean, aku mau yang ini." Shena menunjukkan pada Sean.
Sean menoleh dan mengambil cincin tersebut, dia pun memakai cincin pria itu dan mengangguk saat ukurannya pas di tangan. "Baiklah, kalau begitu saya ambil yang ini." Sean berkata pada pemilik toko sambil mengeluarkan blackcard dari dompetnya.
Pemilik toko itu tersenyum dengan senang sambil menerima blackcard yang Sean berikan, kemudian pergi untuk membungkus cincin tersebut. Selama menunggu, Sean melihat ponselnya yang bergetar penuh dengan panggilan dari sahabat-sahabatnya.
Sean tersenyum, mereka menghubungi Sean pasti ingin bertanya soal foto dia dan Shena yang Sean kirim pada mereka. Ya, keluar butik tadi, Sean mengirimkan foto itu pada Grace dan kedua sahabatnya itu.
Sekarang mungkin sahabatnya ingin bertanya, atau mungkin sangat terkejut karena Sean tiba-tiba sudah fitting baju pengantin, sedangkan dia tidak memberitahu apa pun pada mereka.
"Terima kasih banyak Tuan," ucap pemilik toko perhiasan tersebut sambil mengembalikan blackcard dan menyodorkan paper bag kecil pada Sean.
Sean hanya mengangguk, kemudian dia kembali menggenggam tangan Shena dan membawanya keluar dari toko tersebut. Dari mulai pemilihan baju pengantin dan cincin, baik Shena juga Sean melakukannya dengan cepat.
Sebab, kebetulan mereka memang tidak menyukai hal-hal yang membuang waktu, jika memang suka, maka mereka akan terfokus pada itu, sehingga semua berjalan cepat.
Setelah memilih baju pengantin dan cincin, Sean dan Shena langsung pergi ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan dan mendapatkan akta nikah, kemudian mereka pulang. "Mau langsung ke rumahku atau ke rumah paman dan tantemu dulu?" tanya Sean setelah mereka keluar dari kantor catatan sipil dengan akta nikah di tangan Sean.
Status Shena dan Sean kini sudah menjadi sepasang suami istri di mata hukum, karena nama keduanya sudah terdaftar. "Ke rumah tante dan paman dulu saja," kata Shena.
"Baiklah, akta nikah ini biar aku bawa saja, okey!" ujar Sean dan Shena mengangguk menyetujui. Sebelum pulang mereka sempat mampir lebih dulu ke restauran untuk makan, barulah Sean kembali mengantar Shena ke rumahnya.
***
"Istirahatlah, dan jangan pergi ke mana pun, karena besok saatnya pemberkatan, jangan buat dirimu lelah," pesan Sean sesampainya mereka di depan rumah Pram.
"Apa kamu tidak mampir dulu untuk bertemu dengan paman dan tante?" tanya Shena.
"Tidak, aku ada urusan di rumah, kamu masuk saja dan beristirahat, sampaikan juga salamku pada paman dan tante," tolak Sean.
"Baiklah," ucap Shena dan hendak memutar tubuhnya, tapi Sean kembali memanggilnya.
"Shena."
Shena kembali menundukkan kepalanya di jendela mobil agar bisa melihat wajah Sean. "Ada apa?" tanyanya.
"Apa kamu ingat kataku tadi pagi?"
Shena terdiam, dia terlihat sedang mengingat-ingat, dan setelah mengingatnya dia pun mengangguk, yang Sean tanyakan adalah ucapannya tentang jika dia sudah menjadi istrinya, maka dia tidak bisa lagi pergi dan tidak akan bisa pergi.
Sean tersenyum ketika melihat anggukan Shena. "Besok aku jemput kamu, kita pergi ke pemberkatan bersama," kata Sean, dan Shena kembali mengangguk, kemudian dia pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Pram tersebut.
BERSAMBUNG...