When Love Comes

When Love Comes
bab 46



Shena terdiam sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Sementara Sean masih betah menatap wajah cantik Shena yang terlihat imut jika sedang marah seperti itu.


Shena benar-benar wanita pertama yang membuat Sean merasa jantungnya berdesir, dan wanita pertama yang membuat Sean merasa takut kehilangan.


"Dan aku mau mulai besok kamu tidak perlu pergi bekerja lagi," kata Sean.


Shena yang semula memalingkan wajahnya, ketika mendengar itu langsung menoleh kembali pada Sean. "Sean, apa-apaan ini? Bukankah sebelumnya sudah kukatakan padamu jika aku ingin bekerja, dan aku akan bosan jika di rumah terus menerus tanpa melakukan apa pun?"


Sean tersenyum, kemudian tangannya yang kekar mengelus rambut panjang Shena dengan lembut. "Kamu bisa pergi jalan-jalan, main ke rumah paman, atau bahkan mengundang temanmu jika mau. Aku tidak masalah, yang penting kamu tidak perlu bekerja lagi," katanya.


Shena ingin protes, tapi Sean sudah membungkuk kemudian mengecup bibirnya pelan dan lembut. Hanya beberapa detik, kemudian Sean melepaskan bibir Shena.


"Lagi pula, jika kamu masih ngotot, di kantor nanti tidak akan aku ijinkan kamu untuk melakukan apa pun," ujar Sean tersenyum tipis karena Shena langsung menatapnya dengan mata bulat.


Sean sangat menyukai mata indah Shena itu, dia merasa seperti digoda, dia selalu tenggelam dengan pesona wajah dan mata indah Shena.


Sehingga Sean selalu merasa ketakutan, takut jika Shena akan pergi, takut jika wanita itu tidak memiliki perasaan padanya, dan itu membuat Sean menjadi sedikit posesif.


"Kamu berani?" tanya Shena.


"Kenapa aku tidak berani? Itu kantorku, dan kamu juga Nyonya di sana," jawab Sean dengan enteng, tidak ada lagi yang perlu dia tutupi soal WLC Corp, karena Ferry sudah membocorkannya tadi.


Shena yang semula lupa, kini teringat kembali dengan setatus Sean yang ternyata pemilik WLC Corp. "Sean, kamu benar pemilik WLC Corp?" tanyanya.


"Kamu ingin melihat buktinya? Jika kamu ingin, maka aku bisa tunjukkan."


"Sean, soal menunda kehamilan ...."


"Tidak, aku tidak setuju! Bukankah sudah kukatakan tadi?" potong Sean, dan Shena memutar bola mata malas mendengar itu.


"Yasudah, kamu istirahat dulu, aku ingin pergi ke ruang kerja. Ada yang perlu aku kerjakan," ujar Sean tersenyum.


"Jangan berpikir untuk membeli pil KB lagi, karena jika aku tau, aku akan benar-benar marah dan memberi hukuman padamu!" sambung Sean mengancam.


Shena tidak menjawab, dia hanya mendengus dengan bibir yang dimanyunkan. Namun, di mata Sean, diam Shena ada sebuah jawaban jika istrinya itu menurut.


"Anak pintar! jangan lupa untuk minum obat demam-mu!" Sean mengusap kepala Shena, setelah itu, dia menyentil kening Shena pelan, lantas melangkah keluar kamar meninggalkan sang istri yang masih kesal padanya.


"Kenapa aku selalu seperti ini jika bersamanya? Seharusnya aku paksa dia untuk setuju menunda, kan?" gumam Shena sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan kasar.


Shena menatap langit-langit kamar dengan pikiran melayang, mendengar kata-kata Sean membuatnya sedikit percaya dengan pernikahan ini. Namun, mengingat Samuel yang berselingkuh, dia meragu.


Samuel yang mencintai dirinya saja bisa berselingkuh, 'kan? Apalagi dengan Sean, yang Shena sendiri tidak tau sudah mencintainya atau belum.


Akan tetapi, mendengar ucapan laki-laki itu tadi, membuat Shena sedikit tersentuh dan percaya. Shena yang sedikit kelelahan dan sedang tidak enak badan perlahan-lahan tertidur.


BERSAMBUNG...